Gerakan Modernis Kyai Dahlan

Kiai Haji Ahmad Dahlan (Dok SM)

Sebagaimana sebuah pribahasa, “Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading,” karena kebaikan seseorang akan selalu dikenang.

Pada tanggal 23 Februari 1923 KH Ahmad Dahlan berpulang sehingga banyak orang merasa kehilangan akan sosok tauladan. Tokoh besar yang mendorong umat untuk meninggalkan kebodohan, keterbelakangan, ketersesatan, serta menuntunnya kepada Islam yang berkemajuan, yaitu Islam rahmatan lil alamin.  Beliau meninggalkan sebuah amanah besar kepada generasi setelahnya, organisasi Islam (Muhammadiyah) yang memiliki cita-cita mewujudkan masyarakat Islam sebenar-benarnya di tengah rasa kebhinikaan yang kental.

Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah pada saat umat Islam sedang mengalami pembusukan secara sistematis dengan hilangnya nilai spiritualitas Islam dalam persoalan-persoalan rasional yang terjadi di kehidupan sehari-hari, seperti kemiskinan, ketertindasan, kebodohan, keterbelakangan, dan lain sebagainya. Maka disinilah Muhammadiyah berfokus untuk memberdayakan umat yang selama ratusan tahun mengalami marginalisasi kolonial di berbagai bidang kehidupan. Hal inilah yang memotivasi KH. Ahmad Dahlan untuk berjuang menolak kemunduran.

Sebagai gerakan modernis, Muhammadiyah tidak hanya berhenti pada tataran retorika belaka, tetapi lebih banyak melakukan modernisasi dengan upaya-upaya praktis. Upaya-upaya tersebut dilakukan secara sistematis dan teratur melalui organisasi modern dengan memformulasikan kepribadian, keyakinan, dan cita-cita hidup, serta aturan-aturan internal keorganisasian. Posisi modernis Muhammadiyah terletak pada inovasinya untuk tidak terikat dengan suatu madzhab tertentu. Muhammadiyah juga tidak terpaku pada pendapat ulama tertentu, baik dalam menentukan suatu hukum agama maupun dalam menafsirkan al-Qur’an.

Pendiri Muhammadiyah KH. Ahmad Dahlan dengan kemampuan berbahasa arabnya yang fasih mendemonstrasikan suatu tafsir yang sama sekali baru. Pada suatu forum pengajian, beliau menafsirkan dengan mengartikan kata demi kata dalam al-Qur’an. Kemudian memberikan penjelasan yang berkaitan dengan situasi kontekstual. Bahkan tidak berhenti di situ saja, beliau melanjutkan dengan konkretisasi dari nash al-Qur’an. Ada sebuah anekdot yang sangat terkenal di kalangan Muhammadiyah tentang Kyai Dahlan yang secara berulang-ulang mengajarkan tafsir surat al-Ma’un. Salah seorang muridnya bertanya mengapa tidak ada penambahan pelajaran.

Maka dijawablah oleh Kyai Dahlan, “Apakah kamu sudah mengerti betul?”

Sang murid tersebut menjawab, “Kita sudah hafal semua, Kyai

Kalau sudah hafal apakah sudah kamu amalkan?”

Apa yang harus diamalkan? Bukankah surat al-Ma’un berulangkali kami baca dalam shalat?”

Bukan itu yang saya maksudkan. Diamalkan artinya dipraktikkan, dikerjakan! Rupanya kalian belum mengamalkannya. Oleh karena itu mulai pagi ini, saudara-saudara agar berkeliling mencari orang miskin. Kalau sudah dapat, bawa pulanglah ke rumah kalian masing-masing. Berilah mereka sabun agar mereka bisa mandi, berilah mereka pakaian yang bersih, kemudian berilah mereka makan dan minum serta tempat tidur di rumah kalian. Sekarang juga pengajian saya tutup dan saudara-saudara melakukan perintah saya tadi”. (Diko)