Muhammadiyah Eksis Membangun Kesehatan Bangsa

Gedung PKU Muhammadiyah Yogyakarta (Dok SM)

Oleh: Agus Samsudin

Insya Allah Majelis Pembina Kesehatan Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah akan menyelenggarakan rakernas pada tanggal 6-8 Februari  2020 di Yogyakarta. Acara ini akan menjadi penutup acara besar terakhir bidang kesehatan sampai diselenggarakan Muktamar ke 48 di Solo bulan Juli 2020. Peserta rakernas adalah seluruh penggerak kesehatan di lingkungan Persyarikatan mulai dari Aisyiyah, pengurus MPKU berbagai tingkat Direktur Rumah Sakit beberapa undangan khusus, diperkirakan berjumlah 450 orang.

Telah satu abad Muhammadiyah berkiprah dalam membangun kesehatan bangsa, sejak didirikan klinik pada tahun 1923 di Ngasem Yogyakarta yang menjadi cikal bakal Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Semuanya tidak lepas dari peran Kyai Soedjak yang begitu ngotot untuk mendirikan panti asuhan dan rumah sakit, yang pada waktu itu ditertawakan oleh orang-orang Muhammadiyah. Alhamdulillah, saat ini Persyarikatan sudah mempunyai 107 rumah sakit dan sedang dalam proses pendirian sebanyak 27 rumah sakit. Amal Usaha Kesehatan ini setidaknya menghidupi 17 ribu keluarga sebagai karyawan langsung, melayani kurang lebih 12.5 juta pasien setahun.

Rakernas akan dimulai dengan launching buku Muhammadiyah Membangun Kesehatan Bangsa. Buku ini akan menjadi buku resmi pertama tentang sejarah kesehatan di Muhammadiyah. Bab awal akan mengulas tentang filosofi Al-Ma’uun yang sangat terkenal itu. Bagaimana Kyai Dahlan mengajarkan spirit pembaharuan pada saat itu dengan memperbolehkan merekrut dokter berkebangsaan Belanda. Fokus Dahlan dalam ber-agama adalah implementasi, amaliah yang menjawab persoalan masyarakat pada jamannya.  Ini adalah lompatan pemikiran dan tindakan yang luar biasa.

Disamping itu sejak awal sudah diperkenalkan dengan sikap “welas asih” menyayangi sesama sehingga deklarasi pertama pendirian klinik di Surabaya tahun 1924 oleh Dr Sutomo adalah “klinik Muhammadiyah akan melayani siapa saja yang membutuhkan pertolongan dengan gratis tanpa peduli agama, suku, kebangsaan dan latar belakang yang lain”.

Bagian kedua, menceritakan pergumulan perkembangan AUMKES. Sebagian besar rumah sakit PKU sekarang ini bermula dari Rumah Bersalin atau Balai Pengobatan yang kemudian berkembang perlahan menambah bangunan, tempat tidur, bertambah dokternya, bertambah layanannya. Menjadi rumah sakit tipe D naik menjadi tipe C dan menjadi tipe B. Bab ini juga memberikan gambaran contoh keunggulan-keunggulan layanan beberapa rumah sakit yang maju.

Tidak kalah penting adalah bagaimana respon Muhammadiyah terhadap persoalan kesehatan kontemporer seperti Keluarga Berencana, pemberantasan Tuberculosis, penanganan wabah flu burung, program kesehatan masyarakat dan Undang-Undang Kesehatan. Menunjukkan bahwa Muhammadiyah tidak berkiprah di rumah sakit saja tetapi juga masuk ke area kesehatan masyarakat dalam arti luas.

Kiprah penggiat kesehatan bersama Majelis lain juga menjadi fokus. Bagaimana tim medis PKU selalu siap mendukung setiap ada bencana melalui MDMC ke seluruh pelosok tanah air bahkan sampai manca negara. Program ekspedisi Klinik Apung Said Tuhuleley di Indonesia bagian timur bersama Lazismu. Program Geriatri dengan Majelis Pelayanan Sosial. Tidak ketinggalan peran Muhammadiyah dalam mencetak kader kesehatan melalui pendidikan keperawatan, kebidanan, anestesi, farmasi, kesehatan masyarakat dan kedokteran. Jadi, Muhammadiyah telah mengembangkan Penolong Kesengsaraan Omoem menjadi paket lengkap dengan sinergi program antar majelis.

Bagian akhir buku mengupas beberapa tokoh utama penggerak PKU di masa lalu dan tantangan serta harapan agar MPKU bisa tetap eksis di masa datang.

Singkatnya, buku Muhammadiyah Membangun Kesehatan Bangsa menjadi persembahan untuk para penggiat  bidang kesehatan Muhammadiyah dan kado Muktamar ke 48.

Agus Samsudin, Ketua MPKU PP Muhammadiyah