Masa Kecilku Tak Terlupakan

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

Ucapan dan Harapan Berbagai Tokoh pada Milad ke-55 UMP

PURWOKERTO, Suara Muhammadiyah – Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), di 2020 ini, telah genap berusia 55 tahun sejak resmi didirikan pada 5 April 1965. Sejumlah...

Mushola Ranting Muhammadiyah Tirtonirmolo Lakukan Sosialisasi dan Salurkan Bantuan Wabah Covid-19

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah– Mushola Babul Khoir yang dikelola oleh Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Tirtonirmolo turut terlibat dalam pencegahan...

Aliansi BEM DKI: UMJ Tidak Ikut Terlibat, UHAMKA Klarifikasi Informasi yang Beredar

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Seiring dengan beredarnya kabar di media mengenai Konferensi Pers yang bertajuk “COVID-19: Lockdown, Solusi atau Politisasi,” secara tegas BEM Universitas Muhammadiyah...

7 Film tentang Muhammadiyah dan Tokohnya

Suara Muhammadiyah - Siapa tak kenal Muhammadiyah. Sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia bahkan di dunia Muhammadiyah telah dan terus...

Gerakan Ta’awun Sosial PCA Gondomanan Yogyakarta

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Gerakan ta'awun sosial Aisyiyah terus dilakukan dalam kondisi darurat wabah Korona atau Covid-19. Dalam kondisi seperti ini salah...
- Advertisement -

Cerpen oleh Margaretha Mera Sola

Bagiku, masa kecil adalah masa yang paling menyenangkan. Mengenang kembali masa kecil bisa membuatku tersenyum.

Mengenang masa kecil memang sangat menyenangkan. Ketika berusia empat sampai sepuluh tahun itu sangat menyenangkan, sangat menggembirakan hati. Saat itu, banyak hadiah kuterima dari orang yang kusayang. Dari orang tuaku, kakakku, dan Omku.

“Mera….Mera……,” seru mereka memanggilku.

Aku pun datang sambil berlari.

“Ayo dong, bernyanyi, Mera,” pinta mereka.

Aku pun bernyanyi lagu kesayanganku.

Mereka hanya memintaku untuk bernyanyi dan setelah itu hadiah pun kuterima. Mereka senang, aku pun gembira. Kebiasaan ini terus berlanjut hingga aku dewasa.

Handphone di tangan berdering, kulihat ternyata panggilan telepon dari Papa.

“Hallo, Papa…..”

“Hallo juga, Mera…”

Setelah menanyakan kabarku, Papa menyanyi lagu yang sering kunyanyikan kemudian menanyakan apa lagunya. Kadang memintaku meneruskan lagu yang dinyanyikannya lewat telepon itu.

Lagu-lagu yang kunyanyikan itu ternyata masih diingat Papa dan Mama sampai sekarang. Seringkali ketika saya pulang atau menerima telpon dari mereka, lagu itu selalu mereka nyanyikan. Lalu mereka menanyakan judul lagu itu kepadaku.

Rasanya lucu ketika mendengar lagu itu dinyanyikan Papa atau Mama. Dan derai tawa kami pun bergema bersama. Itulah yang membuat aku akrab dengan Papa dan Mamaku. Lagu masa kecilku.

Satu hal lagi yang menyenangkan hati adalah ketika bepergian dengan keluarga. Ketika mereka melakukan perjalanan ke mana saja, pasti selalu membawaku. Rasanya luar biasa, merasa dicintai dan diperhatikan oleh keluarga.

Sungguh senangnya merasakan betapa besarnya kasih seorang ayah dan ibu kepada anaknya. masa kecil yang tak terlupakan.

Sekarang saya sudah dewasa, tetapi bayang-bayang masa kecil tidak pernah hilang dalam ingatan. Ketika bermain bersama teman-teman tanpa mengenal waktu, bercanda dan bertengkar itu sudah biasa. Kebahagiaan hadir dengan begitu sederhana lewat hal-hal kecil.

Saya punya teman-teman untuk bermain. Kami biasa bermain petak umpet, Bermain di sawah, kasti. Semuanya seru, apalagi kalau sudah main kasti, Papa dan Mama kadang tertawa terbahak-bahak melihat kami. Permainan kasti adalah memukul bola yang dilempar lawan sejauh-jauhnya, tapi yang kami lakukan adalah melempar pemukul sejauh-jauhnya. Begitulah, permainan itu tak pernah serius, kami tak peduli, yang penting semuanya bahagia.

Di sawah-sawah yang membentang luas, kami mencari buah-buahan yang ada di ladang untuk makan bersama. Sering juga kami menangkap capung dan belalang, berlomba mengumpulkan sebanyak-banyaknya. Tak peduli yang sedang terbang di udara atau yang hinggap di ranting-ranting dan pucuk daun tanaman, akhirnya kami bisa menangkapnya. Itulah yang menyenangkan hatiku bersama temanteman.

Selain bermain di sawah, kami biasanya mencari telur dalam jerami. Kegiatan ini sangat seru. Hanya saja kami tak bisa menikmatinya setiap hari. Hanya waktu-waktu tertentu, pada musim ayam-ayam betina bertelur. Peternakan itu berada tak jauh dari tempat bermain kami. Ayam-ayam itu dibiarkan bebas tanpa dimasukkan ke kandang.

Inilah kisah-kisah masa kecil yang membuat saya merasa bahagia bersama keluarga yang sungguh mencintai saya.

Margaretha Mera Sola, Mahasiswa Prodi PAUD Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta

Artikel ini pernah dimuat di Majalah SM Edisi 15 Tahun 2017

- Advertisement -
- Advertisement -

More articles