30 C
Yogyakarta
Senin, September 21, 2020

Penjelasan Lengkap Mengapa Terjadi Gerhana

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -
- Advertisement -

Berita Terbaru

Pernyataan Pimpinan Pusat Muhammadiyah Tentang Penanganan Pandemi Covid-19

PERNYATAAN PERS PIMPINAN PUSAT MUHAMMADIYAH NOMOR 20/PER/I.0/H/2020 TENTANG PENANGANAN PANDEMI COVID-19

Pernyataan Pers PP Muhammadiyah: Minta Presiden Pimpin Penanganan Covid-19, Tunda RUU Ciptaker, hingga Tinjau Kembali Pilkada

Pernyataan Pers Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 20/Per/I.0/H/2020 Tentang Penanganan Pandemi Covid-19 Sudah lebih dari enam bulan, bangsa Indonesia...

Muhammadiyah: Presiden Perlu Memimpin Langsung Penanganan Covid-19

Muhammadiyah mengingatkan, dalam menangani covid-19 pemerintah harus mengutamakan penyelamatan jiwa manusia dari hal lainnya Yogyakarta, Suaramuhammadiyah.id. Ancaman pandemi Covid-19...

IMM Malang Raya bersama Dinas Tanaman Pangan Bahas Berkurangnya Lahan Produktif

Pada Selasa (15/09/2020) Pimpinan Cabang IMM (PC IMM) Malang Raya melakukan audiensi terkait permasalahan tanaman dan ketahanan pangan...

Wisuda Masa Pandemi UMSU Digelar Lima Hari, Berikut Jadwalnya

MEDAN, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) melaksanakan wisuda sarja dan magister selama lima hari (21-26/9). Wisuda yang berlangsung sebanyak...
- Advertisement -

Oleh : Oman Fathurohman SW

Gerhana dalam bahasa Arab disebut كسوف  atau خسوف . Kedua kata itu digunakan baik untuk gerhana matahari maupun gerhana bulan. Kata كسوف lebih sering digunakan untuk gerhana matahari, كسوف الشمس, sedangkan kata خسوف lebih sering digunakan untuk gerhana bulan, خسوف القمر. Dalam bahasa Inggris disebut eclipse, dan digunakan baik untuk gerhana matahari, eclipse of the sun atau solar eclipse, maupun gerhana bulan, eclipse of the moon atau lunar eclipse. Istilah Arab lebih mendekati pada pengertian atau fenomena gerhana yang sebenarnya; كسوف berarti menutupi, sedangkan خسوف berarti memasuki. كسوف الشمس menggambarkan Bulan menutupi sinar Matahari, baik sebagian maupun seluruhnya, sedangkan خسوف القمر menggambarkan Bulan memasuki bayang-bayang Bumi.

Gerhana matahari terjadi apabila Matahari dan Bulan dalam keadaan konjungsi atau di sekitar waktu konjungsi (Arab = ijtimak, iqtiran) dan pada saat itu bayang-bayang Bulan menjangkau permukaan Bumi. Gerhana bulan terjadi apabila Matahari dan Bulan dalam keadaan beroposisi atau di sekitar waktu oposisi (Arab = istiqbal) atau di sekitar Bulan purnama dan pada saat itu bayang-bayang Bumi menjangkau permukaan Bulan.

Mengapa Gerhana Terjadi?

Selain Matahari semua benda langit dalam tatasurya kita, termasuk Bumi dan Bulan, adalah benda gelap, tidak bercahaya, dan tidak tembus pandang. Semua benda langit dalam tatasurya ini mendapat cahaya dari Matahari dan ia dapat memantulkan cahaya yang diterimanya itu, sehingga kita dapat melihat Bulan dan planit lain yang termasuk dalam tatasurya kita.

Setiap benda gelap yang mendapat cahaya dari benda lain akan menimbulkan bayang-bayang pada arah yang berlawanan dengan letak sumber cahaya yang menyinarinya. Demikian halnya dengan Bumi dan Bulan. Bumi sebagai benda gelap mendapatkan cahaya yang disemburkan oleh Matahari. Bagian permukaan Bumi yang menghadap ke Matahari akan mendapatkan penyinaran dari cahaya Matahari sehingga ia nampak terang, sebaliknya permukaan Bumi lainnya yang membelakangi Matahari tidak mendapatkan penyinaran dari cahaya Matahari sehingga ia gelap. Pada arah bagian ini akan tampak adanya area gelap yang merupakan bayang-bayang Bumi.

