29 C
Yogyakarta
Kamis, Agustus 13, 2020

Dua Karya IMM AR Fachruddin

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

Pengabdian, Dosen Manajemen UMY dan Warga Bausasran Adakan Penghijauan

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Sempitnya lahan tidak menyurutkan keinginan warga RW 11 Bausasran Kecamatan Danurejan Kota Yogyakarta untuk menghijaukan wilayahnya.

Asah Kreativitas, PMM UMM Ajari Anak-Anak Seni Kolase

BLITAR, Suara Muhammadiyah - Kelompok Pengabdian Mahasiswa untuk Masyarakat (PMM) Universitas Muhammadiyah Malang melakukan pengabidan masyarakat dengan mengajari anak-anak membuat kolase. Kegiatan...

Dosen FEB UMY Latih Jamaah Pengajian Membuat Kain Shibori

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Pengabdian masyarakat merupakan salah satu bentuk kewajiban dalam Catur Dharma Perguruan Tinggi. Disamping itu pengabdian masyarakat di era...

Semua Siswa Dapat, SMK Mutu Tegal Bagikan Perdana Plus Kuota untuk PJJ

TEGAL, Suara Muhammadiyah - Bentuk pelayanan selama diberlakukannya Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dalam masa covid 19. SMK MUTU Tegal berikan kartu perdana...

Islam, Alam, dan Tugas Manusia

Alam akan membawa manfaat dan berkah bagi manusia, manakala telah melaksanakan tugasnya terhadap alam, yakni mengembalikan alam ke jalan yang benar. Yakni...
- Advertisement -

Pada Oktober 2019 silam, Pimpinan Cabang IMM Ar. Fakhrudin Kota Yogyakarta resmi melaunching dua buah karya buku bertajuk “Suluh Pergerakan” dan “Suluh dari Surau”. Launching buku yang dilaksanakan di Gedung Pimpinan Pusat Aisyiah ini dirangkaikan dengan Studium General Darul Arqam Madya 2019. Apa saja yang dibahas dalam buku ini?, berikut adalah ulasannya.

Suluh Pergerakan

Buku ini hadir tepat dalam ragam persoalan kebangsaan, diantara tahun-tahun yang pelik dan penuh ujian bagi eksistensi kebangsaan. Seolah-olah penegasan akan peran aktif dalam agenda visioner, menatap tata masyarakat Indonesia di hari-hari mendatang. Susunan kalimat dalam buku ini merupakan api yang berasal dari suluh IMM, ia merupakan imajinasi baru untuk hadir dalam pergolakan sosial. Paling tidak, buku yang diterbitkan oleh penerbit Litera ini membahas persoalan IMM yang berkutat di ranah intelektual, perkaderan, keperempuanan (gender & IMMawati), keagamaan dan transformasi gerakan sosial Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah.

Pada awal tulisan, Arif Widodo menjelasakan bahwa dunia pemikiran sesungguhnya tidak pernah tumbuh dari massa banyak, namun dari kelompok kecil yang militan, gerakan Mahasiswa dalam hal ini tak dapat lepas dari gerakan keilmuan sebab hanya dengan jalan tersebut ia akan tetap subur dan tumbuh pemikiran-pemikiran yang mencerahkan (hal.7). Dalam konteks ke-IMMawatian, Sena Putri Safitri mengusulkan untuk berpindah dari pertanyaan “mengapa” menuju “bagaimana”. Ini adalah bentuk transformasi dari upaya pembenukan IMMawati yang baik. Ia berpandangan bahwa IMMawati dan perempuan harus terus berupaya untuk menjadikan dirinya terbaik dengan memupuk diri melalui ilmu pengetahuan juga pengalaman yang mumpuni (hal. 89-90)

Pada bagian lain, Aminuddin Anwar mengusulkan profetik sebagai langkah nyata untuk bergerak dan mengusung perubahan sebab dalam perjuangan ini terdapat nilai-nilai yang diperjuangkan dan melandasi gerak IMM (hal.147-148). Pada bagian-bagian akhir buku ini, Nur Fahmi Nur berpandangan perlunya IMM mengambil peran penting dalam masalah pelestarian lingkungan dengan cara membangun komunitas sadar lingkungan yang memiliki titik fokus serta tepat sasaran.

