Geliat Muhammadiyah di Australia

Pertemuan Komite Pendirian Sekolah Muhammadiyah Australia Islamic School (MAIS) bersama Muhammad Edwars (nomor 3 dari kanan) dan Konjen RI di Melbourne, Dewi Savitri Wahab

Jumlah Muslim diperkirakan hanya 3% dari total penduduk Australia, atau sekitar 500 ribu dari total 24 juta penduduk. Dalam publikasi terkait demografi Muslim Australia yang dirilis University of South Australia pada 2015 lalu, disebutkan bahwa 78% dari total Muslim Australia menghuni New South Wales dan Victoria. 75% tinggal di Kota Sydney dan Melbourne. Sedangkan 19% sisanya tersebar di sejumlah kota: Perth (7.5%), Brisbane (6.3%), Adelaide (3.8%), dan Canberra (1.6%).

Meskipun persentasenya rendah, Islam di Australia merupakan agama kedua dengan pertumbuhan tertinggi setelah agama Hindu. Muhammad Edwars, Penasehat Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Australia dan New Zealand (ANZ) melihat bahwa hari ini Muslim di Australia selalu berusaha berintegrasi dan memberikan sumbangan positif terhadap masyarakat, lingkungan, dan pemerintah. Paling tidak, Edwars memperkirakan bahwa telah ada dua orang anggota federal parlemen yang beragama Islam.

“Dewasa ini kita melihat sumbangan umat Islam tidak hanya terbatas pada sumbangan tenaga kerja dan profesional seperti akuntan, guru, pengacara, dokter, tetapi juga sudah merambah kepada sumbangan ide dan pemikiran melalui media massa dan partai politik,” katanya. Masjid-masjid pun secara periodik membuka pintu selebar-lebarnya bagi masyarakat luas untuk ikut serta dalam event-event nasional seperti festival lokal atau pun yang digelar di negara bagian.

Muhammadiyah di Australia

Di Australia, perjumpaan islam dengan penduduk setempat diperkirakan telah terjadi sejak abad ke-18. Beberapa literatur menyebutkan bahwa pelaut asal Makassar mencari Teripang hingga ke pantai Utara Australia. Di saat yang sama, mereka yang sebagian besar Muslim, telah melakukan interaksi dengan penduduk asli Australia. Pada akhir abad 19, para penunggang unta yang datang dari Pakistan dan Afghanistan mulai berdatangan ke Australia. Banyak dari mereka yang menetap dan menikah dengan masyarakat setempat. Baru pada 1900, gelombang buruh imigran masuk ke Australia dari Timur-Tengah, Turki, Albania, Bosnia, Libanon, dan Afrika.

Saat ini, Muslim Australia diperkirakan berasal dari 183 negara

Melihat ragam etnisitas dan nasionalitas yang membentuk Muslim Australia hari ini membuatnya menjadi salah satu komunitas agama yang paling heterogen di Australia. “Iklim keberagaman dibangun berdasarkan prinsip saling menghormati dan menghargai,” terang Edwars.

Bagi Edrwars, cukup sulit menghitung berapa jumlah komunitas Muslim di Australia. “Ada kelompok berdasarkan daerah asal, ada kelompok berdasarkan manhaj pemikiran, dan ada kelompok berdasarkan kelompok umur atau profesi. Untuk Indonesia, kita mempunyai payung organisasi di setiap negara bagian,” lanjutnya. Melalui payung organisasi komunitas Muslim Indonesia inilah, melalui PCIM ANZnya yang berdiri sejak 9 Desember 2007 dan PRIM yang tersebar di sejumlah negara bagian, biasanya Muhammadiyah menjalin kerjasama dengan komunitas Muslim lainnya.

Edwars pun menerangkan bahwa kegiatan dakwah PCIM ANZ secara garis besar dibagi dalam dakwah internal dan dakwah eksternal. Secara internal, PCIM ANZ yang berpusat di Melbourne bersama-sama PRIM New South Wales di Sydney, PRIM Queensland di Brisbane, PRIM Western Australia di Perth, dan PRIM South Australia di Adelaide, secara rutin mengadakan pengajian mingguan dan bulanan bagi warga Muhammadiyah yang menetap atau mahasiswa.

Sedangkan secara eksternal, warga Muhammadiyah juga aktif di kelompok-kelompok pengajian dan masjid-masjid sebagai jamaah, pengurus, dan narasumber. Para kader Muhammadiyah Australia aktif memperkenalkan Islam kepada masyarakat Australia melalui diskusi tatap muka, tulisan di media mainstream, dakwah online, dan street dakwah. Muhammadiyah di Australia juga aktif membina generasi muda dengan mendirikan dan mengelola Madrasah Sunday School bagi anakanak atau youth programs bagi remaja dan pemuda. “Dengan ini, kita bisa mewarnai dan menentukan arah kegiatan-kegiatan dan kajian-kajian yang ada,” kata Edwars.

