Kisah Ashabul Kahfi

Oleh : Muhammad Chirzin.

Kisah Ashabul Kahfi, Pemuda-pemuda Penghuni Gua, tertera dalam Al-Quran surah Al-Kahfi. Kisah ini mengandung pelajaran tentang kenisbian waktu dan keberpihakan Tuhan kepada orang-orang yang beriman serta ujian keimanan bagi para pembacanya. Di antara ayat-ayat yang dimaksud adalah sebagai berikut.

أَمۡ حَسِبۡتَ أَنَّ أَصۡحَٰبَ ٱلۡكَهۡفِ وَٱلرَّقِيمِ كَانُواْ مِنۡ ءَايَٰتِنَا عَجَبًا ٩ إِذۡ أَوَى ٱلۡفِتۡيَةُ إِلَى ٱلۡكَهۡفِ فَقَالُواْ رَبَّنَآ ءَاتِنَا مِن لَّدُنكَ رَحۡمَةٗ وَهَيِّئۡ لَنَا مِنۡ أَمۡرِنَا رَشَدٗا ١٠ فَضَرَبۡنَا عَلَىٰٓ ءَاذَانِهِمۡ فِي ٱلۡكَهۡفِ سِنِينَ عَدَدٗا ١١ ثُمَّ بَعَثۡنَٰهُمۡ لِنَعۡلَمَ أَيُّ ٱلۡحِزۡبَيۡنِ أَحۡصَىٰ لِمَا لَبِثُوٓاْ أَمَدٗا ١٢ نَّحۡنُ نَقُصُّ عَلَيۡكَ نَبَأَهُم بِٱلۡحَقِّۚ إِنَّهُمۡ فِتۡيَةٌ ءَامَنُواْ بِرَبِّهِمۡ وَزِدۡنَٰهُمۡ هُدٗى ١٣  

Apakah engkau membayangkan, bahwa para Penghuni Gua dan prasasti itu tanda-tanda kekuasaan Kami yang ajaib? Tatkala para pemuda pergi ke gua, lalu mereka berdoa, “Ya Tuhan kami, anugerahilah kami rahmat dari pihak-Mu dan berikanlah kepada kami dalam perkara kami petunjuk jalan yang benar.” Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu. Kemudian Kami bangkitkan mereka, untuk Kami uji mana dari kedua golongan menghitung lebih baik berapa lama mereka tinggal (dalam gua itu).Kami menceritakan kepadamu kisah mereka yang sebenarnya. Mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan, dan Kami pun member tambahan petunjuk kepada mereka. (QS Al-Kahfi/18:9-13).

Kaum Quraisy mengutus an-Nadhr bin al-Harits dan ‘Uqbah bin Abi Mu’aith ke Madinah untuk bertanya tentang kenabian Muhammad kepada pendeta-pendeta Yahudi di sana. Orang-orang Quraisy menganggap pendeta-pendeta Yahudi itu mempunyai keahlian dalam memahami kitab yang telah diturunkan lebih dahulu dan mengetahui tanda-tanda kenabian yang tidak mereka ketahui.

Pendeta tersebut berkata, “Tanyakanlah kepada Muhammad tentang tiga hal. Jika ia dapat menjawab, dialah Nabi yang diutus. Akan tetapi, jika ia tidak dapat menjawabnya, ia hanyalah orang yang mengaku-aku nabi. Pertama, tanyakanlah kepadanya tentang pemuda-pemuda pada zaman dahulu yang  bepergian dan apa yang terjadi pada mereka. Kedua, tanyakanlah kepadanya seorang pengembara yang sampai ke tempat matahari terbit dan tempat matahari tenggelam, dan apa pula yang terjadi padanya. Ketiga, tanyakan kepadanya tentang ruh.”

Kedua utusan Quraisy pulang membawa oleh-oleh untuk menentukan sikap terhadap Muhammad. Mereka pun menghadap Rasulullah saw dan menanyakan ketiga persoalan tersebut. Rasulullah saw pun menjawab, “Aku akan menjawab apa yang kamu tanyakan itu.” Beberapa waktu kemudian Jibril datang membawa wahyu yang mengandung jawaban tentang dua pertanyaan pertama dalam surat ini, yakni QS Al-Kahfi/18:9-26 dan 83-98, dan tentang pertanyaan ketiga dalam surat sebelumnya (QS Al-Isra’/17:85).

