Cerdas dan Bijak dalam Bermuhammadiyah

Makin hari dunia pemikiran dan perkembangan situasi yang menyangkut keagamaan, kemanusiaan, kemasyarakatan, dan kebangsaan semakin beragam. Buku, pandangan, informasi, dan paham dari yang “kanan” sampai “kiri” bersebar luas secara terbuka.

Kajian, seminar, dan diskusi berbagai tema dan wacana mekar di setiap forum dan lingkungan dengan muatan paham, pemikiran, dan pandangan yang pusparagam. Demikian pula berbagai gerakan, aksi, dan organisasi-organisasi semakin bertumbuhan dengan bermacam-ragam orientasi paham, ideologi, dan kepentingan masing-masing yang boleh jadi saling berseberangan.

Media sosial juga menjadi ajang hadirnya bermacam ide, pikiran, paham, dan aspirasi secara terbuka. Arenanya seperti pasar. Banyak barang disajikan dan ditawarkan layaknya jual dan beli. Dalam dunia yang serbaterbuka dan demokratis ala pasar saat ini tidak ada yang dapat menghindar dan menjauhi, apalagi menutup diri rapat-rapat. Sikap serba-anti merupakan tindakan yang tidak membumi, sebagaimana sebaliknya sikap serba-boleh merupakan bentuk tidak bertanggungjawab.

Dalam kehidupan yang niscaya seperti itu yang diperlukan ialah daya hadap dan daya seleksi yang cerdas dan bijaksana. Bagaimana menyerap semua informasi, pengetahuan, gagasan, pemikiran, paham, dan kepentingan yang bersebaran di media dan ruang publik untuk dipahami dan diselekesi dengan tingkat kualitas yang tinggi.

Muhammadiyah secara kelembagaan dan warga Persyarikatan sebagai anggota, kader, dan pimpinan tentu saja penting untuk selektif tetapi cerdas dan berwawasan luas dalam menghadapi berbagai paham, pemikiran, gagasan, forum, buku, dan setiap wacana agar berkepribadian sekaligus berkemajuan. Berkepribadian dalam makna memiliki sepuluh sifat Muhammadiyah sehingga tidak mudah terbawa arus ke kanan maupun ke kiri. Di antara sepuluh sifat Muhammadiyah ialah: Lapang dada, luas pandangan, dengan memegang teguh ajaran Islam; Bersifat adil serta korektif ke dalam dan keluar dengan bijaksana.

Anggota, kader, dan pimpinan Muhammadiyah dalam menghadapi beragam pemikiran dan keadaan juga niscaya cerdas-berkemajuan. Tidak mudah mengikuti arus, tetapi jangan alergi pada pemikiran yang berkembang sebelum dikaji dengan seksama. Dalam mengkaji pun tidak perlu penuh ketakutan, fanatik-buta, dan apriori. Bukalah pikiran dan wawasan agar menjadi pelaku gerakan yang berkemajuan.

Sikap terbuka dengan daya seleksi yang cerdas merupakan ciri dari orang berkemajuan. Kalau berbeda pendapat atau tidak bersetuju dengan pemikiran orang lain lakukan diskusi dan wacana dialog, tidak perlu mengerahkan massa atau melakukan tindakan yang politis seperti sebagian kalangan suka melakukannya.

Kembangkan kebiasaan membaca, mengkaji/mengaji, diskusi, seminar, bedah buku, berwacana, dan berbagai kegiatan keilmuan dan tradisi iqra untuk mengembangkan tajdid sebagaimana karakter Muhammadiyah. Terbiasalah menghadapi keragaman pemikiran, tentu bagi warga Muhammadiyah dengan rujukan pemikiran Islam dan ideologi Muhammadiyah yang benar dan tidak ditafsirkan sendiri.

Asah kemampuan memahami Islam dengan bayani, burhani, dan irfani sebagaimana rujukan tarjih. Jadilah anggota, kader, dan pimpinan Muhammadiyah yang memiliki sifat ulul-albab sebagaimana dipesankan Allah dalam Al-Qur’an yang artinya: “Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal” (Qs Az-Zumar: 18). Kiai Dahlan mengkaji ayat ini, beliau sering berpesan agar orang Islam —termasuk ulama— harus berkemajuan!• (hns)

Artikel ini pernah dimuat di Majalah SM Edisi 3 Tahun 2019