Seperti halanya Bumi, Bulan juga demikian, Bulan yang benda gelap itu mendapatkan cahaya yang disemburkan oleh Matahari. Bagian permukaan Bulan yang menghadap ke Matahari akan mendapatkan penyinaran dari cahaya Matahari sehingga ia nampak terang, sebaliknya permukaan Bulan lainnya yang membelakangi Matahari tidak mendapatkan penyinaran dari cahaya Matahari sehingga ia gelap. Pada arah bagian ini akan tampak adanya area gelap yang merupakan bayang-bayang Bulan. Keadaan serupa tidak hanya terjadi pada Bumi dan Bulan, melainkan seluruh benda langit, selain Matahari, yang ada dalam tatasurya kita. Perhatikan gambar 1 dan 2.

1

Jika bayang-bayang suatu benda langit yang diakibatkan oleh penyinaran cahaya Matahari tersebut dapat menjangkau atau menyentuh benda langit lain maka permukaan benda langit yang tersentuh oleh bayang-bayang itu akan gelap karena cahaya Matahari yang seharusnya diterima terhalang oleh benda langit tersebut. Jika bayangbayang Bulan sampai menjangkau permukaan Bumi, maka bagian permukaan Bumi yang seharusnya tersinari oleh cahaya Matahari menjadi gelap karena cahaya Matahari terhalang oleh Bulan.

2

Di malam hari, penduduk belahan Bumi yang tidak tersinari oleh cahaya Matahari dapat melihat Bulan. Piringan Bulan yang kelihatan itu adalah permukaan Bulan yang terkena cahaya Matahari. Jadi sinar yang sampai ke mata pengamat saat itu adalah cahaya Matahari yang dipantulkan oleh permukaan Bulan. Permukaan Bulan yang tidak terkena cahaya Matahari, betapapun menghadap ke pengamat atau permukaan Bumi, tidak akan terlihat. Dalam hal ini, Bulan berada di antara Matahari dan Bumi. Demikian pula halnya jika permukaan Bulan yang menghadap ke Bumi yang seharusnya mendapat cahaya Matahari itu tertutup oleh bayang-bayang Bumi maka bagian permukaan Bulan yang terkena bayang-bayang Bumi itu tidak akan terlihat. Dalam hal ini, Bumi berada di antara Matahari dan Bulan.

3

Dua keadaan sebagaimana terlihat pada gambar 3 dan 4 di atas terjadi gerhana. Gambar 3 mengilustrasikan apa yang disebut dengan gerhana matahari, sedangkan gambar 4 mengilustrasikan apa yang disebut dengan gerhana bulan. Dengan perkataan lain, gerhana terjadi karena terhalangnya cahaya Matahari. Jika cahaya Matahari tidak bisa mencapai Bulan, keseluruhan atau sebagian, karena terhalang oleh Bumi (dengan kata lain Bulan berada dalam bayangan Bumi), maka peristiwa itu dinamakan gerhana bulan. Sedangkan jika bayangan Bulan jatuh ke permukaan Bumi (Bulan menghalangi sebagian cahaya Matahari yang menuju Bumi), maka peristiwa ini dinamakan gerhana matahari.

Uraian di atas juga menjelaskan bahwa gerhana matahari terjadi ketika posisi Bulan berada di antara Matahari dan Bumi. Keadaan ini dikenal dengan konjungsi Bulan dan Matahari atau dalam istilah Arab, ijtimak. Sebaliknya, gerhana bulan terjadi ketika posisi Bumi berada di antara Matahari dan Bulan. Keadaan ini dikenal dengan oposisi Bulan dan Matahari atau dalam istilah Arab, istiqbal.

Penjelasan lain yang kita peroleh dari uraian di atas adalah bahwa untuk terjadinya gerhana matahari, bayang-bayang Bulan harus cukup panjang sehingga menjangkau permukaan Bumi. Demikian pula halnya dengan gerhana bulan, bayang-bayang Bumi harus cukup panjang sehingga dapat menjangkau Bulan. Pada gerhana matahari, bayang-bayang Bulan menyapu permukaan Bumi, sedangkan pada gerhana bulan, Bulan memasuki atau melewati bayang-bayang Bumi.

