33 C
Yogyakarta
Senin, Juli 13, 2020

Memandang Wabah Corona dari Aspek Teologis dan Sains

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

Kemenag: Tidak Ada Agenda Penghapusan Bahasa Arab dan PAI Di Madrasah

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah Kementerian Agama A Umar memastikan tidak ada penghapusan mata pelajaran...

AS Berikan Sanksi pada Anggota Partai Komunis China terkait Penahanan Muslim Uighur

Suara Muhammadiyah – Amerika Serikat pada Kamis (9/7) telah memberlakukan sanksi terhadap salah seorang politisi China, Chen Quangguo, beserta tiga pejabat senior...

Disambut Haru Keluarga, UMY Umumkan Penerima Beasiswa Dokter Muhammadiyah

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) kembali mengumumkan penerima Beasiswa Dokter Muhammadiyah. Pengumuman disampaikan Rektor UMY Dr Gunawan Budiyanto, MP...

Spirit Baru Suara ‘Aisyiyah

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Dalam rentang perjalanan yang sangat panjang Aisyiyah bersama Suara Aisyiyah telah menunjukkan jati dirinya sebagai gerakan perempuan Islam...

Idul Adha ala Muhammadiyah di Masa Pandemi Covid-19

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah-Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengadakan Pengajian Umum via Zoom bertema “Idul Adha di Masa Pandemi Covid-19” pada 10 Juli 2020. Pengajian...
- Advertisement -

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Terbatasnya nalar ilmiah umat Islam dalam memahami fenomena alam, berakibat pada respon umat Islam yang cenderung irrasional atau bertentangan dengan akal dan ilmu pengetahuan. Diantara mereka ada yang beranggapan bahwa wabah virus corona merupakan hasil konspirasi gerakan freemansory. Banyak juga yang menganggap wabah ini merupakan azab Tuhan untuk mereka yang berbuat kezhaliman. Mereka cenderung menolak saran ilmu pengetahuan khususnya ilmu kesehatan.

Dadang Kahmad, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah menjelaskan bahwa saat ini umat Islam tertinggal dalam bidang nalar, baik nalar akademik maupun nalar ilmiyah. Oleh karena itu sebagaimana yang dijelaskan dalam teori sosial agama, mereka masih berada dalam situasi teologis. Situasi ini adalah dimana orang dalam persoalan-persoalan hidup masih menggantungkan sepenuhnya kepada agama atau kepercayaan. Berbeda dengan orang-orang modern, mereka lebih cenderung memecahkan persoalan kehidupan dengan ilmu pengetahuan (sains).

“Oleh karena itu mengapa umat Islam dikebanyakan tempat selalu fatalis, pasrah, semuanya terserah Allah. Hal ini disebabkan karena keterbatasan nalar akademis dan nalar ilmiyah,” jelas Dadang, kepada Suara Muhammadiyah, Rabu (25/3).

Dadang menambahkan, ilmu pengetahuan di dunia Islam tidak berkembang dengan baik. Sehingga orang-orang Islam banyak bersandar kepada hal-hal yang bersifat teologis. Hal ini tentu berbeda dengan Muhammadiyah. Di samping teologis yang berdasar kepada Al-Qur’an dan Sunnah, Muhammadiyah juga menggunakan ilmu pengetahuan dalam melihat fenomena alam. Ilmu pengetahuan menempati nomor dua setelah Al-Qur’an dan Sunnah. “Muhammadiyah akan selalu berpegang kepada dua hal itu, pertama al-Qur’an-Sunnah dan yang kedua ilmu pengetahuan,” ujarnya.

Muhammadiyah sejak berdirinya sudah mengenalkan pendekatan rasional disamping pendekatan teologis. Dalam setiap terjemahan dan tafsir terhadap teks al-Qur’an maupun Hadis, Muhammadiyah selalu menggunakan tiga pendekatan yaitu bayani, burhani dan irfani. “Pendekatan burhani dan bayani itu merupakan pendekatan ilmiyah, sedangkan irfani itu lebih kepada spiritualitas atau teologis,” pungkasnya.(Diko)

- Advertisement -
- Advertisement -

More articles