Cinta Ikan

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

Ucapan dan Harapan Berbagai Tokoh pada Milad ke-55 UMP

PURWOKERTO, Suara Muhammadiyah – Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), di 2020 ini, telah genap berusia 55 tahun sejak resmi didirikan pada 5 April 1965. Sejumlah...

Mushola Ranting Muhammadiyah Tirtonirmolo Lakukan Sosialisasi dan Salurkan Bantuan Wabah Covid-19

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah– Mushola Babul Khoir yang dikelola oleh Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Tirtonirmolo turut terlibat dalam pencegahan...

Aliansi BEM DKI: UMJ Tidak Ikut Terlibat, UHAMKA Klarifikasi Informasi yang Beredar

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Seiring dengan beredarnya kabar di media mengenai Konferensi Pers yang bertajuk “COVID-19: Lockdown, Solusi atau Politisasi,” secara tegas BEM Universitas Muhammadiyah...

7 Film tentang Muhammadiyah dan Tokohnya

Suara Muhammadiyah - Siapa tak kenal Muhammadiyah. Sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia bahkan di dunia Muhammadiyah telah dan terus...

Gerakan Ta’awun Sosial PCA Gondomanan Yogyakarta

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Gerakan ta'awun sosial Aisyiyah terus dilakukan dalam kondisi darurat wabah Korona atau Covid-19. Dalam kondisi seperti ini salah...
- Advertisement -

Ada seorang pemuda yang sangat suka makan ikan. Pada suatu hari, ketika ia sedang makan ikan, ada seorang kakek yang memperhatikan pemuda yang sedang makan. Dilihat oleh si kakek, pemuda itu kelihatan sangat menyukai ikan. Kemudian sang kakek mendekati pemuda tadi.

Sang kakek bertanya: “Hai anak muda, kenapa kamu suka makan ikan?”. Pemuda tadi menjawab sambil memakan ikan dengan lahapnya, “tentu saja karena aku menyukai ikan. Bahkan aku mencintai ikan.”

Kakek tadi kembali bertanya, “benarkah kamu mencintai ikan ini?” “Iya tentu, saya sangat mencintai ikan ini. Maka dari itu saya sering makan ikan, bahkan setiap hari.” Jelaas pemuda tadi.

Sang kakek mengatakan dengan tegas, “Bohong. Kamu tidak mencintai ikan ini!” “Tidak, untuk apa saya berbohong?” tanya si pemuda.

Kalau kamu benar-benar mencintai ikan ini, kamu tidak akan memakan ikan ini. Kamu makan ini karena nafsu dan laparmu. Bukan karena kamu benar-benar mencintai ikan ini.” Jelas sang kakek.

Si pemuda tadi terdiam dan menghentikan makannya sejenak. Ia terlihat sedikit bingung atas tuduhan yang dilontarkan terhadapnya. “Lalu, bagaimana kita bisa makan kalau tidak menyukai sayur-mayur dan lauk-pauknya?”, tanya si pemuda.

Wahai anak muda, coba kamu perhatikan lagi. Jika kamu benar-benar mencintai dan menyukai ikan ini, maka kamu tidak akan membiarkan ikan ini sakit. Kamu tidak akan memancingnya, kamu tidak akan menggorengnya dan kamu tidak akan memakannya demi memuaskan nafsu dan laparmu.

Pemuda tadi bertanya, “Lalu apa yang harus saya lakukan?”. Sang kakek berkata, “Harusnya kamu membiarkan ikan itu berenang ditempat asalnya. Kamu tidak perlu sampai menggorengnya, cukup kamu perhatikan dari kejauhan bagaimana caranya berenang di dalam air, menghempas sirip-siripnya di dalam air. Kamu akan mencintai ikan itu dalam keadaan apapun.

Ingatlah, sejatinya mencintai sesuatu itu bukan berarti kita bebas untuk melakukan sesuka hati. Mencintai sesuatu itu berarti bebas dari nafsu, kehendak pun keinginan yang sesuka hati. Sama seperti ikan tadi, apabila benar kamu mencintai ikan, seharusnya kamu tidak memakannya untuk kepuasanmu, melainkan membiarkannya berenang di dalam air dan kamu menjaganya sampai kapanpun.(hida)

- Advertisement -
- Advertisement -

More articles