Bayang-bayang yang ditimbulkan oleh terhalangnya cahaya Matahari oleh Bulan atau oleh Bumi ada dua macam, yaitu bayang-bayang inti (gelap), umbra dan bayang-bayang remang-remang, penumbra. Apa yang sudah diilustrasikan di atas adalah bayang-bayang inti, umbra. Bayang-bayang ini sebagaimana terlihat pada gambar di atas berbentuk kerucut karena Bulan maupun Bumi piringannya lebih kecil dari piringan Matahari. Puncak kerucut bayang-bayang umbra itu berada jauh di luar jarak Bulan – Matahari, atau di luar jarak Bumi – Matahari. Ukuran besar kecilnya atau luas sempitnya bayang-bayang inti tergantung pada besar kecilnya piringan Bumi dan Bulan dibanding dengan piringan Matahari, dan jarak antara keduanya dengan Matahari. Berbeda dengan bayang-bayang umbra, bayang-bayang penumbra  puncak kerucutnya berada di antara Bulan dan Matahari, atau berada antara Bumi dan Matahari.

4

Panjang bayang-bayang umbra rata-rata 580.000 km sementara jarak terjauh Bulan dari pusat Bumi 406.700 km dan terdekat adalah 356.400 km, jadi rata-ratanya 384.000 km. Dengan demikian panjang bayang-bayang umbra jauh melampaui Bulan, sehingga Bulan dapat masuk ke dalam bayang-bayang umbra tersebut.

Dengan demikian, Gerhana matahari maupun gerhana bulan terjadi pada posisi atau kedudukan tertentu dari tiga benda langit. Matahari, Bumi, dan Bulan. Sementara itu kedudukan tiga benda langit tersebut senantiasa berubah. Mengapa kedudukan Matahari, Bumi, dan Bulan berubah-ubah?

Semua planet dalam tatasurya kita beredar mengelilingi Matahari, demikian pula satelit beredar mengelilingi planet. Bumi sebagai salah satu planet beredar mengelilingi Matahari, bersamaan dengan Bumi mengelilingi Matahari Bulan pun beredar mengelilingi Bumi. Jadi Bulan pun ikut beredar bersama-sama Bumi mengelilingi Matahari.

Bumi beredar mengelilingi Matahari satu kali putaran selama satu tahun (365,2422 hari). Bulan mengelilingi Bumi satu kali putaran relatif terhadap suatu bintang adalah 27,3 hari. Jadi setiap 27,3 hari, Bulan akan kembali ke posisi semula di langit relatif terhadap bintang-bintang. Periode ini dinamakan periode sideris Bulan. Pada saat Bulan kembali ke posisi semula di langit, posisi Matahari telah bergeser akibat pergerakan Bumi mengelilingi Matahari. Untuk membentuk konfigurasi semula (Bumi-Bulan-Matahari), Bulan membutuhkan waktu tambahan sekitar dua hari. Bulan membutuhkan waktu 29,5305 hari untuk kembali dari satu fase ke fase yang sama (misalnya dari fase purnama kembali ke fase purnama). Periode ini dinamakan periode sinodis Bulan.

6

Dengan berubahnya kedudukan Bulan terhadap Bumi dan berubahnya kedudukan Bumi terhadap Matahari, maka kedudukan Bulan relatif terhadap Matahari pun senantiasa berubah. Kesimpulannya adalah konfigurasi Bumi-Bulan-Matahari senantiasa berubah. Perubahan konfigurasi inilah yang menyebabkan tampakan Bulan terlihat dari Bumi berubah-ubah. Perubahan tampakan Bulan inilah yang disebut dengan fase-fase Bulan (phases of the moon).

