Kala Kunang-kunang di Bawah Rembulan

Ilustrasi Salt Lake Tribune

Cerpen: Algazali Lantera

Tepat tanggal 19 Oktober bertepatan dengan ulang tahunnya. Pagi ini aku dapat kiriman darinya seperti kiriman sebelum-sebelumnya, sambal khas buatan bundaku yang sangat pedas dan sebuah petuah darinya.

Hari ini aku kirimkan sambal kesukaan mu, kamu yang rajin belajar agar kamu nanti sukses. Masih ingatkan janjimu? Kamu ingin ajak bunda pergi ke Makkah? Semoga kamu jadi anak yang shalih dan berguna pada bangsa. Aku yakin suatu saat kamu akan jadi orang besar.

Aku terlahir di desa yang terpencil. Jangankan jaringan internet, jaringan untuk seluler pun belum ada. Jadi biasanya aku melepas rindu dengan orangtuaku via pos. Kami sekeluarga tiga orang. Ayahku telah tiada ketika tertimbun tanah saat longsor terjadi, kala itu ayahku sedang mencari kayu bakar. Kini hanya ibu dan si bungsu adikku yang sekarang duduk di bangku SD.

Aku adalah mahasiswa yang lama menyelesaikan kuliah karena terkendala biaya, tapi itu bukanlah sesuatu yang tak pantas memberhentikanku untuk mengejar mimpiku. Hampir enam tahun lamanya aku menyandang gelar mahasiswa. Sepulang dari kampus aku melihat sebuah surat, “Aku tak tahu harus berbuat apa lagi, aku tak sanggup lagi menahan tangisku, kesakitan dan berpura-pura lagi. Sudah sebulan bunda sakit, sepulang sekolah aku cari kayu bakar untuk memasak dan malamnya aku merawatnya. Sesekali tetangga datang menjenguk dan menanyakanmu. Lalu bunda menyahut dia lagi sedang belajar. Dia tidak mau mengganggumu, aku juga berusaha supaya kamu tidak mengetahuinya, namun kondisi bunda semakin hari semakin parah.

“Wassalam, dari adindamu, maafkan saya, tidak bisa menjaga bunda dengan baik.”

Setelah membaca surat itu pandanganku nanar dan langsung mengemas semua pakaianku. Dalam perjalanan aku selalu mendoakan mereka dan merasa bersalah atas beban yang ditanggung bunda kepadaku.

Sesampainya di sana aku bergegas masuk ke rumah dan langsung memeluk bundaku dan menangis di pelukannya. Adikku yang baru pulang bawa kayu langsung memelukku dan berkata, “Maafkan aku, Kak.”

“Sudah sebulan yah, jadi kamu yang buat sambal itu, kamu sudah hebat sekarang, kamu anak yang hebat dibanding abangmu ini.”

Sambil mengeluarkan air mata, “sebenarnya saya ingin membuatkannya untuk kakak tapi katanya ini adalah kado untuk kakak di hari ulang tahunnya.”

Air mataku pun jatuh menetes dengan sendirinya. Lalu segera aku menggendong bundaku menuju angkot untuk membawanya ke rumah sakit.

Sesampainya disana aku diberi tahu dokter bahwa perlu dilakukan operasi segera.

“Tolong, dok, tolong ibuku,” pintaku.

Setelah itu aku berjalan menuju ruang administrasi. Sesuai dengan perkiraanku biayanya sangat mahal. Aku kembali melihat ibuku yang terbaring di ranjang rumah sakit itu dan merahasiakan semuanya kepada ibuku lalu aku berkata kepada ibu, “ibu akan segera sembuh, aku janji”.

Tak muluk-muluk aku berusaha mencari uang, pinjam sana pinjam sini dan jual barang-barangku. Sedang adikku melakukan rutinitasnya, yaitu mencari kayu bakar. Setelah berberapa hari berlalu, suatu ketika aku duduk termenung di pinggir sungai memungut buah jatuh yang tumbuh di dekat pinggir sungai, lalu kubungkus dengan daun sebanyak empat puluh lima buah. Sebanyak itulah sisa waktuku bersama bunda. Sejenak aku merenung kemudian berganti dengan perasaan gelisah lalu aku mencari kembali rupiah-rupiah itu berada.

