Menelusuri Kiprah dan Perjuangan Ir Djoeanda di Jawatan Kereta Api

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

MCCC Deli Serdang Cegah Meluasnya Covid-19 lewat Edukasi

LUBUK PAKAM, Suara Muhammadiyah - Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC) Kabupaten Deli Serdang menerjunkan relawannya dalam kampanye edukasi pencegahan covid-19 di Kecamatan...

Nama Muhammadiyah Dicatut dalam Teror kepada Keluarga Mahasiswa UGM

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Penyelenggaraan diskusi mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) yang tergabung “Constitutional Law Society” (CLS) menuai polemik.

Majalah Suara Muhammadiyah Kembali

https://www.youtube.com/watch?v=aVUV2i1xMD0 YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Dua bulan ternyata terlalu lama untuk ditunggu, ketika setiap hari hanya menumpuk...

Teliti Parenting Kecerdasan Majemuk, Dosen Unmuh Ponorogo Raih Gelar Doktor

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Anak adalah amanah Allah SWT yang wajib dijaga dan diasuh dengan sebaik-baiknya. Sejak pertama kali dilahirkan seorang anak...

Rektor UNMUHA: PTMA Harus Punya Branding yang Kuat

BANDA ACEH, Suara Muhammadiyah – Unmuha adalah salah satu perguruan tinggi yang merupakan penyumbang pemikiran pendidikan di Indonesia. Universitas Muhammadiyah Aceh memproritaskan...
- Advertisement -

Menteri Marathon. Djoeanda pernah menjabat sebagai 14 kali sebagai menteri dan sekali menjabat Perdana Menteri. Hal inilah yang melatarbelakangi Djoeanda dijuluki ‘Menteri Marathon’.  Salah satunya sebagai menteri keuangan. Berkat jasa dan andil besar demi kemerdekaan, Djoeanda Kartawidjaja diabadikan dalam uang kertas pecahan Rp50.000 sejak 16 Desember 2016.

Nama lengkapnya adalah Ir. Raden Haji Djoeanda Kartawidjaja merupakan putera dari pasanagan Raden Kartawidjaja dan Nyi Monat. Ia lahir tepat pada hari ini namun ditahun yang berbeda, 14 Januari 1911 di Tasikmalaya, Hindia Belanda.

Sejak lulus dari Technische Hooge School (THS) Bandung pada tahun 1933, ia merasa kehidupan pasca lulus cukup sulit. Sebab, pada tahun 1930-an pernah terjadi krisis ekonomi yang melanda seluruh dunia atau disebut dengan Malaise. Akibatnya  sekolah-sekolah banyak yang ditutup, pegawai di PHK dan penurunan gaji, bahkan lapangan pekerjaan semakin sempit sehingga harus menghemat pengeluaran keuangan.

Disisi lain, kebutuhan hidup kian semakin tinggi. Djoeanda telah mencari pekerjaan namun tak kunjung dapat hingga memutuskan mencari pekerjaan dan pergi ke Batavia. Pada tahun 1933, Djoeanda mengawali karirnya di Batavia dengan bekerja sebagai guru ilmu pasti di Algemenne Middlebare School (AMS) dan Kweekschool yang didirikan organisasi Muhammadiyah. Djoeanda mendedikasikan diri dan tanggung jawabnya selama lima tahun. Ia banyak mendapat banyak pengalaman khususnya bergabung menjadi anggota Muhammadiyah.

Pada tahun 1939, ia diangkat sebagai insinyur pada Jawatan Pengairan Jawa Barat di Departemen Pekerjaan Umum dan akhirnya ia memutuskan untuk mengundurkan diri dari sekolah. Djuanda merupakan seorang abdi masyarakat yang tulus dan dan tidak memiliki tendensi untuk meraih jabatan apapun.

Tak hanya sampai situ, pada tahun 1945, tepat pada tanggal 28 September Djoeanda diangkat sebagai Pimpinan Jawatan Kereta Api wilayah Jawa Barat dan Madura. Djoeanda menggerakkan para pemuda Indonesia untuk mengambil alih Jawatan Kereta Api. Ketika itu masih dikuasai oleh sisa-sisa pendudukan Jepang sebelum kedatangan pasukan Sekutu dan Belanda.

Djoeanda mengajak pemuda Indonesia untuk memperbaiki dan menata kembali gerbong-gerbong kereta. Pada saat itu, kereta api yang dikuasai oleh Jepang terlihat dalam kondisi yang buruk, mulai dari kursi yang sobek, gerbong yang kotor, kamar mandi yang baud an tak nyaman untuk dinaiki. Ia ingin mengubah dan memperbaiki fasilitas Kereta Api yang nyaman di pakai penumpang nantinya.

Tidak lama,  tahun berikutnya 1946,  Ia diangkat sebagai menteri muda perhubungan sampai akhir  hayatnya.  Pada tahun 1957, Djoeanda diangkat sebagai Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan (1957-1959). Selama beberapa kali pergantian kabinet yang terhitung sebanyak tujuh belas kali, Djoeanda selalu menduduki posisi menteri. Sebanyak empat belas kali. Djoeanda juga dipilih oleh presiden Sukarno sebagai Perdana Menteri, dengan programnya “Kabinet Karya”.

Pada tahun berikutnya, Ia ditunjuk kembali menjadi Menteri Pertama pada masa Demokrasi Terpimpin (1959-1963). Sehingga dari tahun 1946 sampai meninggalnya tahun 1963, beliau menjabat sekali sebagai menteri muda. Atas segala jasa dan pengabdiannya demi nusa dan bangsa, nama Djoeanda diabadikan menjadi sebuah nama bandar udara di Surabaya. Dan yang tak kalah penting, Sumbangsih terbesarnya Djoeanda untuk Indonesia ialah Deklarasi Djoeanda pada tahun 1957. Diakhir hayatnya, Djoeanda dianugerahkan gelar sebagai “Pahlawan Nasional”.(rahel)

- Advertisement -
- Advertisement -

More articles

- Advertisement -