7

Diamati dari Bumi, Bulan menunjukkan fase-fase tampakan. Fase-fase ini terjadi disebabkan oleh konfigurasi Bumi-Bulan-Matahari saat itu. Saat Bulan berada diantara Bumi dan Matahari (posisi new moon), maka bagian yang tidak mendapat cahaya Matahari akan menghadap Bumi.  Saat itu kita melihat bagian Bulan yang gelap. Tidak ada pantulan cahaya Matahari pada Bulan yang dapat terlihat dari Bumi. Fase ini dinamakan fase “bulan baru” atau “bulan mati”. Dengan demikian fase “bulan baru” terjadi pada saat konjungsi (ijtimak) Matahari dan Bulan. Di saat lain, saat Bumi berada diantara Bulan dan Matahari (posisi full moon), seluruh bagian Bulan yang menerima cahaya Matahari akan menghadap Bumi dan memantulkan pantulan cahaya Matahari ke Bumi. Bulan berada di belakang Bumi. Pada saat ini Bulan tampak seperti piringan bulat. Fase ini dinamakan fase “bulan purnama”. Jadi fase bulan purnama terjadi pada saat posisi Bulan dan Matahari dalam keadaan oposisi (istiqbal). Fase-fase lainnya adalah saat bagian Bulan yang menghadap ke Bumi sebagian menerima cahaya dari Matahari dan sebagian lagi tidak. Hal ini terlihat pada posisi “bulan sabit” (waxing crescent) setelah Bulan mengalami bulan baru, kemudian posisi perempatan pertama (first quarter), posisi gibbous pertama (waxing gibbous)  jelang bulan purnama, berikutnya posisi gibbous akhir (waning gibbous) setelah bulan purnama, lalu diikuti dengan posisi perempatan akhir (last quarter) dan berikutnya posisi bulan sabit akhir (waning crescent) menjelang bulan baru.

Perlu dicatat bahwa bagian permukaan Bulan yang sama selalu menghadap ke Bumi. Hal ini terjadi karena rotasi Bulan pada porosnya memakan waktu yang sama dengan waktu beredar Bulan mengelilingi Bumi. Dengan demikian kita selalu melihat permukaan Bulan yang tetap, hanya fase-fasenya saja yang berbeda-beda.

Telah disinggung di atas bahwa gerhana terjadi pada saat Bulan dan Matahari dalam keadaan konjungsi atau dalam keadaan oposisi. Gerhana matahari terjadi pada saat atau sekitar waktu Bulan dan Matahari sedang konjungsi, sementara gerhana bulan terjadi pada saat atau sekitar waktu Bulan dan Matahari sedang oposisi. Apakah setiap Bulan dan Matahari konjungsi terjadi gerhana matahari dan setiap keduanya oposisi terjadi gerhana bulan?

8

Tidak setiap Bulan dan Matahari konjungsi terjadi gerhana matahari dan tidak setiap Bulan dan Matahari oposisi terjadi gerhana bulan. Saat Bulan dan Matahari konjungsi pada umumnya tidak menimbulkan gerhana matahari dan pada saat oposisi pada umumnya tidak menimbulkan gerhana bulan. Mengapa demikian?

Bulan beredar mgelilingi Bumi pada lintasan (orbit) berbentuk hampir lingkaran (bukan bentuk lingkaran). Bidang lintasan Bulan itu membentuk sudut sebesar 5,2 derajat dengan bidang edar Bumi mengelilingi Matahari (ekliptika). Lintasan Bulan mengelilingi Bumi berpotongan dengan lintasan Bumi mengelilingi Matahari pada dua titik, titik ini disebut titik simpul atau titik nodal, yaitu titik simpul naik (ascending node) dan titik simpul turun (descending node). Titik potong dimana Bulan bergerak dari sebelah selatan ke utara ekliptika dinamakan titik simpul naik (ascending node). Sedangkan titik potong dimana Bulan bergerak dari sebelah utara ke selatan ekliptika dinamakan titik simpul turun (descending node). Garis yang menghubungkan kedua titik potong ini dinamakan garis nodal.

Dengan kemiringan bidang lintasan Bulan sebesar 5,2 derajat terhadap bidang ekliptika, maka Bulan dapat berada di atas atau di bawah daerah bayang-bayang Bumi saat bulan purnama, yakni posisi Matahari-Bumi-Bulan (saat oposisi). Demikian pula halnya dengan Bumi dapat berada di atas atau di bawah bayang-bayang Bulan saat Bulan baru, yakni posisi Matahari-Bulan-Bumi (saat konjungsi).

