22.3 C
Yogyakarta
Minggu, Juli 5, 2020

Islam Berkemajuan Mencerahkan Keadaban Bangsa

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

Inovasi Mahasiswa FT UM Magelang, Ciptakan Cetakan Gula Jawa Ergonomis

MAGELANG, Suara Muhammadiyah - Pandemi Covid-19 tidaklah menghalangi kreativitas mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Magelang. Terbukti mereka mampu membuat sebuah terobosan teknologi...

Download Logo Milad IPM ke-59

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Ikatan Pelajar Muhammadiyah memperingati Milad ke-59 pada tanggal 18 Juli 2020. Pimpinan Pusat IPM telah...

Bantuan FKIP Unismuh untuk Masyarakat Terdampak Banjir Luwu Utara

LUWU UTARA, Suara Muhammadiyah – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar menyalurkan bantuan untuk korban banjir di Kabupaten...

Kolaborasi dengan BEM, FAI UMY Bantu Mahasiswa Terdampak Pandemi

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) memberikan bantuan donasi kepada mahasiswa terdampak pandemi Covid-19.  Wakil Dekan II...

Nelayan Aceh, Pahlawan Kemanusiaan

LHOKSEUMAWE, Suara Muhammadiyah - Dunia kembali dihebohkan dengan peristiwa para nelayan yang membantu para pengungsi ditengah lautan bebas. Kejadian ini terjadi pada...
- Advertisement -

Prof Dr H Haedar Nashir, MSi

Muhammadiyah dalam bilangan tahun miladiyah berusia 103 tahun, yang jatuh pada 18 November 2015. Sedangkan menurut kalender hijriyah berumur 106 tahun, terhitung tanggal 8 Dzulhijjah 1436. Ibarat usia manusia, perjalanan satu abad itu sungguh tua. Tidak banyak organisasi yang seumur itu dengan perkembangan dakwah dan amal usaha yang sangat besar dan luas, serta kepercayaan masyarakat yang cukup baik. Muhammadiyah dalam rentang perjuangan yang panjang itu sangatlah kaya pengalaman suka dan duka, yang menjadikan dirinya makin kuat dan kokoh, sekaligus banyak godaan dan tantangan.

Karenanya perlu bersyukur kepada Allah atas karuniaNya yang sangat berharga itu, sebaliknya janganlah ingkar nikmat karena adzab-Nya sangatlah pedih (Qs Ibrahim: 7). Caranya, memanfaatkan seluruh potensi yang dimiliki secara optimal, sehingga gerakan Islam ini makin berkemajuan serta memberi manfaat sebesar-besarnya bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan semesta. Setiap anggota, kader, dan pimpinannya berkhidmat sepenuh hati untuk kepentingan kemajuan gerakan.

Usia yang panjang itu sampai batas tertentu tidak kecuali membuat Muhammadiyah memiliki kelemahan yang harus diperbaiki dan diperbarui. Karena besar Muhammadiyah kadang lambat bergerak, kurang militansi, dan bergerak apa adanya. Bahkan, ada konflik atau gesekan di dalam terutama menyangkut urusan amal usaha, yang membuat tidak produktif dan menghabiskan energi. Ada pula di antara para kader atau pimpinan dan anggotanya lemah komitmen pada Persyarikatan.

Organisasi yang besar itu godaan dan tantangannya juga besar, ibarat pohon tinggi yang terpaan anginnya pun luar biasa kencang

Atas segala kelemahan dan kekurangannya, maka Muhammadiyah penting bermuhasabah diri. Bermuhasabah atas apa yang selama ini diperbuat untuk mengetahui kekurangan dan makna amal yang dilakukan. Laksana orang beriman yang harus diuji keimanannya dan beramal yang harus dibuktikan keikhlasan dan nilai kebaikannya (Qs Ali Imran: 142; Al-Isra’: 7 dan 36). Bagi para anggota, kader, dan pimpinan cara bermuhasabah ialah dengan bertanya pada diri, sudah sejauhmana komitmen dan pengkhidmatan yang diberikan untuk memajukan Muhammadiyah di tempat masing-masing secara tulus dan optimal?

