Kepribadian Muhammadiyah

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

Ucapan dan Harapan Berbagai Tokoh pada Milad ke-55 UMP

PURWOKERTO, Suara Muhammadiyah – Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), di 2020 ini, telah genap berusia 55 tahun sejak resmi didirikan pada 5 April 1965. Sejumlah...

Mushola Ranting Muhammadiyah Tirtonirmolo Lakukan Sosialisasi dan Salurkan Bantuan Wabah Covid-19

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah– Mushola Babul Khoir yang dikelola oleh Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Tirtonirmolo turut terlibat dalam pencegahan...

Aliansi BEM DKI: UMJ Tidak Ikut Terlibat, UHAMKA Klarifikasi Informasi yang Beredar

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Seiring dengan beredarnya kabar di media mengenai Konferensi Pers yang bertajuk “COVID-19: Lockdown, Solusi atau Politisasi,” secara tegas BEM Universitas Muhammadiyah...

7 Film tentang Muhammadiyah dan Tokohnya

Suara Muhammadiyah - Siapa tak kenal Muhammadiyah. Sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia bahkan di dunia Muhammadiyah telah dan terus...

Gerakan Ta’awun Sosial PCA Gondomanan Yogyakarta

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Gerakan ta'awun sosial Aisyiyah terus dilakukan dalam kondisi darurat wabah Korona atau Covid-19. Dalam kondisi seperti ini salah...
- Advertisement -

Kepribadian Muhammadiyah dirumuskan dalam muktamar ke-35 di Jakarta tahun 1962. Muktamar setengah abad ini ditutup oleh Presiden Soekarno yang menyampaikan pidato: Makin Lama Makin Cinta.

Bermula dari makalah yang disampaikan Kiai Fakih Usman dalam kursus pimpinan Muhammadiyah di Madrasah Muallimin, pada Ramadhan 1381 H/1961 M, berjudul “Apakah Muhammadiyah itu?” Terkait juga dengan situasi nasional pada sekitar tahun 1962. Sejak Dekrit 5 Juli 1959 hingga 11 Maret 1966, Indonesia memasuki masa Demokrasi Terpimpin dan Politik Nasakom.

Demokrasi Terpimpin ini ditolak oleh Partai Masyumi dan Partai Sosialis Indonesia. Penentangan ini membuat Soekarno terusik. PKI memanfaatkan kesempatan untuk membujuk pemerintah membubarkan partai penentang tersebut. Terbitlah Surat Keputusan Presiden No. 200 Tahun 1960, yang “Membubarkan Partai Politik Masjumi, termasuk bagian-bagian/tjabang-tjabang/ranting-rantingnja diseluruh wilajah Negara Republik Indonesia.”

Pembubaran ini berdampak besar. Masyumi lahir dari hasil Kongres Umat Islam di Madrasah Muallimin Yogyakarta pada 7-8 November 1945. Para tokoh Muhammadiyah banyak terlibat di partai ini. Ketika Masyumi bubar, banyak tokoh kembali aktif di Muhammadiyah. Misi, strategi, dan ritme organisasi kemasyarakatan tentu berbeda dengan partai politik.

Kembalinya para pengurus partai ke Muhammadiyah disikapi dengan penegasan jati diri Muhammadiyah sebagai payung besar bangsa dan tidak berpolitik partisan. Merespons ini, dibentuklah Tim Perumus Kepribadian yang terdiri dari Fakih Usman, Hamka, Wardan Diponingrat, Djarnawi Hadikusuma, Farid Makruf, M. Djindar Tamimy, M. Saleh Ibrahim.

Kepribadian ini menyatakan bahwa Muhammadiyah adalah gerakan Islam, dakwah amar makruf nahi munkar yang ditujukan kepada: perseorangan dan masyarakat, untuk mewujudkan masyarakat utama, adil, makmur yang diridhai Allah atau masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Selain gerakan Islam dan dakwah, Muhammadiyah juga gerakan tajdid.

Dalam upaya mencapai tujuannya, Muhammadiyah mendasarkan segala gerak dan amal usahanya atas prinsip yang tersimpul dalam Muqaddimah Anggaran Dasar. Muhammadiyah, “berpegang teguh akan ajaran-ajaran Allah dan Rasul-Nya, bergerak membangun segenap bidang dan lapangan dengan menggunakan cara serta menempuh jalan yang diridlai Allah”.

Muhammadiyah memiliki sifat-sifat yang digali dari nilai dasar, sebagai berikut: (1) Beramal dan berjuang untuk perdamaian dan kesejahteraan; (2) Memperbanyak kawan dan mengamalkan ukhuwah islamiyah; (3) Lapang dada, luas pandangan dengan memegang teguh ajaran Islam; (4) Bersifat keagamaan dan kemasyarakatan; (5) Mengindahkan segala hukum, undang-undang, peraturan serta dasar negara yang sah.

Selanjutnya, (6) Amar makruf nahi munkar dalam segala lapangan serta menjadi contoh teladan yang baik; (7) Aktif dalam perkembangan masyarakat dengan maksud ishlah dan pembangunan sesuai dengan ajaran Islam; (8) Kerjasama dengan golongan agama Islam manapun dalam usaha menyiarkan dan mengamalkan agama Islam, (9) Membantu pemerintah serta bekerjasama dengan golongan lain, sebagai pemelihara dan membangun negara, (10) Bersifat adil serta korektif ke dalam dan ke luar dengan bijaksana. (muhammad ridha basri)

- Advertisement -
- Advertisement -

More articles