Merumuskan Filsafat Pendidikan Muhammadiyah

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

Ucapan dan Harapan Berbagai Tokoh pada Milad ke-55 UMP

PURWOKERTO, Suara Muhammadiyah – Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), di 2020 ini, telah genap berusia 55 tahun sejak resmi didirikan pada 5 April 1965. Sejumlah...

Mushola Ranting Muhammadiyah Tirtonirmolo Lakukan Sosialisasi dan Salurkan Bantuan Wabah Covid-19

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah– Mushola Babul Khoir yang dikelola oleh Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Tirtonirmolo turut terlibat dalam pencegahan...

Aliansi BEM DKI: UMJ Tidak Ikut Terlibat, UHAMKA Klarifikasi Informasi yang Beredar

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Seiring dengan beredarnya kabar di media mengenai Konferensi Pers yang bertajuk “COVID-19: Lockdown, Solusi atau Politisasi,” secara tegas BEM Universitas Muhammadiyah...

7 Film tentang Muhammadiyah dan Tokohnya

Suara Muhammadiyah - Siapa tak kenal Muhammadiyah. Sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia bahkan di dunia Muhammadiyah telah dan terus...

Gerakan Ta’awun Sosial PCA Gondomanan Yogyakarta

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Gerakan ta'awun sosial Aisyiyah terus dilakukan dalam kondisi darurat wabah Korona atau Covid-19. Dalam kondisi seperti ini salah...
- Advertisement -

Judul                : Jejak-Jejak Filsafat Pendidikan Muhammadiyah

Penulis              : Alim Roswantoro, Sumartono, Aditya Pratama, Mohamad Ali, Subhi Mahmashony Harimurti, Muhammad Sulaiman

Editor               : Abdul Munir Mulkhan dan Robby Habiba Abror

Penerbit            : Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah dan Suara Muhammadiyah

Cetakan           : 1, Oktober 2019

Ukuran, tebal    : xii + 312 hlm, 15 x 23 cm

ISBN               : 978-602-74900-6-2

Lebih dari seabad, Muhammadiyah bergelut dengan dunia pendidikan. Banyak prestasi telah diraih. Alumninya tersebar berkiprah di berbagai bidang di seluruh penjuru. Namun, apakah Muhammadiyah sudah dapat berpuas diri? Apakah Muhammadiyah sudah menyelenggarakan pendidikan secara tepat? Bagaimana landasan berpikir Muhammadiyah dalam menyelenggarakan pendidikan? Bagaimana konsep paradigma pendidikan Muhammadiyah?

Pertanyaan-pertanyaan itu coba dijawab dalam buku ini. Rumusan utuh filsafat pendidikan Muhammadiyah yang berbasis IPTEKS masih menjadi tanda tanya. Pada muktamar seabad, Muhammadiyah mengeluarkan dokumen “Revitalisasi Pendidikan Muhammadiyah” yang berusaha menyempurnakan dan menggali khazanah pemikiran pendidikannya secara komprehensif, untuk diturunkan dalam kebijakan pendidikan yang kontekstual.

Abdul Munir Mulkhan menuturkan bahwa gagasan filsafat pendidikan Muhammadiyah dapat dirujuk pada tiga sumber. Pertama, pidato Kiai Ahmad Dahlan dalam Kongres Muhammadiyah pada Desember 1922 berjudul “Kesatuan Hidup Manusia” (dokumen lain berjudul: “Tali Pengikat Hidup”). Naskah ini diterbitkan tahun 1923 oleh HB Majlis Taman Pustaka. Kedua, Praeadvies HB Muhammadiyah pada Kongres Al-Islam di Cirebon tahun 1921. Ketiga, Keputusan Muktamar Muhammadiyah ke-46 tahun 2010 di Yogyakarta tentang Revitalisasi Pendidikan Muhammadiyah.

Kiai Dahlan dalam Kongres Al-Islam di Cirebon menyatakan, “Jadi orang Islam itu bersifat dua, yaitu sifat guru dan sifat murid” yang menunjukkan peran untuk terus belajar dan berbagi pengetahuan. Di bagian lain, “Manusia wajib mencari tambahnya ilmu pengetahuan, jangan sekali-kali merasa telah cukup pengetahuannya, apalagi menolak pengetahuan orang lain… Manusia itu perlu dan wajib menjalankan dan melaksanakan pengetahuannya yang utama, jangan hanya sekedar sebagai pengetahuan semata.” (hlm 2-3)

Akal, kata Kiai Dahlan, bagaikan biji atau bibit yang terbenam dalam bumi. Supaya bibit akal tumbuh menjadi pohon besar, perlu upaya merawat dan menyiramnya dengan pengetahuan. Pendidikan Muhammadiyah bersifat holistik, yang memberi keluasaan pada akal sehat. Robby Abror menyebutnya sebagai upaya “membangun proyek ulil albab” (hlm 284). Ulul albab berkarakter terbuka terhadap berbagai pemikiran dan pandangan, namun selektif memilih yang benar, baik, dan patut (Qs Az-Zumar: 18).

Pendidikan Muhammadiyah berusaha melahirkan manusia yang sukses dan bahagia di dunia dan akhirat. Peserta didik diarahkan untuk menyadari makna hidup dan diberi bekal untuk mengembangkan potensi diri yang sesuai norma. Kehendak bebas setiap manusia diarahkan untuk bertanggung jawab atas jalan hidup yang dipilihnya. (ribas)

- Advertisement -
- Advertisement -

More articles