Islam Berkemajuan

Muhammadiyah dalam memasuki abad kedua makin dituntut untuk menghadirkan dakwah dan tajdid yang berkemajuan. Pandangan Islam Berkemajuan sudah menjadi pendirian dan paham Muhammadiyah sejak awal berdiri, yang secara sistematik telah dikodifikasikan pada Muktamar Satu Abad tahun 2010 di Yogyakarta dan terkandung dalam rumusan Pernyataan Pikiran Muhammadiyah Abad Kedua. Dalam suasana Muktamar ke-47 di Makassar yang baru berlalu, diksi dan tema Islam Berkemajuan bahkan mencuat ke permukaan nasional dan internasional, bersamaan dengan isu Islam Nusantara yang diusung Nahdlatul Ulama dalam Muktamarnya di Jombang.

Muktamar di Makassar sendiri menggambarkan spirit, pikiran, dan suasana Islam Berkemajuan. Pemikiran program, dakwah komunitas, Negara Pancasila sebagai Darul Ahdi wa Syahadah, dan isu-isu strategis mencerminkan Islam Berkemajuan. Pelaksanaan Muktamar yang mandiri, modern, canggih, tertib, elegan, bermartabat, dan lancar tanpa gaduh tidak lain dari wajah Islam Berkemajuan. Muhammadiyah mampu membuktikan tanpa banyak bicara dan retorika yang muluk-muluk suatu model pergerakan dan aktualisasi Islam Berkemajuan di dunia nyata.

Islam Berkemajuan bersumber pada Al-Qur’an dan Sunnah Nabi yang mengajarkan nilai-nilai kemajuan. Insan Muslim baik individu maupun kolektif haruslah maju di segala bidang kehidupan karena dirinya selain abdi Allah yang menjalankan fungsi ibadah (Qs Adz-Dzariyat: 56), pada saat yang sama berperan sebagai khalifat fil-ardh yang berfungsi memakmurkan bumi (Qs Al-Baqarah: 30; Hud: 61). Kaum Muslimun di mana dan kapan pun berada haruslah maju dengan iqra, tafakur, tadazbur, tanadhar, ta’alum, tafaqqah, tadzakur, dan segala aktivitas hidup. Bangun kehidupan yang lebih baik dalam bingkai habluminallah dan habluminannas yang seimbang (Qs Ali Imran: 112). Kaum Muslimun yang unggul harus beriman, berislam, berihsan, berilmu, dan beramal secara simultan.

Kaum Muslimun juga harus mau mengubah nasib (Qs ArRa’d: 11) serta memperhatikan masa depan (Qs Al-Hasyr: 18) sehingga mencapai kemajuan melebihi umat-umat yang lain. Dengan kualitas kemajuan yang dicapai itu maka umat Islam dapat menjadi umat yang unggul sebagai khaira ummah (Qs Ali Imran: 110) yang menjadi umat tengahan dan pelaku sejarah (Qs Al-Baqarah: 143). Kaum Muslimun yang berwawasan Islam Berkemajuan dengan kualitasnya yang unggul dan berdaya saing tinggi itu akan mampu menjadi golongan umat yang menyebarluaskan rahmat bagi semesta alam.

Nabi Muhammad melalui sabda dan shirah nabawiyahnya memberi uswah hasanah bagaimana kaum Muslim menyebarluaskan dan mewujudkan Islam Berkemajuan

Bertebaran Hadits Nabi yang mengajarkan umat untuk maju dan utama. Nabi akhir zaman itu merupakan Al-Qur’an yang berjalan, sebagaimana kesaksian Siti Aisyah. Selama 23 tahun di Makkah dan Madinah beliau wujudkan Islam sebagai agama yang membangun peradaban (Din al-Hadharah), yang dilambangkan dalam Fathu Makkah dan Madinah Al-Munawwarah. Sebuah kota kemenangan dan peradaban yang cerah mencerahkan.

Dari qudwah Nabiyullah itu Islam menjadi agama peradaban yang maju dan unggul selama lima sampai enam abad lamanya. Islam dan kaum Muslimun melalui pencerahan akidah, ibadah, akhlak, muamalah, dan ilmu pengetahuan modern mampu menyebarkan dan mewujudkan peradaban yang mendunia. Itulah era kejayaan Islam, era pencerahan Islam, dan era keemasan Islam yang menyinari dunia. Islam menyebarluas ke seluruh penjuru dunia, tatkala masyarakat Barat masih tertidur lelap di era kegelapan. Itulah era dunia modern Islam, yang mengilhami bangsa-bangsa lain untuk memacu peradaban baru sampai akhirnya era keemasan Islam itu redup dan digantikan kemajuan dunia Barat modern.

