24.5 C
Yogyakarta
Senin, September 21, 2020

Prof Yunahar Ilyas yang Kami Kenal

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -
- Advertisement -

Berita Terbaru

Panen Semangka Perdana Giat Tani PRM Tosaren di Masa Pandemi

MAGELANG, Suara Muhammadiyah – Ranting Muhammadiyah Tosaren Cabang Srumbung Magelang Jawa Tengah, selama masa pandemi melakukan kegiatan bertani. Lahan yang dimanfaatkan adalah...

Salurkan Sejuta Liter Air, Lazismu Kretek Bantu Warga Terdampak Kemarau

BANTUL, Suara Muhammadiyah - Ahad, 19 September 2020, PCM, PRM, dan KOKAM di Kretek yang tergabung dalam LAZISMU Kretek menyalurkan 200 tangki...

Diskusi DPD IMM Kalsel Rumuskan Banua Berkemajuan

BANJARMASIN, Suara Muhammadiyah - Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kalimantan Selatan (19/09) Menggelar Konferensi Meja Bundar (KMB) Banua Berkemajuan...

Wisuda UM Cirebon, Haedar Nashir: Beri Manfaat untuk Masyarakat

CIREBON, Suara Muhammadiyah – Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) menggelar wisuda beserta pelantikan profesi ners tahun 2019/2020 secara daring, Sabtu (19/9).

Penghijauan Langkat, Pemkot Dukung IPM Medan Tanam Ribuan Pohon

MEDAN, Suara Muhammadiyah – Pelaksana tugas (Plt) Wali Kota Medan Ir H Akhyar Nasution MSi melepas rombongan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Kota...
- Advertisement -

Oleh : Muhammad Fardan Satrio Wibowo

Beberapa hari lalu ketika saya membuka Facebook, diingatkan oleh FB tentang status-status terdahulu, dan entah mengapa saya berhenti di foto Prof. Yunahar Ilyas dan Syekh Amru Wardani dalam perjumpaan mereka berdua di Hotel al-Masah pada 17 Oktober 2016 dalm Muktamar Internasioanal Darul Ifta. Batin saya ketika itu, repost ulang ndak yaa? Ah nanti saja . Entah faktor apa yang mendorong saya untuk tidak merepost kala itu, atau kah karena saya yang suka menunda? Entahlah. Namun foto tersebut telah menemukan momentumnya sendiri.

Kita turut bersedih atas kepulangan salah satu Ketua PP Muhammadiyah dan juga Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia yang telah memberi tauladan dan kisah perjuangan bagi Agama, Bangsa, dan Persyarikatan.
Kehadiran beliau di Mesir dimanfaatkan oleh kawan-kawan PCIM Mesir untuk lebih mengenal beliau. Salah satunya mengisi seminar tentang counter terhadap pemikiran liberal yang diadakan di sekretariat PCIM Mesir.

Sisi kehidupan beliau di forum kajian, tidak diragukan lagi, terbukti dengan beberapa karya beliau seperti Kuliah Akhlaq dan Kuliah Akidah yang dijadikan sebagai buku pedoman di beberapa PTM di Indonesia. Namun menarik jika meninjau sisi luar beliau yang semoga bisa diambil ibrahnya.

Sosok Sederhana

Ketika berjumpa dengan beliau, saya mengenalkan diri bahwa pernah menjadi mujanib (Semacam Kakak pendamping) untuk putera beliau Mas Hasnan ketika di asrama 8 dahulu, atau ketika Mas Hasnan berada di kelas 3B. Begitu juga dengan menantu beliau, Mas Mufti Alam yang ternyata kita pernah satu tim sepakbola di Madrasah Muallimin Muhammadiyah ketika milad SKM.

Ada kisah menarik ketika beliau mengunjungi puteranya di asrama 8 (Belakang SMA MUGA). Setibanya beliau di asrama dan melihat halaman yang kotor penuh dedaunan, beliau langsung mengambil sapu lidi yang tergeletak di pojok pos satpam dan mulai menyapu. Oleh anak-anak yang hadir dan melihat momen tersebut berucap,”Baru lihat kak, ada Ketua PP Muhammadiyah dateng-dateng langsung nyapu asrama.”Saya langsung takjub dan mbatin ,”Lha ente bantu gantiin nyapu gak? Itulah sifat ayahanda-ayahanda Muhammadiyah”

Ketakjuban saya bertambah ketika beliau di Mesir, yang mana beliau tidak pernah mempermasalahkan makanan, penginapan, destinasi, atau siapa saja kader yang hendak bersua dengan beliau di Mesir dan menemani beliau, maka beliau membuka pintu silaturahmi selebar- lebarnya.

Sosok yang Futuristik

Ketika mengunjungi Markas Dakwah (MD) yang menjadi amanah bagi kawan-kawan Muhammadiyah di Mesir, beliau justru menyayangkan, “Kok hanya satu lantai, Mas? Saya kira satu flat milik Muhammadiyah semua.

Beliau lantas mencoba memetakan bahwa Muhammadiyah di Mesir dapat mewadahi para dosen dan cendekiawan Muhammadiyah yang sekiranya nanti mengambil short course di Mesir, bahkan beliau sudah meminta rincian biaya tinggal, makan, transportasi kalau seandainya harapan beliau benar- benar terwujud. Saat itu Mas Hendri al-Faruq yang mengetahui rincian progam yang serupa telah menyodorkan rincian biaya untuk progam semacam itu. Yang tentunya disini beliau melihat Mesir memiliki peluang yang tinggi untuk nantinya para kadernya mampu berkiprah lebih jauh di persyarikatan.

Sosok yang Fokus

Saya fikir ketika menemani beliau, kawan-kawan bisa berdiskusi perihal istidlal hukum,Majelis Tarjih, keIlmuan Islam secara menyeluruh. Namun dengan sederhananya beliau berkata,” Saat ini kita nikmati liburannya sajaa, nanti ada sendiri masanya.”

Beliau ingin agenda paska muktamar internasional Darul Ifta, murni ingin memfokuskan ke agenda rehat beliau. Karena beliau tahu sekembalinya ke tanah air, setumpuk tanggung jawab telah menanti beliau.

Darinya kami belajar bahwa: setiap orang harus mengetahui apa yang menjadi passion hidupnya, dan mengatur masanya agar tidak ada ketimpangan dalam menunaikan tanggung jawab, dan juga menikmati hidupmu sendiri.

Rahimahullah, semoga Allah tempatkan bersama orang- orang shaleh di JannahNya, serta dapat bersanding satu majelis dengan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Muhammad Fardan Satrio Wibowo, Mahasiswa Magister Jurusan Fiqh Muqaran, Al Azhar University – Cairo dan Ketua Umum PCIM Mesir 2016-2018

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

More articles