Kezaliman Menuai Badai

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

Ucapan dan Harapan Berbagai Tokoh pada Milad ke-55 UMP

PURWOKERTO, Suara Muhammadiyah – Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), di 2020 ini, telah genap berusia 55 tahun sejak resmi didirikan pada 5 April 1965. Sejumlah...

Mushola Ranting Muhammadiyah Tirtonirmolo Lakukan Sosialisasi dan Salurkan Bantuan Wabah Covid-19

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah– Mushola Babul Khoir yang dikelola oleh Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Tirtonirmolo turut terlibat dalam pencegahan...

Aliansi BEM DKI: UMJ Tidak Ikut Terlibat, UHAMKA Klarifikasi Informasi yang Beredar

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Seiring dengan beredarnya kabar di media mengenai Konferensi Pers yang bertajuk “COVID-19: Lockdown, Solusi atau Politisasi,” secara tegas BEM Universitas Muhammadiyah...

7 Film tentang Muhammadiyah dan Tokohnya

Suara Muhammadiyah - Siapa tak kenal Muhammadiyah. Sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia bahkan di dunia Muhammadiyah telah dan terus...

Gerakan Ta’awun Sosial PCA Gondomanan Yogyakarta

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Gerakan ta'awun sosial Aisyiyah terus dilakukan dalam kondisi darurat wabah Korona atau Covid-19. Dalam kondisi seperti ini salah...
- Advertisement -

Hakim, polisi, dan pengacara dijerat lembaga antiruswah dan sebagian sudah masuk penjara. Jika para penegak hukum terjerat kasus hukum bagaimana nasib bangsa dan negara hukum? Ibarat pepatah, pagar makan tanaman. Apapun menjadi tidak aman karena penjaga hukum kehilangan amanah. Hukum dirusak oleh penegaknya sendiri.

Keadaan malah tambah parah. Penegak hukum arogan dan sewenang-wenang. Siapapun seakan mudah dijebloskan ke bui hanya oleh seorang petinggi penegak hukum yang sok kuasa. Orang dijerat hukum karena mengusik kepentingannya. Sementara para penjahat kelas berat yang merusak negara dibiarkan leluasa karena sejalan dengan kepentingannya. Ketika diingatkan oleh para ulama dan penjaga moral bangsa malah mencerca dengan congkak, seolah negara ini miliknya. Kekuasaan dan arogansinya melebihi pemimpin tertinggi negeri. Atasnama hukum malah semaunya sendiri. Sungguh mengerikan, mau dibawa kemana negara hukum ini?

Lihatlah keganjilan dan keanehan yang terjadi di hadapan publik. Seorang penegak hukum pangkat rendahan malah diketahui memiliki rekening gendut 1,2 triliun. Sebelum ini beredar di media tentang rekeningrekening gendut, lalu menguap entah ke mana. Mereka yang pangkatnya di bawah bisa leluasa memiliki uang tak jelas melampaui batas, bagaimana dengan yang di atas. Media dan siapapun yang mengusik malah dimasalahkan dan terancam ditersangkakan. Padahal skandal demi skandal bermunculan di depan mata. Hukum dan penegak hukum menjadi organ superkuasa melebihi kekuasaan negara itu sendiri.

Hakim yang konon kekuasaannya luar biasa juga bermasalah. Sebagian terpidana karena korupsi, lainnya skandal moral. Padahal kalau memutus perkara kekuasaannya mutlak, malah absolut. Sebagian orang bilang, kuasa hakim mirip kuasa Tuhan. Astaghfirullah al-adhim, bagaimana kedigdayaan hukum malah diselewengkan dan disalahgunakan oleh otoritas yang kekuasaannya dinisbahkan dengan otoritas Ilahi. Padahal gajinya sudah melebihi pejabat lain. Moral ternyata tidak sejalan dengan gaji, karena manusia mengidap penyakit rakus.

Para wakil rakyat malah seolah senang komisi antiruswah lemah dan dilemahkan. Beragam dalih pembenar dikumandangkan. Katanya, tidak boleh ada lembaga superbodi di negeri ini, seraya lupa mereka sering memposisikan diri sebagai kekuatan superbodi. Sulit memahami pola pikir para wakil rakyat yang terhormat itu, segala masalah seolah ringan di hadapannya. Mereka kini malah menyiasati agar memperoleh dana aspirasi yang besarnya spektakuler, Rp 20 miliar perorang perdapil. Jika dikalikan lima tahun sepanjang masa jabatan, mereka menyalurkan 100 miliar. Sungguh tak mudah meraba kadar moralitas dan nilai-nilai luhur yang melekat dalam diri para elite politik, semuanya seakan ringan.

Inikah zaman edan seperti telaah budaya Ronggowarsito? Jika tidak ikut edan tak kebagian. Artinya kejahatan, keserakahan, dan kezaliman menjadi luas. Sementara kebenaran, kebaikan, dan keadaban makin terasing. Mereka yang normal menjadi abnormal, sebaliknya yang rusak dan tidak karuan seolah menjadi benar dan lazim. Nilai benar dan salah, baik dan buruk, serta pantas dan tidak pantas campur aduk penuh ketidakjelasan. Malah menjadi ironi, serba berbalik. Mereka yang benar bisa menjadi salah, yang salah menjadi benar. Sebagian masyarakat pun cenderung tidak peduli dengan nilai-nilai utama kebajikan.

Allah memberi peringatan keras dalam Al-Qur’an, yang artinya: “Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat ‘adzab yang pedih” (Qs Asy-Syuuraa: 42). Perbuatan zalim adalah tindakan yang sewenang-wenang, yang membuat orang lain teraniaya. Perbuatan seperti itu sifanya gelap alias sesat (dhulumat), yang jauh dari hidayah Allah. Kezaliman itu biasanya datang dari orang atau pihak yang memiliki kekuasaan dan bermoral buruk, yang memberikan dirinya keleluasaan untuk berbuat sekehendaknya.

Orang zalim dengan kekuasaan yang dimilikinya sering lupa kalau perbuatan jahat dan sewenangwenangnya itu akan membelit dirinya. Kata pepatah, siapa menabur angin menunai badai. Kejahatan atau kezaliman sekecil apapun pada akhirnya akan bermuara pada dirinya, jika tidak kontan maka akan menjadi utang yang melilit hidupnya. Saksikan nasib Fir’aun yang diazab Tuhan di Laut Merah. Sabda Nabi, ad-dhulmu dhulumatu yauma al-qiyamah, bahwa “kezaliman itu merupakan kegelapan di hari kiamat.” (HR Bukhari, Muslim, Ahmad, dan At-Tirmidzi dari Abdullah bin Umar). (A Nuha)

Artikel ini pernah dimuat di Majalah SM Edisi 16 Tahun 2015

- Advertisement -
- Advertisement -

More articles