Perlu diketahui bahwa saat konjungsi tidak harus Matahari-Bulan-Bumi berada pada satu garis nodal. Apa yang dikatakan dengan konjungsi Matahari dan Bulan adalah pada saat Bumi dan Bulan, atau bila dilihat dari Bumi, Matahari dan Bulan, berada pada satu bidang kutub ekliptika yang sama, yakni bidang yang berpotongan tegak lurus dengan bidang ekliptika. Dengan demikian konjungsi dapat terjadi pada saat Bulan dan Bumi berada jauh dari titik simpul. Demikian pula halnya, oposisi tidak harus Matahari-Bumi-Bulan berada pada satu garis nodal. Apa yang dikatakan dengan oposisi Matahari dan Bulan adalah pada saat Bumi dan Bulan, atau bila dilihat dari Bumi, Matahari dan Bulan, berada pada satu bidang kutub ekliptika yang sama. Bedanya dengan konjungsi, pada keadaan oposisi Matahari dan Bulan letaknya berlawanan arah.

9

Hal itulah yang menyebabkan tidak setiap saat konjungsi terjadi gerhana matahari dan tidak setiap oposisi terjadi gerhana Bulan. Bila garis nodal berada segaris dengan Matahari, maka terjadilah gerhana. Hal ini disebabkan oleh kedudukan Bulan yang dapat menghalangi cahaya Matahari ke Bumi saat Bulan tersebut berada di antara Bumi dan Matahari. Sementara itu pada  saat kedudukan Bumi berada di antara Bulan dan Matahari, atau posisi Matahari-Bumi-Bulan, cahaya Matahari ke Bulan terhalang oleh Bumi. Kedua keadaan ini menyebabkan gerhana matahari dan gerhana bulan.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa untuk terjadinya gerhana diperlukan tiga syarat untuk terjadinya gerhana. Ketiga syarat ini harus terpenuhi seluruhnya secara kumulatif:

  1. Bayang-bayang harus lebih panjang dari jarak Bulan ke Bumi.
  2. Bulan harus berada di titik simpul, atau dalam jarak tertentu dari titik simpul tersebut.
  3. Bulan dan Matahari harus dalam posisi konjungsi atau dalam posisi oposisi.

Kurang lebih tujuh kali dalam setahun Bulan dapat berada di dalam daerah bayang-bayang Bumi atau Bumi berada dalam daerah bayang-bayang Bulan. Oleh karena itu paling banyak tujuh kali dalam setahun dapat terjadi gerhana bulan dan matahari. Paling sedikit terjadi dua kali gerhana dalam satu tahun.

Gerhana Matahari

Gerhana matahari terjadi apabila Bulan menutupi piringan Matahari baik seluruhnya maupun sebagian, sehingga sebagian tempat di permukaan Bumi tidak memperoleh cahaya Matahari. Gerhana matahari ini tentunya terjadi pada siang hari dan pada fase bulan baru (new moon). Gerhana matahari hanya dapat terlihat dari daerah yang terbatas di permukaan Bumi.

Ada dua keadaan yang harus dibedakan pada saat terjadi gerhana matahari, yaitu pertama, kerucut bayang-bayang inti (umbra) Bulan mengenai permukaan Bumi maka terjadilah gerhana matahari total atau gerhana matahari sempurna (Inggris = total eclipse of the sun, Arab =    الكسوف الكلّي)  untuk daerah yang terkena kerucut bayang-bayang inti Bulan tersebut. Keadaan demikian terjadi apabila kerucut bayang-bayang inti Bulan sama atau lebih panjang daripada jarak antara Bulan dan permukaan Bumi. Kedua, kerucut bayang-bayang inti Bulan lebih pendek daripada jarak antara Bulan dan permukaan Bumi, bayang-bayang kerucut Bulan tidak sampai ke permukaan Bumi. Dalam keadaan demikian, maka akan terjadi gerhana matahari cincin (Inggris = annular eclipse of the sun, Arab = الكسوف الحلقي).

Pada gerhana matahari total, seluruh piringan Matahari tertutup oleh piringan Bulan, sedangkan pada gerhana cincin tidak seluruh piringan Matahari tertutup piringan Bulan melainkan bagian tepi piringan Matahari masih terlihat. Dengan perkataan lain, pada gerhana matahari total piringan Bulan terlihat sama atau lebih besar daripada piringan Matahari, sedangkan pada gerhana matahari cincin piringan Bulan terlihat lebih kecil daripada piringan Matahari. Hal demikian dapat terjadi karena jarak Bumi ke Bulan tidak selalu sama tetapi berubah-ubah. Jadi panjang kerucut bayang-bayang inti juga bervariasi sesuai dengan perubahan jarak Bumi ke Bulan. Hal ini pula yang dapat mengakibatkan luas daerah gerhana pada permukaan Bumi bervariasi. Lebar daerah gerhana matahari total yang disapu oleh bayang-bayang inti Bulan dapat mencapai 300 km. Di luar sekitar kerucut bayang-bayang Bulan akan terkena bayang-bayang semu (penumbral) Bulan sehingga di daerah itu akan mengalami gerhana matahari sebagian (Inggris = partial eclipse of the sun, Arab =  الكسوف البعضي) bagi daerah tersebut.

