Ghazan Khan: Pembaru Muslim dari Mongol

Dok Azerbaijan Rugs

Oleh: Zalik Nuryana

Sejarah perjalanan umat Islam memiliki kekhasan tersendiri pada setiap daerah yang diduduki dan ia memiliki sejarah panjang dan variasi model penyebaran yang unik dan berliku. Jika dilihat dari perspektif Barat, Islam tidak lebih dari ajaran yang diperjuangkan dengan darah dan pedang. Namun sebaliknya, justru Islam telah melakukan pembebasan bagi masyarakat lokal yang ditindas atas hegemoni dua imperium besar saat itu yakni Persia dan Romawi.

Kemunculan Bangsa Mongol di bawah pimpinan Chengis Khan merupakan bagian dari sejarah dunia yang menarik dan popular, terutama bagi peradaban Islam. Keturunan Chengis meninggalkan pengaruh signifikan bagi peradaban manusia. Setelah Kublai, sejarah Mongol Khan Agung juga berakhir dan wilayah kekuasaan Kublai terbagi menjadi lima dinasti merdeka: China, Chagtai, Golden Horde, Ilkhan, dan Siberia.

Ilkhan, adalah salah satu cabang dari Dinasti Mongol yang didirikan Hulagu Khan

Ilkhan dalam bahasa Mongol berarti kepala suku, dalam makna khusus di kalangan Mongol disebut wakil dari pusat kekuasaan Khan Agung. Ilkhan menjadi pusat peradaban dan masa keemasan di bawah kepemimpinan Ghazan Khan. Ghazan adalah pemimpin yang membawa perubahan dan menjadikan Ilkhan dinasti paling maju dalam sejarah bangsa Mongol Islam.

Ghazan dan Islam

Ghazan lahir pada 4 Desember 1271 M di Abaskun dekat Bandar-e-Shah, sebelah Tenggara Laut Kaspia. Ketika ayahnya, Arghun, berkuasa, ia telah menjadi Ilkhan dalam usia 13 tahun dan menghabiskan waktu dengan Abaga, kakeknya, dan dididik untuk mempelajari agama Buddha, seperti kepercayaan yang dianut oleh ayah dan kakeknya. Ghazan kecil hidup dalam lingkungan religius Buddha yang taat. Ketajaman akal, intelektual, dan wawasan yang luas membawanya cepat memahami esensi dan makna dari pengajarannya. Ghazan menjadikan doktrin, peribadatan, dan seluk-beluk komunitasnya secara mendalam, dan mencapai kesempurnaan yang menjadikannya ahli dalam bidang agama Buddha.

Ghazan masuk Islam pada 19 Juni 1295 M atau 4 Sya’ban 694 H (24 tahun), disertai 100.000 bangsa mongol

Ada yang menyebutkan, ia masuk Islam diikuti 400.000 orang, termasuk komandan, wazir, dan prajuritnya, bahkan ada yang menyebutkan 10.000 orang. Proses masuk Islamnya Ghazan di antaranya karena jasa Jenderal Nawroz yang membantu perjuangannya melawan Baydu: jika ia memenangkan melawan Baydu, ia akan menerima Islam. Keterangan lain menjelaskan, ia pindah agama ketika terjadi perjanjian pada masa Baydu: antara bangsa Mongol dan kaum Muslim Persia.

Kaum Muslim bersumpah dengan Al-Qur’an dan Mongol dengan emas. Dalam pertemuan itu, terjadi dialog antara Nawroz dan Ghazan membahas tentang Islam. Selain itu, mereka juga memberikan hadiah kepada Ilkhan Baydu berupa potongan mutiara yang sangat indah, tetapi Ilkhan mereka tidak diberi apa pun sebagai balasannya. Ghazan merasa gusar. Setelah peristiwa itu, Shekh Sadr al-Din yang beragama Islam mengabdikan seluruh hidupnya untuk melayani sang pemimpin. Ghazan pun banyak bertanya tentang doktrin Islam sedetail dan sebenar mungkin. Sehingga awal November 1295 Ghazan menambah namanya menjadi Mahmud Ghazan Khan.

Pembaruan Ghazan Khan

Ghazan naik tahta pada 3 November 1295 dan berusia 24 tahun. Saat Ghazan naik tahta, kas negara kosong. Harta yang diperoleh berlimpah hasil penaklukan Baghdad dicuri oleh penjaga, dan digunakan semena-mena sebelum Ghazan (sejak Abaga sampai Arghun), bahkan sampai saat Ghazan naik tahta. Selama Ghazan memerintah, ada beberapa pembaruan yang dilakukan sehingga membawa Ilkhan menjadi The Golden Age of Islam Post Baghdad. Masuknya Ghazan ke Islam menandai perubahan yang sangat fundamental dalam proses islamisasi yang membuat Ilkhan selanjutnya menjadi dinasti independen dan kembali memperoleh posisi terhormat atas agama lain.

Ghazan menetapkan Islam sebagai agama resmi negara dan menyebut dirinya ruler by the grace of God (Sultan berkat rahmat Ilahi)

Pada mas Ghazan, motif dan gaya Mongol telah berubah secara signifikan. Meskipun ia penerus pemimpin Mongol, tetapi ia tidak menggunakan kebijakan yang keras. Untuk membantu para petani kecil yang tidak mampu membeli benih untuk kebun dan makanan untuk ternaknya, Ghazan mewajibkan semua gubernur dan pemungut pajak agar menyisihkan uang pajaknya dengan jumalah tertentu untuk pembelian semua binatang yang digunakan tenaga, benih, dan keperluan pertanian lainnya dalam bukti dokumen, sehingga seluruh provinsi terdapat daftar semua binatang yang dipakai, dan memperkuat perkebunan. Ghazan juga mengenalkan metode baru dengan menyusun rumah-rumah penyimpanan kekayaan negara yang dijaga ketat, dan buku khusus penjaga yaitu buku khusus tentang keperluan uang negara.

Ghazan adalah seorang pelindung ilmu pengetahuan dan sastra. Ia menyukai arsitektur dan ilmu pengetahuan alam, seperti astronomi, kimia, dan mineralogi. Ia membangun perguruan tinggi untuk madzhab Syafi’i dan Hanafi, serta mendirikan perpustakaan dan observatorium. Ghazan juga memunculkan koin yang bertuliskan nama Allah di satu sisi dan Muhammad di sisi satunya, yang sebelumnya menggunakan nama Khaqan (raja agung). Sedangkan kalender yang saat ini masih dikenang berkat jasanya adalah kalender Ilkhan dengan mengubah dasar perhitungan kalender dari Syamsiyah ke Qamariyah, dan mengkombinasikan antara bahasa Mongol dengan nama hari dan bulan dari kalender Hijriyah yang diciptakan Umar Ibn Khattab.

Zalik Nuryana, Dosen PAI UAD Yogyakarta, Anggota Majelis Pendidikan Kader PDM Sleman

Artikel ini pernah dimuat di Majalah SM Edisi 15 Tahun 2017