Redamlah Kemarahan dengan Diam

Ilustrasi

Kata kunci dari judul di atas ialah mengenai marah. Menurut KBBI, marah berarti sangat tidak senang (karena diperlakukan tidak semestinya). Secara umum dapat kita simpulkan bahwa marah merupakan sebuah sikap yang diputuskan sesorang untuk membalas sikap orang lain yang telah berbuat tidak pantas atau tidak disenangi.

Tentu saja sifat marah merupakan tabiat alami yang tidak mungkin luput dari dalam diri manusia. Sebab yang membedakan diciptakannya manusia dan malaikat ialah karena manusia memiliki nafsu. Disisi lain, Allah lebih memberikan kepercayaan kepada Adam karena kelak manusia lebih mampu  mengendalikan nafsunya. Meskipun terkadang, manusia cenderung ingin selalu menuruti segala keinginannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku ini hanya manusia biasa, aku bisa senang sebagaimana manusia senang, dan aku bisa marah sebagaimana manusia marah”.

Singkatnya, yang menjadi titik pembahasannya ialah bagaimana caranya agar manusia bisa mengendalikan, menahan dan minimalisir kemarahannya sendiri. Karena marah itu ibarat bara api yang hendak berkobar. Jika kebanyakan manusia memperturutkan marah-nya itu maka tidak sedikit kerusakan dan keburukan yang terjadi. Secara tidak langsung, marah dapat membuat seseorang menjadi gelap penglihatan dan hati sehingga secara tidak sadar dapat melakukan tindakan atau mengucapkan perkataan yang berakibat buruk bagi diri dan agamanya.

إِذَا غَضَبَ اَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ

“Jika di antara kalian marah maka hendaklah ia diam” (HR Imam Ahmad).

Oleh karena itu, Rasulullah mencontohkan kepada kita jika sedang atau dalam keadaan marah, maka kita diperintahan untuk diam. Hal terbaik yang harus kita lakukan ialah tidak mudah marah yaitu dengan cara diam. Diam dimaksudkan agar kita tidak mengucapkan kata-kata yang di luar kendali kita hingga kita akan menyesal kelak. Allah SwT juga berpesan kepada hamba-Nya yang bertakwa agar selalu berusaha melawan keinginan hawa nafsu yaitu mampu mengendalikan kemarahan karena Allah SwT. bahkan Allah SwT dalam firman-Nya memuji hamba-Nya dengan sifat sebagai berikut,

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Orang-orang yang bertakwa adalah mereka yang menafkahkan (harta mereka) baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” (QS Ali ‘Imran:134).

Simpulannya adalah apabila kita diperlakukan yang tidak semestinya bahkan disakiti oleh orang lain sampai-sampai menimbulkan kemarahan dalam diri dan hati kita, maka sebaiknya kita tidak melakukan sesuatu yang diinginkan oleh watak kemanusiaan pada umumnya (yaitu melampiaskan kemarahan). Namun, kita harus sekuat mungkin untuk menahan kemarahan dalam hati serta bersabar agar tidak membalas perbuatan yang sama kepada orang lain. Sungguh lebih mulia lagi jika kita mendoakan orang tersebut sehingga kita juga terhindar dari perbuatan menyakiti orang lain.

Imam Abdullah bin al-Mubarak al-Marwazi, ketika ditanya seorang sahabat tentang satu kalimat yang baik, beliau menjawab untu meninggalkan (menahan) kemarahan. Ini semua menunjukkan bahwa melampiaskan kemarahan adalah sumber segala keburukan dan menahannya adalah penghimpun segala kebaikan. Senada dengan Imam Ja’far bin Muhammad yang menjelaskan bahwa melampiaskan kemarahan adalah kunci segala keburukan.

Sebab, melampiaskan kemarahan adalah sumber segala keburukan dan menahannya akan melahirkan akhlak yang baik, seperti sifat lemah lembut, dermawan, malu, merendahkan diri, sabar, tidak menyakiti orang lain, memaafkan, ramah dan sifat-sifat baik lainnya yang akan muncul ketika seseorang berusaha menahan kemarahannya pada saat timbul sebab-sebab yang memancing kemarahannya.(rahel)