Dengan demikian, terdapat tiga macam gerhana matahari, yaitu:

  1. Gerhana matahari total, total eclipse of the sun, الكسوف الكلّي.
  2. Gerhana matahari cincin, annual eclipse of the sun, الكسوف الحلقي.
  3. Gerhana matahari sebagian, partial eclipse of the sun, الكسوف البعضي.

Gambar geometrik dari ketiga macam gerhana matahari tersebut dapat dilihat berikut:

1011

Pada gerhana matahari total yang dapat berlangsung sampai tujuh menit, kita dapat melihat suatu fenomena alam yang indah yaitu korona Matahari. Kurang lebih 15 menit sebelum gerhana matahari total terjadi, alam sekitar pada saat itu menjadi gelap dan temperatur menurun. Berbeda dengan gerhana bulan, mengamati gerhana matahari haruslah hati-hati. Pada gerhana matahari sebagian atau cincin, walaupun agak redup, cahaya matahari sebenarnya masih cukup kuat dan masih berbahaya bagi mata telanjang. Kita dapat melihatnya dengan bantuan penyaring cahaya. Perlu diperhatikan saat gerhana matahari total berlangsung, kita memang dapat melihatnya dengan mata telanjang karena seluruh cahaya Matahari terhalang oleh piringan Bulan.

Namun saat gerhana matahari total belum terjadi atau telah selesai, cahaya Matahari yang keluar dari sisi piringan Bulan sangat berbahaya bagi mata kita yang melihat langsung. Keadaan yang paling berbahaya bagi mata kita adalah saat gerhana matahari total selesai, mata kita yang tadinya dalam kegelapan tiba-tiba langsung terkena cahaya yang kuat sehingga dapat membakar retina dan mungkin membutakan mata. Untuk itulah mata kita perlu dilengkapi dengan suatu penyaring (filter) cahaya sebagai peredam kuatnya cahaya Matahari.

Sekitar satu sampai satu setengah jam sebelum gerhana matahari total terjadi, Bulan mulai mengahalangi cahaya Matahari dan setelah gerhana matahari total berlangsung, cahaya Matahari mulai tampak lagi. Namun kejadian ini hanya dapat dilihat dengan menggunakan penyaring cahaya, atau dengan melihat proyeksi Matahari yang keluar dari alat teropong pada suatu lembaran kertas misalnya.

Gerhana Bulan

Gerhana bulan terjadi apabila Bulan memasuki kerucut bayang-bayang Bumi. Gerhana bulan ini tentu terjadi pada malam hari saat Bulan berada pada fase purnama. Dengan penjelasan lain, gerhana bulan terjadi bila Bulan sedang beroposisi dengan Matahari. Tetapi karena kemiringan bidang orbit Bulan terhadap bidang ekliptika, maka tidak setiap oposisi Bulan dengan Matahari akan mengakibatkan terjadinya gerhana bulan. Perpotongan bidang orbit Bulan dengan bidang ekliptika pada 2 buah titik potong yang disebut node, yaitu titik di mana Bulan memotong bidang ekliptika. Gerhana bulan ini akan terjadi saat Bulan beroposisi pada node tersebut. Bulan membutuhkan waktu 29,53 hari untuk bergerak dari satu titik oposisi ke titik oposisi lainnya.

Daerah di permukaan Bumi yang dapat menyaksikan gerhana bulan ini meliputi daerah yang sangat luas. Seluruh bagian malam atau separoh Bumi dapat melihat gerhana bulan. Karena itu orang jarang mencatat data mengenai gerhana bulan. Gerhana bulan dapat dilihat dengan mata telanjang. Karena cahaya Bulan sebenarnya pantulan cahaya Matahari, sehingga tidak sekuat cahaya Matahari itu sendiri.

