Islam yang Berpihak

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

Ucapan dan Harapan Berbagai Tokoh pada Milad ke-55 UMP

PURWOKERTO, Suara Muhammadiyah – Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), di 2020 ini, telah genap berusia 55 tahun sejak resmi didirikan pada 5 April 1965. Sejumlah...

Mushola Ranting Muhammadiyah Tirtonirmolo Lakukan Sosialisasi dan Salurkan Bantuan Wabah Covid-19

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah– Mushola Babul Khoir yang dikelola oleh Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Tirtonirmolo turut terlibat dalam pencegahan...

Aliansi BEM DKI: UMJ Tidak Ikut Terlibat, UHAMKA Klarifikasi Informasi yang Beredar

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Seiring dengan beredarnya kabar di media mengenai Konferensi Pers yang bertajuk “COVID-19: Lockdown, Solusi atau Politisasi,” secara tegas BEM Universitas Muhammadiyah...

7 Film tentang Muhammadiyah dan Tokohnya

Suara Muhammadiyah - Siapa tak kenal Muhammadiyah. Sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia bahkan di dunia Muhammadiyah telah dan terus...

Gerakan Ta’awun Sosial PCA Gondomanan Yogyakarta

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Gerakan ta'awun sosial Aisyiyah terus dilakukan dalam kondisi darurat wabah Korona atau Covid-19. Dalam kondisi seperti ini salah...
- Advertisement -

Judul buku      : Islam yang berpihak: Menelusuri Jejak Pemihakan Islam terhadap Kemanusiaan.

Penulis                         : Deni Asyari

Cetakan                       : Pertama

Tahun terbit                 : Desember, 2019

Penerbit                       : Suara Muhammadiyah

Banyak halaman          : xviii+169 hlm

Ukuran buku              : 14 x 21 cm

ISBN                           : 978-602-6268-87-7

Buku ini mengulas tentang ajaran Islam yang mengandung keberpihakan kepada masyarakat kecil. Berawal dari problem kemiskinan di tanah air beta tampak masih menjadi PR besar karena belum terlaksana secara komperhensif. Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2018, jumlah penduduk miskin di negeri ini berkurang. Namun, tetap bertahan pada angka yang cukup tinggi. Dari 26,58 juta menjadi 25,95 juta orang yang masih rentan jatuh miskin karena pendapatan mereka di atas garis kemiskinan.

Padahal bagi agama Islam sendiri krisis sosial merupakan problem yang sangat urgen yang harus ditangani dengan serius. Akan tetapi, banyak diantara umat Islam yang yang menjadikan persoalan kemiskinan dan ketimpangan sosial sebagai persoalan agama yang serius ? Akan tetapi, dalam prakteknya, kemuliaan ajaran Islam sering kali ditutupi dengan nafsu-nafsu serakah dan egoism manusia. Sehingga yang terjadi dan yang tampak dari Islam ialah kekerasan dan konflik yang tak henti-henti.

Jika dilihat dari awal turunnya agama Islam, para Nabi, sahabat dan umat Islam dimasa awal, selalu menempatkan ketidakadilan, ketimpangan sosial dan kemiskinan sebagai agenda keagamaan pokok persoalan yang utama.

Dalam konteks zamannya, Islam sebagai agama yang responsif terhadap problem sosial dan dehumanisasi yang terjadi di masyarakat. Bahkan ketika di waktu lampau, bangsa Arab telah mengalami pembusukan etika sosial dan dehumanisasi. Oleh karena itu, Islam turun untuk tampil sebagai jalan alternatif dengan gerakan pembebasan dan meninggikan derajat kemanusiaan.

Model-model keberpihakan ini sesungguhnya sudah turun temurun diwariskan para Nabi dan sahabat. Hanya saja, semangat tersebut tidak bertahan lama, seperti ditujukan dalam perjalanan sejarah, mengalami pasang surut sampai akhirnya sulit mempertahankan wataknya sebagai gerakan alternatif. Justru kini, masyarakat Islam, menjadi pihak yang disoroti oleh setiap kalangan dan pihak ketika membicarakan proses dehumanisasi, ketidakadilan gender, pandangan intoleran, dan sebagainya. Sayangnya, Mansour Fakih pernah mengatakan bahwa Islam tiba-tiba kehilangan citra dirinya sebagai pewaris gerakan pembebasan dan penegak keadilan.

Dalam tiap babnya, buku ini juga menyajikan penjealsan para pemikir Islam terhadap problem kemanusiaan. Salah satunya Ali Engineer (2003) mengatakan bahwa ukuran kesalehan dan kekafahan umat dalam beragama sangat erat kaitannya dengan etos keprihatinan sosial seorang Muslim. Teologi Islam sebenarnya sangatlah dekat dengan masalah ketidakadilan sosio-ekonomi. Di dalam Al-Qur’an dan Hadis banyak sekali membahas mengenai tentang golongan masyarakat lemah, seperti yatim piatu, janda, fakir miskin, budak dan lainnya. Maka dari itu, perlunya umat Islam membangun sensitivitas sosial melalui sentuhan ibadah-ibadah, solat, puasa, dan zakat. Pada hakikatnya, ibadah-ibadah tersebut menjadi sarana menuju jalan pembebasan dan kebangkitan umat.(rahel)

 

- Advertisement -
- Advertisement -

More articles