Sekolah Pemikiran Islam IMM FAI UMY

BANTUL, Suara Muhammadiyah-Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Komisariat Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta menyelenggarakan Sekolah Pemikiran Islam, pada 6–9 Februari 2020, di SMA Muhammadiyah Kasihan, Bantul. Kegiatan ini bertujuan untuk menjaga nalar intelektual serta mengembangkan pemikiran kritis di kalangan kader IMM.

Kuliah Umum pembukaan acara yang mengusung tema “Membuka Khazanah Pemikiran Islam Sebagai Pintu Peradaban” itu menghadirkan Prof Muhammad Azhar, dosen FAI-Pascasarjana UMY dan Muhammad Ridha Basri selaku Kabid Keilmuan DPD IMM DIY.

Muhammad Azhar menyampaikan bahwa watak ilmu akan terus berkembang seiring dengan perubahan zaman. Ilmu akan selalu menemukan perannya dalam kehidupan umat manusia. Sebagaimana keimanan dalam diri seorang muslim, keberadannya harus selalu istiqamah namun kualitas keimanan harus terus berkembang dan bertambah. Maka dari itu, kualitas dan kapasitas keilmuan seorang muslim harus terus diperbaharui.

Di dunia modern, kata Azhar, terjadi pemisahan agama dengan ilmu yang disebut dengan sekulerisme secara masif. Kenyataan yang terjadi di Barat, tradis membaca (iqra’) semakin berkembang, tetapi aspek keimanan semakin menurun dan mengering. Sains Barat berpegang pada nilai positivisme. Kemajuan ini terkadang mengabaikan aspek metafisika dan budaya.  “Kemodernan sangat mengabaikan spritualitas,” ujarnya. Azhar mengajak untuk optimis. Saatnya umat Islam bangkit pada bidang keilmuan.

Bagaimana dengan posisi umat Islam sekarang? Masalah yang dihadapi oleh umat Islam sangatlah kompleks. Menurut Azhar, umat Islam masih terbelakang dalam hal keilmuan. Orang Islam masih senang beradu sentimen dari pada beradu argument. Mayoritas umat Islam mengalami kemiskinan. Masih kuatnya politik identitas di antara umat Islam. Terjajah dalam segala aspek kehidupan. Serta masih kentalnya budaya taklid di masyarakat. “Maka untuk menghadapi masalah tersebut, integrasi hadorotu nash, falsafah, dan keilmuan harus terus berkembang pada diri umat Islam,” pesanya.

Muhammad Ridha Basri mengapresiasi sekolah pemikiran Islam yang mengambil pijakan pada Qs Ali Imran: 110 ini. Umat Islam diberi predikat sebagai khairu ummah dengan cirinya misalkan disebut dalam Ali Imran 102-104. Khairu ummah sering dikaitkan dengan Al-Baqarah: 143, bahwa khairu ummah memiliki peran sebagai ummatan wasathan dan syuhada alannas. Predikat umat terbaik ini punya prasyarat. Dalam hadis, khairunnas anfa’uhum linnas. Sebaik-baik umat juga seharusnya adalah yang paling banyak memberi konstribusi pada pengembangan peradaban.

“Ummah seakar kata dengan imam, dia berada di depan. Wasathan itu posisi di tengah, moderat, dilihat oleh semua penjuru, jadi rujukan, dalam semua bidang. Dia menjadi wasit bagi umat lainnya. Syuhada itu saksi dan sekaligus pelaku peradaban. Supaya disaksikan dan dijadikan rujukan, maka umat Islam harus unggul, berkualitas, dan berprestasi.” Dari sini, seharusnya umat Islam tidak terbelakang dan tidak hanya berenang di pinggir peradaban.

Perintah iqra sebagai wahyu pertama kepada Nabi Muhammad. “Pencerahan Muhammadiyah berakar dari Kiai Ahmad Dahlan, yang menyerukan penggunaan akal budi,” tukas Ridha Basri. Dalam pidato “Kesatuan Hidup Manusia” di Kongres Muhammadiyah 1922, Kiai Dahlan menyatakan bahwa jalan manusia menuju keselamatan hidup dunia dan akhirat harus dengan akal sehat, “Adapun akal yang sehat itu ialah yang dapat memilih segala hal dengan cermat dan pertimbangan.” Diksi dalam MKCH: “akal pikiran yang sesuai dengan jiwa ajaran Islam”. Inilah karakter ulul albab. (diko/rbs)