Jatam: Upaya Meningkatkan Level Ekonomi Petani

Dok SM

Adalah Jatam (Jamaah Tani Muhammadiyah) nama wadah untuk mengorganisir para petani yang digagas oleh Majleis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah. Belum lama dibentuk, Jatam kini sudah ada di Klaten (Jawa Tengah) dan Pekalongan (Jawa Tengah). Terbaru, deklarasi Jatam menggema di Sragen (Jawa Tengah) dengan anggota mencapai 100 petani.

Menurut Adib Nurhadi Koordinator Jatam Pusat, hal ini adalah bentuk tindak lanjut dari Rakornas (Rapat Koordinasi Nasional) MPM di Surakarta Maret 2018 lalu. Berdasarkan amanat Rakornas MPM di Surakarta tersebut, lanjut Adib, disimpulkan bahwa memberdayakan petani bukan hanya pada sektor on farm tapi juga pada off farm-nya. Petani tidak hanya didampingi untuk bertani yang bagus tapi juga didampingi untuk memasarkan hasil pertaniannya dengan bagus.

“Di situlah kemudian muncul gaagasan perlunya organisasi petani guna mengakses pasar yang labih baik, dalam bahasa kami adalah upaya untuk meningkatkan level ekonomi para petani. Itulah yang kami sebut dengan Jamaah Tani Muhammadiyah (Jatam),” terangnya kepada Suara Muhammadiyah baru-baru ini.

Organisasi yang diharapkan menjadi payung besar bagi para petani ini, Adib menjelaskan, secara spesifik memang beranggotakan petani Muhammadiyah atau anggota persyarikatan yang mempunyai kegiatan di sektor pertanian. Namun lebih luas lagi, Jatam juga menampung siapapun yang mempunyai kompetensi dan attensi di wilayah pertanian. “Sehingga semuanya bisa terikat dalam organisasi Jatam ini, baik ranah Ranting, Cabang, hingga Daerah” ucap Adib.

“Katika Jatam sudah berdiri di Cabang-cabang Muhammadiyah dan tersebar di banyak daerah, tentunya ini akan memudahkan MPM dalam pendataan. Sebab MPM memiliki kepentingan untuk mendata berapa jumlah petani Jatam dan seberapa besar luasannya. Dari situ MPM mempunyai data riil tentang potensi serta langkah-langkah yang harus ditempuh,” imbuhnya.

Layaknya organisasi induknya, yaitu Muhammadiyah, konsep Jatam pun memiliki unit amal usahanya yang bernama Luku (Lembaga Usaha Kelompok Unggul), semacam koperasi. “Sampai hari ini Luku sudah melakukan aksi-aksi nyata seperti membuka pasar, mendampini petani memiliki beras berkualitas, dan juga sudah melakukan pengiriman-pengiriman ekspedisi pasar,” papar Adib.

“Memang sejauh ini fokus Luku adalah membuka pasar dengan target yang rasional, yaitu memprioritaskan pemasaran di internal Muhammadiyah. Namun ke depan dan sekarang sedang diupayakan juga membuka pasar yang lebih luas lagi. Termasuk pula menjadikan Luku (koperasinya Jatam) sebagai tempat penyedia pupuk, bibit-bibit unggul, dan mampu memenuhi seluruh kebutuhan anggota Jatam,” harapnya. (gsh)

Artikel ini pernah dimuat di Majalah SM Edisi 12 Tahun 2018