Mengajari Disiplin pada Si Kecil

Ilustrasi

Assalamu’alaikum wr wb.

Ibu Emmy yth, saya (34 tahun) ibu dari dua anak putra (9 tahun) dan putri (5 tahun). Sejak awal kelas 4 SD ini, guru anak saya sudah menginformasikan bahwa nilai kelas 4 akan ikut menentukan nilai akhir di kelas 6. Saya jadi khawatir dengan anak saya, karena menurut saya, dalam dirinya belum terlihat disiplin baik belajar maupun kebiasaan-kebiasaan yang lain, seperti masalah makan dan mandi. Kalau belum disuruh sampai berkali-kali bahkan dengan nada tinggi belum mau melakukan.

Masalah belajar, kalau tidak ditemani juga tidak belajar. Memang anak saya berada di ranking tengah, tapi sebetulnya bila ia lebih serius belajar bisa lebih maksimal nilainya. Yang ingin saya tanyakan, bagaimana cara menanamkan disiplin dan kebiasaan-kebiasaan yang baik pada anak-anak saya? Si Putri sekarang juga sudah mulai suka “ngeyel”/ membantah bila disuruh mandi misalnya.

Sebetulnya, saya tidak ingin memarahi mereka di saat menyuruh mereka melakukan kebiasaan-kebiasaan yang baik. Tolong beri kiat-kiatnya agar saya tidak menghabiskan energi karena marah ketika menghadapi anak-anak saya. Asal tahu, sehabis marah pada mereka, rasanya menyesal sekali. Apa ada dampak negatif akibat sering dimarahi. Jazakumullah atas jawabannya.

Wassalamu’alaikum wr wb.

Ibu Widi, di Bantul

Wa’alaikumsalam wr wb.

Ibu Widi yth, mendidik anak itu memang susah-susah gampang. Ada hal yang harus diingat bahwa kita sebagai orang tua yang harus menyesuaikan dan mengerti mereka dan bukan sebaliknya. Karena orangtua pernah mengalami sebagai anak, sedang mereka belum pernah menjadi orangtua. Bila ibu mengerti saya yakin kalaupun ibu marah tidak akan sampai ke hati dan yang muncul adalah kesabaran. Anak-anak seusia putra-putri ibu membutuhkan bimbingan dan contoh dari orangtuanya, terutama dalam hal disiplin atau mematuhi aturan. Artinya, jangan harap anak bisa disiplin bila orangtuanya tidak disiplin.

Berikut ini kiat-kiat yang bisa ibu lakukan untuk menanamkan disiplin:

  • Belajar mengatakan “tidak” secara tegas dengan sabar, penuh kasih sayang, berwibawa, dan tanpa nada marah. Kemampuan ini akan membantu dalam mendidik anak sehingga mereka mengetahui bahwa ada batasan dalam berbuat sesuatu.
  • Bersikap konsisten. Jika Ibu sudah mengatakan akan ada sanksinya akibat perilakunya yang tidak baik, terapkan sanksi tersebut agar anak tidak akan pernah mencoba untuk memainkan Ibu. Sikap yang tidak konsisten akan menghancurkan aturan dan disiplin.
  • Fokus pada satu atau dua target perilaku yang harus ditaati dengan baik pada waktu bersamaan. Misalnya makan harus dihabiskan, makanan tidak boleh dibuat mainan. Umumnya akan lebih efektif untuk mengajarkan anak pada satu atau dua bidang yang terfokus daripada mengajarkannya sedikit-sedikit tapi dengan berbagai macam bidang yang berbeda-beda.
  • Jangan malu untuk berlaku sabagai “bos” dalam membina hubungan dengan anak. Jika tidak, anak cenderung berbuat seenaknya seperti anak ayam kehilangan induk dan akhirnya akan berperilaku negatif.
  • Ajarkan anak berdisiplin dalam lingkungan yang penuh kasih sayang dan cinta kasih
  • Disiplin yang konsisten merupakan hal yang aman dan baik. Kepatuhan anak merupakan salah satu jaminan agar ia selamat dari bahaya.
  • Untuk langkah awal, ajarkan anak dengan cara memfokuskan mereka agar menurut pada aturan atau disiplin yang Ibu buat. Anak sudah cukup mengerti untuk mempelajari konsep ini.

Semoga kiat-kiat bisa bermanfaat bagi Ibu. Yang juga harus diketahui anak seusia putra-putri Ibu, bila pada mereka ada bandel/”ngeyel” masih wajar, karena mereka masih dalam masa perkembangan itu. Bersabar dan banyaklah istighfar untuk Ibu dan si kecil. Agar Allah mengampuni dan perilaku-perilaku buruk pada anak tidak berlanjut. Semoga anak-anak kita menjadi anak yang shalih-shalihah. Amiin.

Pengasuh rubrik ini, Emmy Wahyuni, SPsi seorang pakar psikologi

Artikel ini pernah dimuat di Majalah SM Edisi 9 Tahun 2015