Suluh dari Surau

Pada bagian pengantar, dijelaskan bahwa derap zaman dengan seluruh dentuman perubahan sosial menuntut IMM kembali mengoreksi nalar gerakan hingga memasuki usia 56 tahun. Dengan nilai dan prinsip yang dipegang, IMM harus mampu mendialektikakan gagasannya dalam “forum zaman”, tentu tak hanya dengan suara sumbang. Pada bagian ini pula dijelaskan bahwa Suluh dari Surau merupakan simbilosasi bahwa dengan adanya kumpulan pemikiran ini pertanda bahwa dalam keterbatsaannya , masih ada harapan bagi IMM untuk tampil sebagai suluh bagi peradaban.

Bagian awal tulisan ini membahas mengenai wacana Islam transformatif dan misi kemanusiaan global, misalnya kritikan atas serangan pasukan militer Israel yang dilancarkan secara intensif ke wilayah jalur gaza. Zain Maulana sebagai penulis dalam bagian tulisan ini menjelaskan, Palestina membutuhkan intervensi kemanusiaan untuk melindungu masyarakat sipil dari agresi militer Israel yang kian destruktif, selain mengeluarkan pernyataan kecaman atas aksi militer Israel atau bisa pula dengan memberikan bantuan ke wilayah tersebut (28)

Pada bagian kedua, buku ini menjelaskan mengenai dinamika pemikiran dan gerakan Muhammadiyah dan keIndonesiaan. Najih Prastiyi sebagai salah satu penulis menjelaskan bahwa spirit Ahmad Dahlan dan cita-cita kemajuan harus diresapi oleh setiap ummat muslim. Setiap pribadi ummat Islam harus memiliki kepibadian unggul, cerdas, berintegritas dan berilmu pengetahuan tinggi. Dengannya, maka masa depan ummat Islam dalam membangun peradaban utama menjadi misi yang terukur serta strategis. Karenanya ummat Islam mesti mengambil peran menuju kemajuan agar tidak terjadi kerusakan peradaban (hal. 74)

Sementara, Ari Susanto mengusulkan dua agenda tajdid abad kedua: pertama, penegasan kebangsaan bahwa Indonesia sebagai darul ahdi wa syahadah pada muktamar ke-47 di Makassar, menurutnya gagasan ini harus disistematisasikan. Kedua, dalam dunia internasional, Muhammadiyah harus menggaungkan suaranya untuk peradaban dunia yang lebih baik lagi (hal. 82)

Bagian akhir dari buku Suluh dari Surau ini adalah respon atas isu politik, khususnya mengenai Pemilu 2019 silam dan hubungannya dengan masa depan politik Indonesia. Ihsan Nurul Arifin mengajukan kritik, bahwa budaya demokrasi pasca Pemilu 2019 budaya demokrasim sedikit menguap ke udara dan lalu memudar, yang sebenarnya terjadi ialah sistem oligarki yang mengatur sistem politik di Indonesia. mengutip Jean Baudrillard, ia berpendapt bahwa permainan politik adalah sebuah simulasi semata yang nantinya membuahkan hasil politik simulakra (hal. 148)

Selanjutnya, Yogo Tribowo memandang bahwa perpolitikan Indonesia dewasa ini mengalami kepincangan sehingga tidak mampu lagi untuk menentukan arah langkah yang akan menjadi babak pencerah dari redupnya narasi yang tercipta selama ini. Ia kemudian berpandangan perlunya kesadaran, bila tidak, maka kondisi seperti ini akan terus dan tetap konsisten mewarnai kontestasi politik nasional (hal. 162).

——————————–

Reviewer: Muh. Akmal Ahsan

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

More articles