Malam harinya seperti biasa aku dan adikku ke rumah sakit menjenguk bunda. Aku berkata pada adikku jangan pasang muka sedih di depan bunda, tetaplah tersenyum. Sesampainya di sana aku lihat wajah ibuku yang sangat kurus, aku kembali merasa bersalah terhadap ibuku dan hampir mengeluarkan air mata. “Ayo, Kak. Kakak yang selalu bilang ke aku, bahwa dunia ini sangat kejam, tetapi Tuhan Maha Penyayang.”

Terdengarlah suara ibu yang tadinya ia tertidur, “Kalian capek, ya?”

“Tidak, Bu. Kami sehat. Kami gemuk-gemuk. Tapi lihat ibu, ibu sangat kurus. Ibu cepat sembuh, ya, kami sangat rindu ibu. Makan bersama-sama lagi.”

Ibuku tersenyum.

Kembali dokter menyuruhku untuk menemuinya. Dokter mengatakan, dalam tiga hari lagi jika tidak dioperasi, mungkin ia tidak bisa diselamatkan lagi. Penyakit ibuku sudah terlalu akut. Kankernya sudah mulai menyebar ke seluruh jaringan tubuh lainnya. Tidak dapat ditahan lagi.

Aku keluar dari ruangan itu lalu kembali menenangkan perasaan dengan pergi ke pinggir sungai. Aku genggam buah itu erat dan perlahan-lahan melepaskannya ke sungai yang mengalir hingga tersisa tiga. Kupandangi sungai yang mengalir tenang dan bertanya-tanya mengapa aku tidak seperti air itu?

Aku sudah sampai di titik putus asa dan hilang akal memikirkan apa yang terjadi pada masalah yang sedang kujalani. Malam harinya aku meminta akta tanah dan akta rumah kepada ibu.

“Jangan nak! Itu peninggalan ayahmu,” cegah ibu.

“Ini demi ibu. Kumohon, Bu. Kata dokter ibu harus segera dioperasi.”

Sejenak ibuku terdiam lalu berkata kepadaku, “hidup ini bagaikan lomba lari. Mungkin saja saya akan masuk finish seperti ayahmu lebih dulu dan saya yakin kamu akan menyusul kami.”

Sambil menangis aku berkata, “aku hanya ingin melihat ibu tersenyum bahagia sekali saja, bukan senyum yang dibuat-buat selama ini, senyum yang dibalut oleh derita.”

Aku langsung meninggalkan ibuku tanpa pamit. Dan setiba di rumah aku mencari akta tanah dan menemukannya di lemari dalam kamar bunda. Lalu aku melangkahkan kakiku untuk menjual akta tanah dan rumah tersebut.

Keesokan harinya pembeli datang ke rumah. Bersamaan dengan itu aku melihat adikku dan ibuku datang. Adik mendorongnya memakai kursi roda. Seketika itu aku langsung menghentikan transaksi kami. Akupun meninggalkan ibu dan adikku serta calon pembeli tadi. Aku berlari menuju ke pinggir sungai sambil menatap air sungai yang mengalir. Beberapa menit kemudian mereka datang menghampiriku.

“Nak, hatimu akan selalu sakit dan terkungkung jika selamanya memperhitungkan segala sesuatunya. Ayo,” sambil menarik daun yang kugenggam dan membuangnya ke sungai, “ayo kita pulang, ayo kita makan sama-sama lagi.”

Seminggu setelahnya bunda pun tiada. Aku tidak lagi melanjutkan kuliahku, namun proposalku diterima di pemerintah daerah. Sebuah proyek pembangkit listrik dari kotoran sapi. Kotoran sapi itu kutampung dan gas yang dihasilkan kujadikan pembangkit listrik, sebagian dijadikan gas untuk kompor dan limbahnya berupa cairan dialirkan ke sawah penduduk untuk dijadikan pupuk organik. Tak lama kemudian aku menjadi kepala desa dan adikku masuk perguruan tinggi.

Menjelang senja kami melangkahkan kaki meninggalkan pemakamannya. Malam harinya aku menulis kisah ini, kulihat kunang-kunang terbang di bawah cahaya rembulan. Memang cahaya rembulan membuat mataku melihat di malam hari, tetapi engkau seekor kunangkunang yang membuat hatiku melihat dalam kegelapan. Meski tak seterang rembulan engkau adalah cahayaku.

Artikel ini pernah dimuat di Majalah SM Edisi 19 Tahun 2015