Batik dan Pemberdayaan di Kauman: Refleksi Hari Perempuan Internasional

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

Rektor UNMUHA: PTMA Harus Punya Branding yang Kuat

BANDA ACEH, Suara Muhammadiyah – Unmuha adalah salah satu perguruan tinggi yang merupakan penyumbang pemikiran pendidikan di Indonesia. Universitas Muhammadiyah Aceh memproritaskan...

Saatnya Melangkah Berjamaah

Sudah lelah kita berwacana…Sudah lelah kita berdebat……Sudah lelah kita saling bersaing antar sesama…..Sudah lelah kita saling bermain sendiri-sendiri… KINI...

Lima Poin Pernyataan PP Muhammadiyah terkait New Normal

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengeluarkan pernyataan sikap terkait dengan pemberlakuan New Normal. Berbagai pemberitaan dan pernyataan Pemerintah tentang “new...

Ikhtiar Perangi Corona, MCCC Bersama Warga hingga Lembaga Mitra

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Wabah Covid-19 telah membawa dampak luas bagi kehidupan warga tidak hanya di Indonesia namun juga dunia secara umum....

Hukum Anak Melihat Aurat Ibu

Pertanyaan: Saya mau bertanya. Salah satu orang yang dapat melihat aurat perempuan adalah anaknya sendiri. Bagaimana hukum seorang anak...
- Advertisement -

Suara Muhammadiyah – Kampung Kauman Yogyakarta, merupakan tempat kelahiran Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah. Hingga saat ini, kampong tersebut dikenal sebagai Kampung Muhammadiyah, karena disana dilahirkan atau berdomisili para tokoh Muhammadiyah serta organisasi yang berkiprah di bawah Muhammadiyah.

Dalam kehidupan kaum wanita, kampung Kauman mencatat perkembangan sejarahnya yang tersendiri. Dari aktivitas di bidang perdagangan khususnya batik, kini wanita Kauman mengambil peranan yang lebih bervariasi dlam berbagai profesi.

Sejak awal abad ke-20, perdagangan batik di Kauman berkembang ke tingkat nasional. Produknya yang ditujukan untuk berbagai tingkat dan golongan masyarakat dapat mencapai kota-kota seperti Medan, Jakarta, Surabaya dan Semarang. Perdagangan ini bermula dari kerajinan membatik yang dilakukan wanita. Sementara itu, suami menjadi “abdi dalem” (pegawai Kesultanan Yogyakarta) atau sebagai pedagang. Ternyata keterampilan ini berkembang menjadi suatu kegiatan ekonomi yang berarti.

Dengan adanya perkembangan pemasaran batik, masyarakat Kauman meningkatkan kerajinan batik dari pekerjaan sambilan ke arah perusahaan. Pertama, makin meningkatnya pecinta kerajinan batik di daerah-daerah pemasaran sehingga banyak pesanan yang datang. Banyaknya jumlah pesanan yang tidak seimbang dengan produksi yang masih bersifat kerajinan sehingga timbil pikiran untuk mendirikan perusahan batik.

Kedua, status mereka sebagai “abdi dalem” memudahkan mereka untuk mendapatkan kepercayaan dari pemerintah sehingga memudahkan jalan untuk mendapatkan bahan baku batik. Ketiga, didorong motivasi untuk memenuhi kebutuhan hidup karena penghasilan sebagai “abdi dalem” kurang mencukupi. Padahal mereka semua mau melepas diri dari hambatan itu, karena termasuk status sosial yang terpandang. Bahkan memudahkan mereka untuk memperoleh kepercayaan dari pemerintah serta mendapatkan fasilitas bahan batik.

Selain batik, wanita kauman juga mengerjakan kerajinan menyulam makhramah, yaitu penutup kepala wanita. Gadis Kauman memang dibekali dengan berbagai keterampilan seperti menjahit, menyulam dan membatik.(rahel)

- Advertisement -
- Advertisement -

More articles

- Advertisement -