Kilas Balik Milad IMM ke-23: Melewati Masa Kritis

Batik IMM

Oleh: Syamsul Hidayat Al Jambary

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) adalah organisasi otonom (ortom) Muhammadiyah yang tergolong muda dibanding dengan ortom-ortom lainnya, misalnya Pemuda Muhammadiyah, Nasyiyatul Aisyiyah, IPM dan sebagainya.

IMM didirikan pada tanggal l4 Maret 1964. Organisasi mahasiswa yang sering disebut-sebut sebagai organisasi kader elite dalam Muhammadiyah ini bertujuan ”Mengusahakan terbentuknya akademisi Islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah” (AD’ IMM Bab II pasal 6).

Dari rumusan tujuan yang termaktub dalam AD-nya itu mengandung tiga dimensi pemahaman. Pertama, IMM sebagai organisasi kader; kedua, IMM sebagai organisasi dakwah dan ketiga, IMM sebagai eksponen mahasiswa dalam Muhammadiyah.

IMM sebagai organisasi kader senantiasa berupaya mengadakan proses untuk mengaktualisasikan dan mengembangkan potensi manusiawi anggota IMM sesuai dengan fitrah yang diberikan Allah Swt, yakni mengupayakan terbentuknya ”kader ummat dan kader bangsa”.

Dalam konteks dengan Persyarikatan Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam, dakwah dan tajdid, IMM memiliki fungsi dan peranan strategis di masa depan, terutama sebagai pelopor, pelangsung dan penyempurna amal-usaha Muhammadiyah. Fungsi dan peranan strategis itu terletak pada posisi penting IMM sebagai “kader intelektual Muhammadiyah” yang terutama diharapkan memberikan kontribusi positif berupa pcmikiran atau konsep strategis dalam upaya meningkatkan peranan dakwah dan tajdid Muhammadiyah dalam menghadapi perubahan sosial dan tantangan zaman.

Begitulah ide-ide yang diperuntukkan buat IMM. Bagaimanakah realitanya? Baiklah, selanjutnya marilah kita sejenak menengok ke belakang dan melihat ke dalam.

Latar-belakang Berdirinya IMM

IMM yang didirikan pada tanggal 14 Maret 1964 di .Yogyakarta bermula dari kelompok diskusi dan pengajian mahasiswa di gedung PP Muhammadiyah Yogyakarta. Kemudian melebarkan diri menjadi kelompok-kelompok IMM lokal. Misalnya di IKIP Bandung, Medan, Jember, Yogyakarta dan lain-lain.

Dan baru tanggal tersebut di atas, bertepatan dengan 29 Syawwal 1384 didirikanlah di Yogyakarta organisasi bernama Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Yang selanjutnya pada Musyawarah Nasional 1 di Solo, tanggal 1 s/d 5 Mei 1986 dikeluarkan suatu piagam penyatuan segenap organisasi mahasiswa Muhammadiyah yang di daerah-daerah.

Sejak itulah IMM memformulasikan diri sebagai Gerakan Mahasiswa Muhammadiyah yang berskala nasional dengan satu Pimpinan Pusat. Dan resmi pula sebagai ortom yang bernaung di bawah panji-panji Muhammadiyah. (Mustafa Kamal Pasha, Yogya, 1983).

Untuk mengetahui latar-belakang secara utuh, baiklah kita tengok situasi nasional pada tahun-tahun awai berdirinya IMM sebagai setting sejarah yang perlu kita perhatikan.

  1. Situasi Sosio-kultural.

BERAWAL dari Dekrit Presiden, 1959 situasi nasional meluncur ke arah ‘Demokrasi Terpimpin  yang penuh dengan gejolak politik dan pertentangan antar golongan dan kekuatan sosial politik yang didominir oleh PKI. Politik mercusuar dan konfrontasi dengan Malaysia membuat Indonesia menjadi porak-poranda dalam bidang ekonomi.

Sedangkan pembinaan kebudayaan mengarah kepada “realisme sosial” versi Lekra. Kehidupan ummat beragama amat memprihatinkan, sehingga tak jarang kata “Tuhan” diperalat untuk kepentingan kekuasaan, akhlak tidak diindahkap sebagai landasan hidup berpribadi dan berbangsa.

  1. Situasi Kemahasiswaan

WAKTU itu, mahasiswa terkotak-kotak dalam bingkai partai politik, sehingga orientasi berpikirnya tidak lagi ke arah pembinaan intelektual, tetapi cenderung ke arah politik praktis. Hal yang demikian juga merembet kepada organisasi mahasiswa Islam; pembinaan kehidupan beragamanya lemah dan cenderung ke arah hal-hal yang materialistik, Latar-belakang inilah yang telah mendorong ”the founding fathers” IMM (seperti Mohammad Djazman, A. Rosyad Shaleh, Amin Rais, Sudibyo Markus, Muhammad Afif dan kawan-kawan) mendirikan IMM berdasarkan pokok-pokok pikiran sebagai berikut:

  1. Muhammadiyah adalah gerakan Islam Indonesia. Muhammadiyah perlu memperluaskan missinya ke semua lapisan masyarakat, termasuk dunia mahasiswa.
  2. Muhammadiyah memerlukan kelompok yang berbobot perpaduan antara intelektualitas dan aqidah, yang seharusnya dibina dari semenjak masa mudanya.

