obrolan_cendekia
Ilustrasi buku
Ilustrasi buku
Kolom

Nabi, Perawi dan Wartawan

Prof Dr Yunahar Ilyas, Lc, MAg

Iman dengan yang ghaib adalah arkanul-iman. Allah SwT adalah Zat Yang Maha Gaib. Malaikat adalah makhluk gaib yang diciptakan dari cahaya. Kitabullah secara material, bukanlah gaib, karena bisa dijangkau oleh indra manusia. Tetapi sebagai wahyu yang diturunkan oleh Allah SwT, tentulah Kitabullah hal yang gaib. Begitu juga Nabi dan Rasul, sebagai manusia yang memiliki fisik, tentu bukan hal yang gaib. Tetapi pengakuan mereka menerima wahyu dari Allah SwT adalah hal yang gaib.

Apalagi Hari Akhir, mulai dari Qiyamah, Ba’ts, Hisab, Mizan sampai Jaza’ (masuk surga atau neraka), jelas merupakan sesuatu yang gaib. Begitu juga takdir Allah, apa yang telah, sedang dan akan terjadi diketahui, dituliskan, dikehendaki serta diciptakan oleh Allah SwT adalah masalah gaib. Sekali lagi kita tegaskan inti arkanul iman adalah al-iman bil gaib.

Pengetahuan dan keimanan terhadap yang gaib hanyalah didapat dari dua cara, pertama lewat akhbar (berita), dan yang ke dua lewat atsar (bukti nyata). Tentang Wujud Allah, misalnya, kita mengetahui dan mengimaninya pertama melalui berita yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saw berupa al-Qur’an dan Sunnah. Kedua, melalui bukti-bukti nyawa wujud Allah SwT yang terdapat di alam semesta. Langit, bumi, dan seluruh isinya adalah makhluk ciptaan Allah SwT. Begitu juga masail ghaibiyah lainnya.

Berita yang bisa dijadikan dalil wujud yang gaib bukanlah sembarang berita, tetapi adalah berita yang dipercaya. Artinya disampaikan oleh “pembawa berita” yang dipercaya. Semakin tinggi tingkat kepercayaan kepada sumber berita semakin tinggi pula tingkat keimanan dengan isi berita tersebut.

Nabi berasal dari kata na-ba-a, artinya memberitakan. Kata nabi mempunyai pengertian ganda, pertama berarti yang dapat berita (baca: wahyu), dan yang kedua berarti yang menyampaikan berita. Kata wahyu itu sendiri berarti sendiri berarti iklam, berakar dari kata a’lamu-yu’limu, artinya memberi memberitahu (memberi informasi). Dalam bahasa Arab modern, kata iklam berarti informasi, pers dan penerangan. Media massa disebut wasailul iklam. Kementerian penerangan disebut wazaratul iklam.

Kembali kepada nabi dan hubungannya dengan berita, seorang nabi wajib mempunyai sifat shidq (berkata benar), amanah (dipercaya), tabligh (menyampaikan apa adanya) dan fathanah (cerdas). Dengan empat sifat itu saja seorang nabi memiliki kapasitas dan kapabilitas yang tinggi sebagai pembawa berita. Seorang nabi sangat dipercaya (tsiqah) sebagai sumber berita.

Para Muhadditsin, Ulama hadist, menjadikan kepercayaan terhadap kejujuran dan kecerdasan serta ketelitian seorang perawi sebagai syarat yang tidak bisa ditawar untuk menentukan hadis itu sahih atau tidak. Mereka menggunakan istilah adil untuk kepribadian perawi dan dhabit untuk kecerdasan serta ketelitian perawi.

Pengertian adil menurut Muhadditsin spesifik, berbeda dengan adil menurut Fuqaha’. Adil bagi Muhadditsin adalah tidak pernah berbuat dosa besar dan tidak sering berbuat dosa kecil. Orang yang tidak adil disebut fasiq. Orang fasiq beritanya tidak dapat dipercaya. Kebenaran beritanya harus diteliti lagi (tabayun).

Al-Qur’an surat al-Hujurat ayat 6 mengajarkan kepada kita bagaimana harus bersikap terhadap berita yang dari orang fasiq: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kau menyesal atas perbuatanmu itu.”

Seorang nabi, perawi dan wartawan, dari sisi “berita” pada hakikatnya mempunyai tugas yang sama, yaitu sebagai pembawa berita. Oleh sebab itu seorang wartawan yang dipercaya adalah wartawan yang memiliki sifat shidq, amanah, tabligh dan fathanah para nabi. Memiliki kepribadian yang adil, kecerdasan dan ketelitian seperti para perawi.

Akankah kita para jurnalis, wartawan, kuli tinta – atau apalah namanya – mampu memiliki sifat-sifat seperti itu? Karena sifat-sifat tersebut adalah sifat-sifat yang sesuai dengan fitrah manusia, tentu tidak ada yang tidak bisa asal mau dan berusaha untuk itu.

Artikel ini pernah dimuat di SM No. 3 tahun 1992