24 C
Yogyakarta
Kamis, Agustus 13, 2020

Siti Zuhro: Sikap Optimis Syarat Menyongsong Masa Depan

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

Pengabdian, Dosen Manajemen UMY dan Warga Bausasran Adakan Penghijauan

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Sempitnya lahan tidak menyurutkan keinginan warga RW 11 Bausasran Kecamatan Danurejan Kota Yogyakarta untuk menghijaukan wilayahnya.

Asah Kreativitas, PMM UMM Ajari Anak-Anak Seni Kolase

BLITAR, Suara Muhammadiyah - Kelompok Pengabdian Mahasiswa untuk Masyarakat (PMM) Universitas Muhammadiyah Malang melakukan pengabidan masyarakat dengan mengajari anak-anak membuat kolase. Kegiatan...

Dosen FEB UMY Latih Jamaah Pengajian Membuat Kain Shibori

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Pengabdian masyarakat merupakan salah satu bentuk kewajiban dalam Catur Dharma Perguruan Tinggi. Disamping itu pengabdian masyarakat di era...

Semua Siswa Dapat, SMK Mutu Tegal Bagikan Perdana Plus Kuota untuk PJJ

TEGAL, Suara Muhammadiyah - Bentuk pelayanan selama diberlakukannya Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dalam masa covid 19. SMK MUTU Tegal berikan kartu perdana...

Islam, Alam, dan Tugas Manusia

Alam akan membawa manfaat dan berkah bagi manusia, manakala telah melaksanakan tugasnya terhadap alam, yakni mengembalikan alam ke jalan yang benar. Yakni...
- Advertisement -

JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Dalam bidang sosial-politik Siti Zuhro menjelaskan bahwa dinamika politik tidak pernah berjalan linier, penuh opsi kepentingan, tidak terduga dan unik. Membaca perpolitikan tanah air dibutuhkan kejelian dan kecerdikan tersendiri. “Apa yang kita prediksikan di tahun 2020 akan selalu sejalan dengan apa yang sudah terjadi di tahun 2019,” ujarnya saat menjadi narasumber Pengajian PP Muhammadiyah, Jum’at (10/1).

“Prediksi yang akan terjadi di tahun 2020 hanya ada dua kemungkinan, antara terus bergerak dan berbenah atau sebaliknya. Bersikap optimis merupakan syarat untuk menyongsong masa depan yang lebih baik walau terkadang terasa tidak mungkin dan melelahkan.”

Peneliti Senior Pusat Penelitian Politik LIPI tersebut menambahkan bahwa banyak pekerjaan rumah yang harus dibenahi terkait sosial-politik pasca pemilu 2019. Ancaman dari kompetisi dan kontestasi yang intens menyebabkan masyarakat terkotak-kotak bahkan terpecah belah. Ditambah kondisi demokrasi yang masih banyak diwarnai pelanggaran hukum, etika dan moral. Terbangunnya oligarki partai dan kongsi-kongsi yang berusaha menguasai pemerintahan demi mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya.

“Maka kita masyarakat Indonesia melalui persyarikatan Muhammadiyah harus bangkit untuk menjadi khalifah untuk mentransfer knowledge. Kita tidak boleh berpangku tangan, kita harus menjamah segala sesuatu yang tidak terjamah oleh pemerintah,” pesannya.

Perempuan kelahiran Blitar tersebut menegaskan jika pemilu hanya sebagai ajang berebut kekuasaan maka tidak ada sesuatu yang dapat diharapkan oleh rakyat kepada pemimpin yang terpilih. Syarat untuk menjadi seorang pemimpin haruslah amanah. Konsekuensi buruk akan terjadi jika seorang pemimpin tidak memiliki rasa amanah merupakan kesadaran yang harus ada.

“Partai politik harus kita pertanyakan kredibilitasnya. Dengan adanya sekian banyak partai politik apakah mempersatukan kita bangsa Indonesia? Apakah dengan adanya partai politik negara dan rakyat kecil semakin diuntungkan? Umat harus bangkit untuk mencerahkan, kita adalah cerdik cendikia yang memiliki otak cemerlang,” tutupnya.(iko)

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

More articles