BUEKA Biraeng Pangkep: Ibu-ibu Pesulap Limbah Plastik

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

Ucapan dan Harapan Berbagai Tokoh pada Milad ke-55 UMP

PURWOKERTO, Suara Muhammadiyah – Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), di 2020 ini, telah genap berusia 55 tahun sejak resmi didirikan pada 5 April 1965. Sejumlah...

Mushola Ranting Muhammadiyah Tirtonirmolo Lakukan Sosialisasi dan Salurkan Bantuan Wabah Covid-19

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah– Mushola Babul Khoir yang dikelola oleh Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Tirtonirmolo turut terlibat dalam pencegahan...

Aliansi BEM DKI: UMJ Tidak Ikut Terlibat, UHAMKA Klarifikasi Informasi yang Beredar

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Seiring dengan beredarnya kabar di media mengenai Konferensi Pers yang bertajuk “COVID-19: Lockdown, Solusi atau Politisasi,” secara tegas BEM Universitas Muhammadiyah...

7 Film tentang Muhammadiyah dan Tokohnya

Suara Muhammadiyah - Siapa tak kenal Muhammadiyah. Sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia bahkan di dunia Muhammadiyah telah dan terus...

Gerakan Ta’awun Sosial PCA Gondomanan Yogyakarta

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Gerakan ta'awun sosial Aisyiyah terus dilakukan dalam kondisi darurat wabah Korona atau Covid-19. Dalam kondisi seperti ini salah...
- Advertisement -

Banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengubah kondisi perekonomian masyarakat. Syaratnya hanya satu, jeli melihat pasar dan jeli melihat potensi yang ada. Syarat sederhana inilah yang memutus anggapan bahwa menghidupkan perekonomian masyarakat harus dimulai dengan modal dana yang cukup.

Kejelian inilah yang mendasari lahirnya kegiatan kerajinan tangan Bina Usaha Ekonomi Aisyiyah (BUEKA) Biraeng, Pangkep, Sulawesi Selatan. Yaitu kegiatan ekonomi yang dilakukan ibu-ibu rumah tangga dengan mengubah limbah plastik jadi barang bernilai ekonomis. “Keterampilan dari bahan limbah plastik nantinya dijadikan bross, tempat tissue, tas, sandal dan pernak pernik lainnya,” terang Nurfaidah Ketua BUEKA Balai Sakinah Aisyiyah (BSA) Biraeng.

Selain bahan bakunya yang mudah didapat, Nurfaidah menceritakan, dihasilkannya kerajinan dalam berbagai bentuk tersebut lebih membidik kepada pernak pernik untuk kaum perempuan. “Jadi selain dipasarkan di luar, kami pun turut membeli dan memakai berbagai hasil kerajinan yang kami buat,” ulasnya.

Dari bahan baku yang sangat murah, ibu-ibu rumah tangga yang tergabung dalam BUEKA, bisa menjual peritem hasil kerajinannya kisaran 60 ribu hingga 250 ribu rupiah. “Biasanya kami mengambil bahan bakunya dari rumah para pengepul sampah dan sebagian lagi kami mengumpulkan sendiri,” kata Nurfaidah.

Berawal dari usaha kecil-kecilan mendaur ulang sampah menjadi kerajinan tangan tersebut, kini BUEKA Biraeng melebarkan sayapnya dan mengembangkan unit usaha lain. Di antaranya, Nurhaeda menyebutkan membuat keripik kentang, keripik singkong, kerupuk berbahan umbi-umbian, dan makanan ringan lain.

Menurut Nurhaeda, keterampilan mendaur ulang sampah dan membuat makanan kecil merupakan wujud kreatifitas ibu-ibu Aisyiyah Biraeng. Keterampilan ini, digiatkan oleh 5 kelompok BSA yang masing-masing terdiri 35 orang. Sedang untuk pembinaannya, kata Haedah, masing-masing kelompok BSA memiliki jadwal pertemuan sendiri. Tapi paling sering pembinaan untuk meningkatkan keterampailan dibarengkan dengan pengajian baik yang diadakan oleh Ranting maupun Cabang. “Usai pengajian biasanya ibu-ibu langsung mengelompok-mengelompok dengan sendirinya, menyesuaikan keterampilan yang ingin diikutinya,” papar Ketua PRA Biraeng itu.• (syada/gsh)

Artikel ini pernah dimuat di Majalah SM Edisi 3 Tahun 2018

- Advertisement -
- Advertisement -

More articles