Muhammadiyah Sampaikan Dukacita atas Meninggalnya KH Salahuddin Wahid

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

Menyelamatkan Bangsa dengan Prinsip Kesatuan dan Kebersamaan

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Di tengah gonjang-ganjing persoalan penanganan Covid-19 saat ini memang perlu solusi yang tepat dan tegas untuk mampu membendung penyebaran virus...

Tasharuf Lazismu Semarang, Masyarakat Dukung Tim Medis Tangani Corona

SEMARANG, Suara Muhammadiyah - Pemahaman masyarakat yang beragam tentang virus covid-19 atau corona belakangan ini, menimbulkan tindakan yang beragam pula. Ada yang terlihat santai...

Langkah Strategis MCCC Kalsel, Bantu Masyarakat hingga Tenaga Medis

BANJARMASIN, Suara Muhammadiyah - Muhammadiyah Covid-19 Comand Center (MCCC) Kalimantan Selatan telah jalankan beberapa program di beberapa daerah di Kalimantan Selatan, sejak...

Jenazah Covid-19 Harus Diterima dan Diperlakukan dengan Baik

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Pasien yang meninggal akibat Covid-19 harus diperlakukan dengan penghormatan yang baik. Menurut Putusan Tarjih Pimpinan Pusat Muhammadiyah, pasien Covid-19 yang...

Menumbuhkan Semangat Berbagi di Tengah Wabah

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Dalam rangka membantu masyarakat yang terdampak virus Corona, Suara Muhammadiyah menyelenggarakan kegiatan berbagi sembako. Kegiatan ini ditunjukkan...
- Advertisement -

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un telah berpulang ke rahmatullah Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Tebuireng Jombang KH Salahuddin Wahid atau yang akrab disapa Gus Sholah di RS Harapan Kita Jakarta pada pukul 20:59 WIB, Ahad (2/2).

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir bercerita bahwa pada  Jum’at 31 Januari yang lalu baru saja membesuk almarhum Gus Sholah yang sedang dalam proses operasi jantung di RS Harapan Kita Jakarta. Diterima Ibu Farida Solahudin Wahid, Lukman Hakim Syaifuddin mantan Menag periode lalu, Bu Lily Chodidjah Wahid  dan dr Umar Wahid adik beliau, serta keluarga lainnya.

“Saya kenal lama dengan Gus Sholah  sebagai sosok yang rendah hati, bergaul luas dengan banyak kalangan, moderat, memiliki komitmen keislaman yang kuat, dan visi kebangsaan yang luas. Selain itu, Gus Sholah sangat konsens pada demokrasi dan hak asasi manusia dengan konsisten,” kenang Haedar.

Bahkan, ketika Pemilu 2019 Haedar mengaku intensif bertemu bersama banyak kalangan untuk menggalang moderasi dan tidak terlibat politik partisan agar ada kekuatan penyeimbang.

“Beliau tidak ingin Pemilu menjadi faktor pemecah belah dan berujung pada kegaduhan politik yang meruntuhkan persatuan, demokrasi, dan kebersamaan,” imbuh Haedar.

Haedar juga mengatakan bahwa, pada tahun 2017 Ia bersama istri, serta Gus Solah bersama istri menunaikan ibadah haji undangan khusus Raja Salman.

“Dalam musim haji tersebut saya bersama Gus Sholah termasuk rombongan perwakilan dunia Islam  yang bertemu Raja Salman di Istana Mina. Gus Sholah sosok yang sederhana dan santun. Selama sekitar dua minggu kami ngobrol dan berdiskusi banyak hal tentang Muhammadiyah dan NU, umat Islam, bangsa, dan perkembangan global. Wawasan Gus Sholah moderat dan melintasi, selalu menjaga keseimbangan,” tutur Haedar.

Haedar juga menyampaikan bahwa, sebelum Gus Sholah terbaring sakit, Ia masih berkomunikasi tentang rencana pemutaran Film Dua Tokoh Kyai Dahlan dan Kyai Hasyim Asyari, yang rencananya akan mengundang Presiden RI.

“Beliau begiturupa ingin agar umat dan masyarakat luas mengenal KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asyari, kedua tokoh umat dan bangsa yang besar jasanya dan melahirkan Muhammadiyah dan NU sebagai warisan terpenting,” ujar Haedar.

Selain itu, Haedar juga menyampaikan bahwa perhatian Gus Sholah terhadap pendidikan sangat luar biasa, terutama untuk pengembangan pendidikan Islam yang berwawasan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mumpuni.

“Kita lepas kepergian Gus Sholah dengan ikhlas, inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, semoga almarhum husnul khatimah dan diterima di sisi Allah SWT,” tutup Haedar.(riz/ppmuh)

- Advertisement -

More articles