Menguatkan Akidah Tanpa Mengkafirkan

JEWEL SAMAD/AFP/GettyImages

Dalam salah satu keputusan Muktamar Muhammadiyah 47 di Makassar pada pembahasan mengenai isu-isu strategis terdapat poin yang menyoroti masalah takfiri (paham beragama yang cenderung mengkafirkan kelompok lain). Ada yang mendukung masalah ini muncul dalam rekomendasi, tetapi ada yang menyayangkan. Alasan yang menyayangkan masih diperlukan takfiri dalam menguatkan akidah umat.

Namun jika kita lihat sejarah yang ada, munculnya takfiri ini pertama kali pada era munculnya kelompok kawarij yang mengkafirkan kelompok lain yang tidak sepaham dengan kelompoknya. Jadi takfiri ini tidak terkait masalah akidah tetapi lebih pada kepentingan kelompok. Dalam bahasa sekarang sering disebut dengan kepentingan politik.

Pada era Nabi Muhammad SAW, dalam menguatkan akidah umat juga tidak dilakukan dengan metode takfiri. Karena sebetulnya yang iman itu jelas, dan yang kafir itupun sudah jelas dan tidak perlu ditunjuk-tunjuk. Bahkan kaum kafir ini merupakan obyek dakwah Islam. Jika mereka ditunjuk-tunjuk sebagai kafir, boleh jadi mereka yang sudah mendekat malah akan menjauh.

Nabi lebih menekankan pada kebenaran Islam dalam menguatkan akidah. Dan kebenaran Islam ini lah yang disampaikan kepada yang lain agar mereka tertarik masuk Islam. Sebagaimana terlihat dalam surat Al Kahfi ayat 29 sebagai berikut:

Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir.” Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek. (Al Kahfi 29).

Kebenaran Islam inilah yang disampaikan oleh Nabi ketika berdakwah kepada kaum Thaif, kepada penduduk Makkah, disampaikan kepada penguasa-penguasa kerajaan yang ada saat itu lewat suratnya dari Madinah sebagai pusat kekuasaan Islam waktu itu.

Demikian pula yang dilakukan KHA Dahlan dalam menyuarakan Islam, KHA Dahlan lebih menekankan kepada kebenaran Islam. Ia menyeru kepada umat untuk beribadah secara benar sesuai yang diajarkan Allah dan Rasulnya. Salah satunya dengan menghadap kiblat yang benar. KHA Dahlan juga berdialog dengan pemuka-pemuka agama yang lain untuk menyatakan kebenaran Islam.

Seruan utama Islam adalah agar manusia beribadah hanya kepada Allah SWT dan tidak memusyrikkanNya atau menyekutukanNya. Ini merupakan ajaran pokok yang jika dilakukan secara benar akan menghasilkan perilaku yang terpuji karena dilandasi keimanan. Prilaku yang akan menarik orang-orang non Islam untuk mempelajari Islam.

Seruan agar manusia beribadah hanya kepada Allah ini dalam Islam terlihat dalam penyeruan untuk menegakkan shalat. Dan perilaku sholat ini sesuai yang dilakukan Rasulullah “Shollu kama roaitumuni usholli” artinya “Sholatlah kamu sebagaimana kamu lihat (bagaimana) aku sholat” (HR Muslim), Perilaku sholat sesuai Nabi inilah syariah. Dan sholat yang benar akan dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar (akhlak), sebagaimana termaktub dalam Quran surat Al Ankabut ayat 45:

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al ‘Ankabut: 45).

Dengan demikian akidah yang benar akan dijalani dengan syariah yang benar, dan syariah yang benar akan menghadirkan akhlakul kharimah. Akhlakul kharimah akan membuat daya tarik Islam menjadi lebih kuat. Hal ini tidak akan terjadi jika dilakukan dengan takfiri, hanya akan membuat orang benci dan akan menjauhkannya pada Islam. Siapa tahu yang melakukan takfiri itu sebetulnya yang kafir dan yang ditunjuk sebagai kafir itu sebetulnya yang Islam sebagaimana kaum kawarij menuduh sejumlah sahabat sebagai golongan kafir. Waalahu’alam bishawab. (Lutfi Effendi)

Artikel ini pernah dimuat di Majalah SM Edisi 17 Tahun 2015