Menyemai Pendidikan Muhammadiyah di Australia

Layaknya kelompok minoritas di berbagai belahan negara lainnya, umat Islam di Australia menghadapi tantangan tersendiri. Mulai dari kehidupan sehari-hari dan masyarakat yang tidak mengenal Islam, tuntutan hidup dan pekerjaan yang kurang bersahabat terhadap pelaksanaan ibadah, hingga ‘scare campaign’ dari politikus dan media radikal sayap kanan.

“Seperti Pauline Hanson dan Cory Bernardy yang tiada henti menyebarkan dusta dan fitnah untuk menyemaikan kebencian dan ketakutan masyarakat luas terhadap Islam dan Muslim,” terang Edwars. Namun, ia bersyukur bahwa dengan adanya tantangan tersebut, membuat Muslim Australia menjadi vibrant (bersemangat) dan termotivasi untuk melakukan pembenahan dan berdakwah menyebarkan syiar kepada sesama Muslim dan nonMuslim di Australia.

Soft Launching SM Corner Australia (Dok SM)
Soft Launching SM Corner Australia (Dok SM)

“Tidak terhitung banyaknya orang dari berbagai latar belakang yang tertarik mengetahui lebih dalam tentang Islam. Kediaman saya selalu didatangi orang-orang yang ingin belajar tentang Islam dan hampir semuanya pada akhirnya menjadi mualaf,” tuturnya.

Bahkan, di tengah tantangan tersebut, Muhammadiyah berencana mendirikan sekolah Islam pertamanya di Australia. Hal ini karena dari sepuluh sekolah Islam yang ada di Melbourne, Victoria, hanya mampu menampung 20% dari anak-anak Muslim usia sekolah. Jauh lebih rendah dari serapan sekolah Katolik yang mencapai 34%. Ini adalah peluang besar bagi Muhammadiyah untuk menyemai pendidikannya di Australia.

Edwars, yang juga salah satu penanggung jawab pendirian Sekolah Muhammadiyah yang akan berlokasi di Melbourne, Victoria, menerangkan bahwa sejak Januari lalu PP Muhammadiyah telah memutuskan pembentukan konsorsium yang terdiri dari Universitas Muhammadiyah Malang, UMY, UAD, Universitas UMS, UHAMKA, UMJ, dan UNISA Yogyakarta. Saat ini, pihaknya sedang melakukan penjajakan lahan bekas sekolah di Keysborough, tenggara Melbourne, dan lahan seluas 6 hektare sekitar 20 km ke arah Barat Kota Melbourne. “Konsorsium ini akan membiayai pembelian lahan dan pembangunan gedung sekolah yang diperkirakan akan memakan biaya sekitar 42 Milyar Rupiah atau 4,2 juta dollar Australia. Untuk penjajakan dan negosiasi ini, kita dibantu oleh Konsulat Jenderal RI di Melbourne dan juga seorang politikus kawakan dari Partai Labor,” tegasnya.

Edwars berharap, proses akuisisi salah satu dari dua target lahan akan rampung sebelum bulan Juni tahun ini (2017), sehingga proses legal, pembangunan gedung, promosi, dan pendaftaran sekolah bisa dimulai secepatnya.

Muhammadiyah Australia Islamic School (MAIS) memiliki visi menggabungkan Pendidikan Muhammadiyah yang menekankan pada pembentukan akhlaq dan aqidah dengan sistem pendidikan di Victoria yang menekankan pemikiran tingkat tinggi, kemampuan teknologi, komunikasi, dan kolaborasi.

Sehingga, visi sekolah Islam bukan hanya sekedar label. Namun sekolah yang benar-benar bisa merefleksikan dan merepresentasikan ajaran-ajaran Islam dalam sikap, tingkah laku, dan semangat ihsan, sehingga mampu berkontribusi bagi masyarakat luas di Australia dan global. “Mereka akan dididik menjadi Muslim yang bangga dengan keislamannya karena sumbangan dan partisipasi mereka terhadap masyarakat luas. Mohon doa dan dukungan seluruh saudara seiman di Indonesia untuk mewujudkan Sekolah MAIS di Melbourne ini,” tutup Edwars. (Th)

Artikel ini pernah dimuat di Majalah SM Edisi 8 Tahun 2017