Tantangan Kebudayaan Saat Ini

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

MHH PWM Sumut Kutuk Keras Pelaku Teror yang Catut Muhammadiyah Klaten

MEDAN, Suara Muhammadiyah - Majelis Hukum dan HAM Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Propinsi Sumatera Utara (MHH PWM Sumut) mengutuk keras tindakan teror dan...

MCCC Sumut Genjot Bantuan Edukasi

MEDAN, Suara Muhammadiyah - MCCC Sumatera Utara terus menggenjot kegiatan penyaluran bantuan dan edukasi. Berbagai upaya terus dilakukan agar upaya penghentian pandemi...

Haedar Nashir: Buya Syafii Tokoh Spesial Muhammadiyah dan Bangsa

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Dalam rangka Tahniah 85 tahun Buya Ahmad Syafii Maarif yang bertepatan pada tanggal 31 Mei 2020, Ketua Umum...

Perayaan Hari Tanpa Tembakau Sedunia: Rokok dan Corona

Setiap tanggal 31 Mei, masyarakat global selalu memperingati hari tanpa tembakau sedunia setiap tahunnya. Istilah sederhananya, warga +62 menyebutnya dengan ‘hari bebas...

Kak Seto: Indonesia Dibekap Covid-19, Disekap Bahaya Rokok

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Seto Mulyadi dari Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia ikut menyampaikan pidato pada agenda Gelar Budaya Amal Muhammadiyah, Sabtu...
- Advertisement -

Bangsa Indonesia saat ini dihadapkan pada perubahan sosial yang luar biasa kompleksnya. Hal ini merupakan akibat dari globalisasi dan modernisasi tahap lanjut. Biaya hidup instan mewarnai sebagian masyarakat Indonesia di kota maupun di desa hingga sudut-sudut di tanah air. Anak-anak kecil dibiasakan hidup dengan dimanjakan teknologi virtual yang mengajarkan segala kemudahan sampai dewasanya. Sekaligus, sarat jebakan karena menjadi objek teknologi ketimbang subjek teknologi.

Pengaruh ekonomi kapitalistik telah mengubah wajah masyarakat Indonesia menjadi semakin berorientasi ekonomi-uang, menerabas, hedonis dan egoistik. Politik menjadi sarat modal dan menumbuhkan perilaku politik transaksional yang sangat liar. Kehidupan sosial-budaya yang juga mengalami perubahan sosial yang kapitalistik, sehingga segala hal banyak dimodifikasikan atau diperjual-belikan, termasuk anak manusia layaknya benda di pasar bebas.

Bangsa Indonesia yang penduduknya beragam tidak bisa dibiarkan berwatak sekular dan serba bebas mengurus karakter dirinya selaku masyrakat religius. Sebaiknya, bangsa Indonesia atasnama kepribadiannya di masa lampau tidak boleh pula dibiarkan tertinggal dari bangsa-bangsa lain. Dalam konteks ini pentingnya stategi kebudayaan Indonesia yang membangun karakter keadaban Islami atau religios sekaligus berkemajuan.

Masyarakat berkemajuan yang dimaksud merupakan masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai keadaban yang luhur. Keadaban adalah bagian dari kebudayaan, yang menunjukkan orientasi perilaku kolektif dalam relasi sosial masyarakat berdasarkan ajaran moral yang dianut. Masyarakat Indonesia yang dikenal religius dapat memberi corak khazanah pada mozaik kebudayaan khususnya keadaban masyarakat sebagai suatu proses yang wajar dalam pembentukan budaya.

Setiap anggota masyarakat seyogiyanya hidup berdampingan dalam tatanan kehidupan dengan menjunjung tinggi pluralitas, toleransi, rasionalitas, keterbukaan, persamaan, taat aturan, menghargai orang lain, menerima perubahan serta menjamin kemerdekaan berpikir, berbicara dan berkreasi dalam mencapai kemajuan.

Bangun keadaan publik yang serba utama berbaris moral agama dan keluhuran kebudayaan Indonesia. Agama memiliki peran penting dalam membentuk watak dan perilaku setiap warga negara dalam hidup berbangsa dan bernegara.

Penanaman etika moral agama dalam setiap warga negara menjadi program mendesak untuk dilaksanakan dalam rekonstruksi kehidupan kebangsaan. Penegakan norma dan etika agama yang teraktualisasi dalam kehidupan sosial politik, sosial ekonomi, dan sosial budaya yang mencerahkan kehidupan bangsa harus menjadi gerakan nasional yang masif.

Penting untuk dibudayakan bahwa tidak seorang pun calon pemimpin negara dan pejabat publik dapat menduduki jabatan jika sebelumnya terdapat catatan cacat moral dan buruk. Termasuk etika dalam bersikap dan bertutur kata agar tidak semaunya menabrak keadaban masyarakat yang berbudi mulia. Disinilah tantangan umat beragama, bagaimana mengarahkan kebudayaan masyarakat agar maju berkeadaban.(hns)

Artikel ini pernah dimuat di Majalah SM Edisi 03 Tahun 2018

- Advertisement -
- Advertisement -

More articles

- Advertisement -