Dua keadaan yang terjadi pada gerhana Matahari, dengan kondisi yang  hampir sama, terjadi juga pada gerhana bulan, yaitu pertama seluruh piringan Bulan memasuki bayang-bayang kerucut inti (umbra) Bumi, sehingga terjadilah gerhana bulan total (Inggris = total eclipse of the moon, Arab = الخسف الكلّي) yang dapat berlangsung lebih dari satu jam. Kedua, hanya sebagian piringan Bulan saja yang memasuki bayang-bayang kerucut inti Bumi, sehingga terjadilah gerhana bulan sebagian (Inggris = partial eclipse of the moon, Arab = الخسوف البعضي). Pada kondisi yang ketiga, piringan Bulan hanya memasuki bayang-bayang semu (penumbra) Bumi, sehingga terjadilah gerhana bulan semu atau gerhana bulan penumbra (Inggris = penumbral eclipse of the moon). Kondisi ketiga ini pun masih dapat dibedakan, yaitu pertama bila seluruh piringan Bulan memasuki bayang-bayang semu Bumi, gerhana bulan penumbral total. Kedua bila hanya sebagian piringan Bulan saja yang memasuki bayang-bayang semu Bumi, gerhana bulan penumbral sebagian. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat gambar berikut:

12

Dengan memperhatikan gambar di atas, keadaan saat fase puncak gerhana, gerhana bulan dapat dibedakan menjadi:

  1. Gerhana Bulan Total

Jika saat fase gerhana maksimum gerhana, keseluruhan piringan Bulan masuk ke dalam bayang-bayang inti Bumi (posisi 2), maka gerhana tersebut dinamakan gerhana bulan total. Gerhana bulan total ini maksimum durasinya bisa mencapai lebih dari 1 jam 47 menit.

  1. Gerhana Bulan Sebagian

Jika hanya sebagian Bulan saja yang masuk ke daerah bayang-bayang inti Bumi, dan sebagian lagi berada dalam bayang-bayang semu Bumi pada saat fase maksimumnya (posisi 3), maka gerhana tersebut dinamakan gerhana bulan sebagian.

  1. Gerhana Bulan Penumbral Total

Gerhana bulan Penumbral Total ini, seluruh piringan Bulan masuk ke dalam bayang-bayang semu Bumi pada saat fase maksimumnya (posisi 1). Tetapi tidak ada bagian Bulan yang masuk ke bayang-bayang inti Bumi. Pada kondisi seperti ini, gerhana bulannya dinamakan gerhana bulan penumbral total.

  1. Gerhana Bulan Penumbral Sebagian

Gerhana bulan jenis terakhir, jika hanya sebagian saja dari piringan Bulan yang memasuki bayang-bayang semu Bumi (posisi 4), maka gerhana bulan tersebut dinamakan gerhana bulan penumbral sebagian.

Gerhana bulan penumbral biasanya tidak terlalu menarik bagi pengamat. Karena pada gerhana bulan jenis ini, tampakan gerhana hampir-hampir tidak bisa dibedakan dengan saat bulan purnama biasa.

Momen terjadinya gerhana Bulan diurut berdasarkan urutan terjadinya:

  1. Kontak pertama penumbra (P1), yaitu saat piringan Bulan bersinggungan luar dengan bayang-bayang semu (penumbra) Bumi. P1 menandai dimulainya gerhana bulan secara keseluruhan.
  2. Kontak kedua penumbra (P2), yaitu saat piringan Bulan bersinggungan dalam dengan bayang-bayang semu (penumbra) Bumi. Saat P2 terjadi, seluruh piringan Bulan berada di dalam piringan penumbra
  3. Kontak pertama umbra (U1), yaitu saat piringan Bulan bersinggungan luar dengan bayang-bayang inti (umbra) Bumi.
  4. Kontak kedua umbra (U2), yaitu saat piringan Bulan bersinggungan dalam dengan bayang-bayang inti (umbra) Bumi. U2 ini menandai dimulainya fase total dari gerhana bulan.
  5. Puncak Gerhana. Puncak gerhana adalah saat jarak pusat piringan Bulan dengan pusat bayang-bayang inti/semu (umbra/penumbra) mencapai minimum.
  6. Kontak ketiga umbra (U3), yaitu saat piringan Bulan kembali bersinggungan dalam dengan bayang-bayang inti (umbra) Bumi, ketika piringan Bulan tepat mulai akan meninggalkan bayang-bayang inti (umbra) Bumi. U3 ini menandai berakhirnya fase total dari gerhana bulan.
  7. Kontak keempat umbra (U4), yaitu saat piringan Bulan kembali bersinggungan luar dengan bayang-bayang inti (umbra) Bumi.
  8. Kontak ketiga penumbra (P3), yaitu saat piringan Bulan kembali bersinggungan dalam dengan bayang-bayang semu (penumbra) Bumi. P3 adalah kebalikan dari P2.
  9. Kontak keempat penumbra (P4), yaitu saat piringan Bulan kembali bersinggungan luar dengan bayang-bayang semu (penumbra) Bumi. P4 adalah kebalikan dari P1, dan menandai berakhirnya peristiwa gerhana bulan secara keseluruhan.

