Es Batu

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

Ucapan dan Harapan Berbagai Tokoh pada Milad ke-55 UMP

PURWOKERTO, Suara Muhammadiyah – Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), di 2020 ini, telah genap berusia 55 tahun sejak resmi didirikan pada 5 April 1965. Sejumlah...

Mushola Ranting Muhammadiyah Tirtonirmolo Lakukan Sosialisasi dan Salurkan Bantuan Wabah Covid-19

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah– Mushola Babul Khoir yang dikelola oleh Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Tirtonirmolo turut terlibat dalam pencegahan...

Aliansi BEM DKI: UMJ Tidak Ikut Terlibat, UHAMKA Klarifikasi Informasi yang Beredar

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Seiring dengan beredarnya kabar di media mengenai Konferensi Pers yang bertajuk “COVID-19: Lockdown, Solusi atau Politisasi,” secara tegas BEM Universitas Muhammadiyah...

7 Film tentang Muhammadiyah dan Tokohnya

Suara Muhammadiyah - Siapa tak kenal Muhammadiyah. Sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia bahkan di dunia Muhammadiyah telah dan terus...

Gerakan Ta’awun Sosial PCA Gondomanan Yogyakarta

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Gerakan ta'awun sosial Aisyiyah terus dilakukan dalam kondisi darurat wabah Korona atau Covid-19. Dalam kondisi seperti ini salah...
- Advertisement -

Alkisah, ada seorang guru yang bertanya kepada seorang murid mengenai air. Guru itu bertanya pada muridnya, “Apakah air bisa dipecahkan?”. “Tentu tidak bisa pak Guru”, jawab murid tadi. Sang guru pun menjawab, “Siapa bilang tidak bisa.”

Selanjutnya, Sang Guru menjelaskan tentang air yang bisa dipecahkan. Sang guru mengatakan bahwa coba saja air dimasukkan ke dalam kulkas. Setelah itu, air akan membeku menjadi es batu. Jika air sudah beku menjadi es batu, maka bisa dipecahkan dengan dipukul pakai palu atau pakai batu. Bahkan bisa pecah hingga hancur. Sang murid pun sambil berfikir dan meng-iya-kan penjelasan dari Sang Guru.

Selanjutnya sang guru menanyakan, kembali, “Bisakah air itu bersatu kembali?”. Si murid menjawab, “Ya sudah tidak bisa lagi kalau sudah dipecahkan.”

Sang guru kembali menjawab, “Tentu bisa. Tinggal dimasukkan kedalam kulkas lagi. Bisa kan?” “Terus di apain pak?” Tanya si murid. “ tinggal masukkan kedalam wadah, dibiarkan saja beberapa waktu akan mencair sendiri. Mencair kan nanti  jadi menyatu. Bener kan?” tegas sang Guru.

Sang murid mengangguk dan mencoba mengaitkan dengan posisi dirinya. Begitulah dalam kehidupan ini. Seharusnya, kita harus bisa melihat, harus bisa memperlakukan sesuatu. Kita harus bisa memposisikan diri kita sebagai apa, menjadi apa dan bagaimana agar tidak salah dalam memposisikan diri.

Jika posisi sudah salah, lokasi juga ikut salah. Kalau lokasi sudah salah, maka akan salah juga dalam orientasinya. Begitu juga dalam bernegara, bermasyarakat, berbangsa dan beragama. Mengetahui posisi diri dengan baik, tidak salah dalam masuk lokasi. Sebab, jika lokasi tidak sesuai dengan diri kita, maka kita tidak bisa mencair dengan orang-orang disekitar kita. Maka carilah tempat yang sesuai agar mudah utnuk membuat bentukannya.

Selanjutnya setelah mudah dibentuk maka mudah berorientasi. Mudah untuk salaing mengenal, saling memahami, saling mengasihi, sehingga dapat meminimalisir benih-beinh kekacauaan yang akan terjadi kedepannya. Demikian, kedamaian dalam hidup akan kita rasakan bersama.(rahel)

- Advertisement -
- Advertisement -

More articles