Hukum Talak Tebus atau Khulu’

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

Jenazah Covid-19 Harus Diterima dan Diperlakukan dengan Baik

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Pasien yang meninggal akibat Covid-19 harus diperlakukan dengan penghormatan yang baik. Menurut Putusan Tarjih Pimpinan Pusat Muhammadiyah, pasien Covid-19 yang...

Menumbuhkan Semangat Berbagi di Tengah Wabah

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Dalam rangka membantu masyarakat yang terdampak virus Corona, Suara Muhammadiyah menyelenggarakan kegiatan berbagi sembako. Kegiatan ini ditunjukkan...

Bantu Pemerintah, Muhammadiyah Pinrang Bentuk Tim MCCC

PINRANG, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Pinrang membentuk tim Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC). Tim tersebut dibentuk dalam rangka...

Ikhtiar 35 Rumah Sakit Muhammadiyah – ‘Aisyiyah Rawat Pasien Covid-19

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Setelah hampir satu bulan melaksanakan tugas penunjukan Rumah Sakit Muhammadiyah dan Aisyiyah (RSMA) tempat perawatan pasien Covid-19, secara...

Diskusi Online 9 PCIM: Belajar Penanganan Corona dari Berbagai Negara

TAICHUNG, Suara Muhammadiyah – Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Taiwan menginisiasi web-seminar (Webinar) antar PCIM dari berbagai negara. Webinar ini digelar dalam rangka membahas penanganan...
- Advertisement -

Pertanyaan:

Kami pernah dengar bahwa dalam hukum perkawinan ada perceraian yang disebut khulu’/talak tebus. Pertanyaan kami: Mohon dijelaskan pengertiannya secara komplit! Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya khulu’? Berapa besar/harga uang tebus tersebut, apakah ada ketentuan/menurut kesepakatan antara suami dan isteri? Jika uang tebusan belum dibayar, apakah sudah jatuh talak/masih dalam hubungan suami isteri?

Ngadirin, Kokap, Kulonprogo

(disidangkan pada hari Jum’at, 12 Shafar 1436 H / 05 Des 2014 M).

Jawaban:

Saudara Ngadirin yang semoga dirahmati oleh Allah, kami mengucapkan terima kasih atas pertanyaan yang telah saudara ajukan. Berikut kami uraikan jawaban dari pertanyaan saudara.

Pengertian

Secara etimologis khulu’ berasal dari bahasa Arab yaitu khala’ayakhlu’u-khal’an yang berarti mencabut, melepaskan. Secara terminologi khulu’ dalam kitab at-Ta’rifat oleh al-Jurjawi disebutkan

1

hilangnya ikatan pernikahan dengan adanya pemberian (tebusan)

Faktor-faktor yang menyebabkan khulu’

Dalam Undang-Undang RI no 1 tahun 1974 pasal 19 disebutkan perceraian dapat terjadi karena alasan atau alasan-alasan:

  • Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabok, pemadat, penjudi dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan.
  • Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama 2 (dua) tahun berturut-turut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain di luar kemampuannya,
  • Salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5 (lima) tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung,
  • Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak yang lain,
  • Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami/istri,
  • Antara suami dan isteri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga.

Adapun dalam Kompilasi Hukum Islam pasal 116 terdapat dua point tambahan yaitu:

  • Suami melanggar taklik-talak,
  • Peralihan agama atau murtad yang menyebabkan terjadinya ketidakrukunan dalam rumah tangga.

Kadar tebusan khulu’

2

“Dari ‘Ikrimah, dari Ibnu ‘Abbas [diriwayatkan bahwa] sesungguhnya steri dari Tsabit bin Qais datang kepada Rasulullah saw, kemudian ia berkata, “Wahai Rasulullah, saya tidak mencela Tsabit bin Qais baik dalam segi akhlak maupun agamanya, akan tetapi saya membenci kekafiran sesudah masuk Islam. Rasulullah saw berkata, “Apakah engkau hendak mengembalikan kebunnya kepadanya?” Jawabnya, “Iya”. Rasulullah saw lalu berkata kepada Tsabit, “Terimalah kebun itu dan ceraikan dia satu kali”.” (HR al-Bukhari, Bab Khulu’ Wa Kaifiyatu ath-Thalak fiih, Hadits no. 5273).

Berdasarkan Hadits dari Ibnu ‘Abbas riwayat al-Bukhari di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kadar tebusan khulu’ yang diberikan oleh isteri harus sebanding dengan mahar yang diberikan suami. Namun tidak menutup kemungkinan dapat lebih besar atau lebih kecil dari maskawin yang diberikan kepada isteri selama atas dasar kerelaan suami. Sebagaimana terdapat dalam Hadits:

3

“Nabi saw bersabda, orang Islam terikat dengan perjanjian yang telah dibuatnya” [HR al-Bukhari, bab ke-15 Ajru as-Samsarah].

Kedudukan Tebusan (‘iwadh) dalam Perkawinan

Menurut Kompilasi Hukum Islam pasal 148 ayat 4 “setelah kedua belah pihak sepakat tentang besarnya iwadl atau tebusan, maka Pengadilan Agama memberikan penetapan tentang izin bagi suami untuk mengikrarkan talaknya di depan sidang Pengadilan Agama. Terhadap penetapan itu tidak dapat dilakukan upaya banding dan kasasi”.

Berdasarkan Kompilasi Hukum Islam pasal 148 ayat 4 tersebut maka dapat disimpulkan, meskipun ‘iwadl belum dibayar tetapi sudah ada keputusan tentang besarnya ‘iwadl maka sudah jatuh talak. Wallahu a’lam bish-shawab.

Rubrik Tanya Jawab Agama Diasuh Divisi Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah SM Edisi 16 Tahun 2015

- Advertisement -

More articles