Berdasarkan waktu-waktu kontak ini, peristiwa gerhana bulan melalui fase-fase:

  • fase gerhana penumbral: selang antara P1-U1, dan antara U4-P4
  • fase gerhana umbral: selang antara U1-U4
  • fase total: selang antara U2-U3

Tidak keseluruhan kontak dan fase akan terjadi saat gerhana bulan. Jenis gerhana bulan menentukan kontak-kontak dan fase gerhana mana saja yang akan terjadi. Misalnya saat gerhana bulan total, keseluruhan kontak dan fase akan dilalui. Untuk gerhana bulan sebagian, karena tidak keseluruhan Bulan masuk dalam umbra Bumi, maka U2 dan U3 tidak akan terjadi, sehingga fase total tidak akan diamati. Untuk gerhana penumbral total, karena Bulan tidak menyentuh umbra Bumi, maka U1, U2, U3, dan U4 tidak akan terjadi, karena itu fase gerhana umbral tidak akan diamati. Sedangkan pada gerhana penumbral sebagian, hanya P1 dan P4 saja yang akan terjadi.

Berbeda dengan gerhana matahari, pada gerhana bulan, waktu-waktu kontak dan saat terjadinya suatu fase gerhana, tidak dipengaruhi oleh lokasi pengamat. Semua pengamat yang berada di belahan Bumi yang mengalami gerhana akan mengamati waktu-waktu kontak (umbra dan penumbra) pada saat yang bersamaan.

A Siklus Gerhana

Terdapat suatu siklus untuk suatu jenis gerhana, yaitu setiap 18 tahun 10,3 hari. Siklus ini disebut dengan satu tahun gerhana, atau tahun saros. Untuk suatu tempat di permukaan Bumi, gerhana matahari total dapat terlihat setiap 360 tahun sekali. Jadi untuk suatu tempat di permukaan Bumi gerhana matahari total merupakan kejadian sangat langka. Untuk melihat peristiwa ini orang tidak jarang pergi ke tempat terjadinya gerhana matahari total walaupun tempat tersebut jauh.

Frekuensi Gerhana

Dalam waktu satu tahun kamariah (354 hari) dapat terjadi 5 kali gerhana matahari dan 2 kali gerhana bulan total, atau dalam waktu 369 hari, 5 kali gerhana matahari dan 3 kali gerhana bulan. 5 kali gerhana matahari dalam satu tahun kalender memang sangat jarang,  demikian juga 4 kali gerhana matahari dalam satu tahun kalender tidak sering  terjadi, umumnya gerhana matahari terjadi tidak kurang dari 2 kali dalam satu tahun kalender. Kejadian gerhana matahari  5 kali dalam satu tahun kalender terjadi misalnya pada tahun 1935, yaitu tanggal 5 Januari, 3 Februari, 30 Juni, 30 Juli, dan 25 Desember. Gerhana matahari lebih sering terjadi daripada gerhana bulan. Meskipun demikian, orang mempunyai kesan justru sebaliknya, sebabnya adalah karena gerhana matahari hanya terlihat dari daerah yang sempit, sedang gerhana bulan dapat dilihat di daerah, di mana pada saat gerhana bulan itu bulan terlihat.

Oman Fathurohman SW, Wakil Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah

Artikel ini pernah dimuat di Majalah SM Edisi 7-9 Tahun 2015

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

More articles