Para Penghuni Gua adalah penduduk kota Ephesus di pantai barat Asia Kecil. Pada masa kekuasaan Kerajaan Romawi Kaisar Decius atau dikenal sebagai Daqyanus (memerintah tahun  249 hingga 251 Masehi) menyiksa penganut-penganut Kristen. Tujuh pemuda Kristen pergi meninggalkan kota untuk menyelamatkan iman mereka dengan bersembunyi dalam sebuah gua di gunung yang tidak jauh dari tempat itu. Mereka tertidur, dan terus tertidur selama beberapa generasi. Tatkala tembok yang menutupi mulut gua itu terbuka, pemuda-pemuda itu terjaga.

Ketika salah seorang dari mereka pergi ke kota hendak berbelanja bahan makanan, ia melihat seluruh negerinya telah berubah. Agama Kristen yang pada masanya diperlakukan sewenang-wenang kini sudah diterima, bahkan sudah menjadi agama Negara. Pakaian, percakapan, dan uang yang dibawanya rupanya berasal dari zaman yang lain.

Salah seorang pembesar negeri datang mengunjungi gua tersebut untuk meyakinkan tentang cerita itu dengan menanyakan tentang teman-temannya. Peristiwa ini terjadi pada zaman pemerintahan Theodosius II.

Tatkala para pemuda pergi ke gua, mereka berdoa, “Ya Tuhan kami, anugerahilah kami rahmat dari pihak-Mu dan berikanlah kepada kami dalam perkara kami petunjuk jalan yang benar.” Mereka bertawakal kepada Allah dan menyerahkan segala persoalan kepada-Nya. Rupanya mereka tertidur dan tidak mengetahui apa-apa lagi yang terjadi di luar sana.

Allah swt mematri pendengaran mereka sedemikian rupa, sehingga mereka tidak mendengar apa-apa dan juga tidak melihat apa-apa. Mereka benar-benar terputus dari dunia luar. Allah swt menidurkan mereka selama 300 tahun syamsiyah sama dengan 309 tahun qamariah dalam gua itu, (ayat 25) sehingga mereka tak dapat dibangunkan oleh suara apa pun. Allah membangkitkan mereka dari tidur dalam keadaan mereka apa adanya, sehingga mereka mulai menyadari suasana di sekitar.

Ketika mereka bangun dengan kesadaran, semua perhitungan tahun sudah hilang. Sekalipun mereka masuk bersama-sama dan bersama-sama berbaring di tempat yang sama untuk waktu yang sama pula, kesan-kesan mereka mengenai waktu yang  mereka lalui sangat berbeda.

Mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman, dan Tuhan pun menambahkan petunjuk buat mereka. Keimanan mereka membawa ke jalan kebenaran yang lebih luhur dan bertambah secara berangsur bersama bertambahnya petunjuk Allah swt pada mereka. Setiap langkah keimanan menuju tempat yang lebih tinggi dengan rahmat dan karunia-Nya.

Allah swt menguatkan hati mereka agar tidak takut berdiri di hadapan raja yang zalim dan menyombongkan diri untuk berkata lantang dan terus terang serta yakin pada kebenaran tauhid yang mereka lihat sendiri dengan jelas, dengan mata, pikiran, dan kalbu mereka.

Di samping penyembahan kepada berhala-berhala, pemujaan terhadap para Kaisar juga sudah menjadi umum dalam Kerajaan Rumawi pada tiga abad pertama sejarah Kristen. Betapa penyembahan berhala dapat subur di tempat itu.

Para pemuda meninggalkan segala yang disembah selain Allah lalu pergi ke gua. Tuhan pun melimpahkan rahmat-Nya kepada mereka dan menyediakan segala yang berguna. Cahaya matahari sejak terbit hingga terbenam selalu menyinari ruang yang luas dalam gua itu. Mereka pun tidur pulas di sana. Tuhan membalik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka merentangkan kedua kaki depannya di ambang pintu gua.

Ketika dibangkitkan dari tidur mereka pun saling bertanya. Salah seorang di antara mereka bertanya, “Berapa lama kamu tinggal di sini?” Yang lain menjawab, “Kita tinggal di sini sehari atau setengah hari.” Mereka pun berkata, “Tuhan lebih mengetahui berapa lama kita tinggal di sini.”

Ada orang yang mengatakan jumlah mereka tiga orang yang keempat adalah anjingnya. Yang lain mengatakan jumlah mereka lima orang yang keenam adalah anjingnya. Yang lain lagi mengatakan bahwa jumlah mereka tujuh orang, yang ke delapan adalah anjingnya. Tuhan lebih mengetahui jumlah mereka dan lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal di gua. Kepunyaan Allahlah semua yang tersembunyi di langit dan di bumi. Alangkah terang penglihatan-Nya dan alangkah tajam pendengaran-Nya.