obrolan_cendekia
7 falsafah pelajaran kiai ahmad dahlan
Berita

7 Falsafah KH Ahmad Dahlan

Kiai Dahlan adalah manusia amal. Akan tetapi, mustahil aksi-amaliah itu tanpa landasan oleh pemikiran teologis. Landasan teologis inilah yang menjadi landasan etika sosialnya. Aksi sosial kebudayaan yang dilakukan Kiai Dahlan, tentu saja dilandasi melalui kerangka yang menjadi etos untuk mengaplikasikannya gerakannya.

KHR Hadjid, alumni pondok pesantren Termas sekaligus murid termuda dari KH Ahmad Dahlan pernah menuliskan falsafah ajaran dari Kiai Dahlan. Hadjid menuliskan ada 7 falsafah ajaran dan wejangan yang dapat mengatasi permasalahan yang ada di tengah masyarakat.

Tujuh falsafah yang dimaksud adalah:

  1. Kita, manusia ini, hidup di duniahanya sekali untuk bertaruh: sesudah mati, akan mendapat kebahagiankah atau kesengsaraan?
  2. Kebanyakan di antara manusia berwatak angku dan takabur, merekamengambil keputusan sendiri-sendiri.
  3. Manusia itu, kalau mengerjakan sesuatu apapun, sekali, dua kali, berulang kali, maka kemudian akan menjadi biasa. Kalau sudah menjadi kesenangan yang di cintai, maka kebiasaan yang dicintai itu sukar untuk diubah. Sudah menjadi tabiat, bahwa kebanyakan manusia membela adat kebiasaan yang telah diterima, baik itu dari sudut keyakinan atau iktikad, perasaan kehendak maupun amal perbuatan. Kalau ada yang akan merubah, mereka akan sanggup membela dengan mengorbankan jiwa raga. Demikian itu karena anggapannya bahwa apa yang dimiliki adalah benar.
  4. Manusia perlu digolongkan menjadi satu dalam kebenaran, harus bersama-sama menggunakan akal pikirannya untuk untuk memikirkan, bagaimana sebenarnya hakikat dan tujuan manusia hidup di dunia harus mengerjakan apa? Dan mencari apa? Dan apa yang dituju? Manusia harus mempergunakan pikirannya untuk mengoreksi soal iktikad dan kepercayaannya, tujuan hidup dan tingkah lakunya, mencari kebenaran sejati. Karena kalau hidup di dunia hanya sekali ini sampai sest, akibatnya akan celaka dan sengsara selama-lamanya.
  5. Setelah manusia mendengarkan pelajaran-pelajaran fatwa yang bermacam-macam, membaca beberapa tumpuk buku. Sekarang, kebiasaan manusia tidak berani memegang teguh pendirian dan perbuatan yang benar karena khawatir kalau menetapi kebenaran, akan terpisah dari apa-apa yang sudah menjadi kesayangannya, khawatir akan terpisah dengan teman-temannya. Pendek kata, banyak ke khawatiran dan akhirnya tidak berani mengerjakan barang yang benar, kemudian hidupnya seperti makhluk yang tak berakal, hidup asal hidup, tidak menempati kebenaran.
  6. Kebanyakan pemimpin-pemimpin rakyat, belum berani mengorbankan harta benda dan jiwanya untuk berusaha tergolongnya umat manusia dalam kebenaran. Malah pemimpin-pemimpin itu biasanyahanya mempermainkan, memperalat manusia yang bodoh-bodoh dan lemah.
  7. Pelajaran terbagi atas dua bagian: belajar ilmu, pengetahuan atau teori dan belajar amal, mengerjakan atau mempraktekkan. Semua pelajaran harus dengan cara sedikit demi sedikit, setingkat demi setingkat. Demikian juga dalam belajar amal, harus bertingkat. Kalau setingkat saja belum dapat mengerjakan, tidak perlu ditambah.

Ajaran di atas, senafas dengan pesan Kiai Dahlan, bahwa pengetahuan tertinggi dalam istilah Muhammadiyah sekarang bisa disebut peradaban utama menurut Kiai Dahlan adalah pengetahuan tentang kesatuian hidup. Pengetahuan ioni dapat dicapai melalui sikap kritis dan terbuka dengan memposisikan akal sehat dan istiqamah terhadap kebenaran akal yang disebut hati suci.(rahel)