Mencerahkan Keadaban

Kemajuan yang dibangun Islam bersifat multiaspek, termasuk kemajuan keadaban. Muhammadiyah mengikuti jejak perjuangan dan risalah Nabi Muhammad untuk menyempurnakan akhlak manusia menuju al-akhlaq al-karimah. Baik akhlak manusia beriman kepada Khaliqnya, kepada sesama, maupun kepada lingkungan sekitarnya sehingga kehidupan menjadi selamat di dunia dan akhirat. Melalui risalah Islam maka dibangun keadaban umat manusia yang utama sebagai insan yang sebaik-baiknya penciptaan. Inilah misi dakwah Islam Berkemajuan yang bersifat universal menuju keadaban yang utama di muka bumi.

Pada dasarnya Allah menciptakan manusia itu berkeadaban yang mulia dengan ditanamkannya fitrah selaku insan bertuhan dan beragama yang bersih jiwanya sejak awal penciptaan (Qs Ar-Rum: 30). Manusia bahkan merupakan makhluk yang diciptakan Allah dengan sebaik-baiknya ciptaan (Qs At-Tin: 4). Dengan hidayah Ilahi manusia menjadi beriman dan dengan itu dirinya memiliki fondasi yang kokoh untuk berbuat yang benar, baik, dan pantas serta menjauhi yang salah, buruk, dan tidak pantas. Puncaknya manusia menjadi makhluk Allah yang mampu membangun peradaban yang utama melampaui makhluk Tuhan yang lainnya.

Namun manusia juga diberikan dalam dirinya hawa nafsu (Qs Asy-Syams: 7-8) sehingga sering tergoda berbuat yang salah, buruk, dan tidak pantas. Kepentingan-kepentingan duniawi yang melebihi takaran membuat manusia jatuh ke lembah kehinaan, sehingga kehilangan nilai keadabannya (Qs At-Tin: 5). Manusia dengan hawa nafsunya yang tidak terkendali berbuat kerusakan di muka bumi

Manakala manusia berbuat kerusakan (fasad fil-ardh) maka kehancuran yang ditimbulkannya sangatlah dahsyat seperti perang, pembunuhan, merusak alam, dan segala bentuk kejahatan yang meluas. Peradaban pun jatuh akibat ulah manusia sendiri.

Kini kehidupan modern disebut menjunjung tinggi keadaban seperti hak asasi manusia, demokrasi, dan hal-hal yang positif lainnya. Namun pada saat yang sama sering terjadi antar kelompok atau individu manusia saling menyerang, membunuh, merendahkan, dan segala bentuk penistaan. Anak-anak, perempuan, dan siapapun yang lemah menjadi korban kekerasan dan pelecehan. Alam dirusak dan dimusnahkan seperti dalam kebakaran hutan, eksploitasi sumberdaya alam, dan lain-lain. Korupsi, penyelewengan, dan segala tindakan yang berlawanan dengan nilai-nilai moral meluas dalam kehidupan. Bentuk-bentuk kebiadaban baru terjadi di belahan dunia, yang menghancurkan peradaban umat manusia seperti dilakukan Israel terhadap bangsa Palestina.

Pada saat ini beragam bentuk ketakadaban mewarnai ruang publik. Aborsi, lokalisasi pelacuran, hubungan sejenis, minuman keras, dan kemaksiatan ingin dilegalkan dengan dalih hak asasi manusia. Media elektronik, media sosial, dan ruang publik sering disalahgunakan untuk perbuatanperbuatan yang tidak menunjukkan keadaban mulia. Relasi sosial tidak jarang diwarnai tindakan rasis, diskriminasi, dan kekerasan, termasuk kekerasan atas nama agama. Sebagian orang dengan mudah melenyapkan nyawa sesama tanpa perikemanusiaan. Nilai-nilai kasih sayang, persaudaraan, dan sopan santun pun mengalami peluruhan. Karenanya dengan pandangan Islam Berkemajuan maka Muhammadiyah terpanggil untuk meningkatkan peran dakwah mencerahkan keadaban bangsa. Nashru min Allah wa fathu qarib.

Sumber: Majalah SM Edisi 21 Tahun 2015

- Advertisement -
- Advertisement -

More articles