Dari latar-belakang inilah kita mengetahui bahwa IMM adalah Gerakan Muhammadiyah di kalangan mahasiswa yang merupakan suatu kelompok strategis dalam percaturan kepemudaan nasional. Dan sebagai Angkatan Muda Muhammadiyah ia mempunyai kaitan ideologis yang sangat mendasar dengan Muhammadiyah. (Agus Sumiyanto, Solo, 1985).

Dinamika IMM, Kemandekan dan Akibatnya

PADA periode 1964-1970 (dua periode kepemimpinan DPP-IMM) IMM menitikberatkan pada gerakan pembinaan dan konsolidasi. Waktu itu banyak ditekankan pembinaan personal, pembentukan dan pengembangan IMM di kota-kota universitas. Dan yang paling penting adalah peletakan dasar dan prinsip perjuangan IMM.

Dengan berdasarkan periode sebelumnya, maka pada periode ke III, IMM mengadakan penyempurnaan formulasi tujuan, peningkatan dan konkritisasi pola tugas atau usaha IMM serta penyusunan struktural yang mampu mewadahi pola tugas IMM tersebut. (Agus Sumiyanto, ibid, .)

Muktamar IMM ke-4 di Semarang 1975, persis bersamaan dengan situasi kemahasiswaan yang memang tidak menguntungkan bagi organisasi mahasiswa. Sebagai ekor pecahnya peristiwa MALARI yang menyebabkan aktifitas kemahasiswaan menurun drastis.

Sebagai organisasi yang berumur 12 tahun waktu itu, IMM menaruh harapan bisa meletakkan manuver-manuver yang bisa mendorongnya beradaptasi dan berakselerasi sesuai dengan perkembangan dunia kemahasiswaan ketika itu. Kepemimpinan kolektif dengan personil yang terpencar di empat kota (Jakarta, Yogyakarta, Bandung dan Surakarta) ternyata membuyarkan harapan yang telah dicetuskan dalam Muktamar IV Semarang. Ditambah lagi dengan kesibukan masing. masing pengurus di DPP–karena banyak yang telah meninggalkan bangku kuliah– maka sejak 1978 sebenarnya kondisi kepemimpinan sudah menunjukkan tidak ideal.

Tanwir IMM 1979 merencanakan Muktamar ke-V bulan Oktober tahun itu juga. Tetapi apa yang terjadi, kepengurusan ”di DPP makin kehilangan arah, sehingga tidak fungsional lagi. Tidak ada aktifitas organisasi yang mengarah dan mendorong kegairahan berorganisasi di tingkat Daerah dan Cabang. Akhirnya, organisasi di tingkat bawah berjalan sendirisendiri dan seadanya.

Dari kemandekan-kemandekan yang dialami oleh kepemimpinan IMM, utamanya di tingkat pusat membawa akibatakibat yang diderita oleh IMM hingga kini,yaitu:

  1. IMM makin eksklusif, tidak banyak dilibatkan dalam kegiatan kemahasiswaan/kepemudaan di tingkat nasional.
  2. IMM tidak mampu merespon secara tepat setiap perkembangan yang muncul di kalangan mahasiswa dan pemuda.
  3. Terjadi stagnasi (kemacetan) di tingkat pusat.
  4. Hilangnya satu periode kepemimpinan, sehingga IMM mengalami kesenjangan pimpinan untuk satu periode dan tersendatnya regenerasi.
  5. Merosotnya kepercayaan induk orv ganisasi (Muhammadiyah) terhadap IMM.
  6. Terputusnya komfmikasi antar Daerah dan atau Cabang.
  7. mampu bersaing dengan ‘ AMM lain (Pemuda Muhammadiyah,’ IPM, Nasyiyatul Aisyiyah dan Tapak SuCl ).
  8. Kecilnya kontr1bus1’IMMterhadap Muhammadiyah.
  9. Tidak munculnya wawasan baru untuk pengembangan IMM di masa mendatang.
  10. Tidak bisa memanfaatkan secara maksimal berbagai potensi yang dimiliki Muhammadiyah (M Rusli Karim, Solo, 1986).

Syukuran, Terbebas dari Masa Kritis

KITA harus bersyukur, IMM yang sering disebut orang sebagai kader elite dalam Muhammadiyah telah melewati masamasa kritis, dengan bangkitnya kembali pada tahun 1985. Kebangkitannya diawali dengan pertemuan DPD (Dewan Pimpin: an Daerah) se Jawa di Solo, 1985. Dari pertemuan ke pertemuan akhirnya terbentuklah kepengurusan DPP (sementara).

Artikel ini pernah dimuat di  Majalah Suara Muhammadiyah No 8 tahun 1987