Dra. Siti Noordjannah Djohantini; Gerakan Pencerahan untuk Kemajuan Perempuan Indonesia

Aisyiyah

Lahirnya ‘Aisyiyah sebagai gerakan perempuan Islam pada tahun 1917 okeh Kiai Haji Ahmad Dahlan dan Nyai Walidah Dahlan serta para muridnya sebagai bukti dari kepeloporan Muhammadiyah dalam mewujudkan gerakan pencerahan. Perempuan waktu itu dianggap sebagai “konco wingking” (teman belakang) yang pekerjaannya di rumah atau domestik, diajak bergerak ke lapangan publik yang lebih luas. Sewaktu ‘Aisyiyah berdiri, paham agama dan budaya masyarakat membelenggu dunia perempuan.

Perubahan lapangan gerak perempuan dari domestik ke publik tersebut merupakan kemajuan atau pembaruan yang luar biasa. Setelah perubahan oleh Muhammadiyah-‘Aisyiyah, perempuan menjadi maju. Ada yang menjadi mubalighat, guru, wirausaha, bekerja di tempat-tempat yang memerlukan keterampilan, dan mengaktualisasikan diri sejajar dengan laki-laki tanpa ada diskriminasi. Karenanya sumbangan Muhammadiyah bagi kemajuan perempuan sangatlah besar. Setelah berdiri ‘Aisyiyah mengambil peran penting itu dengan melakukan langkah-langkah untuk kemajuan perempuan. Keterlibatan ‘Aisyiyah dalam memprakarsai Kongres Wanita I tahun 1928 merupakan wujud dari gerakan pencerahan untuk kemajuan perempuan Indonesia.

Islam yang berkemajuan

Bagi kami, gerakan pencerahan dalam Muhammadiyah-‘Aisyiyah tidak lepas dari pandangan Islam yang berkemajuan, yang menjadi ciri khasnya. Muhammadiyah memiliki pandangan yang maju tentang Islam, kemudian mewujudkannya dalam berbagai usaha yang membawa kemajuan dalam seluruh dan bidang kehidupan. Dalam Pernyataan Pikiran Muhammadiyah Abad Kedua disebutkan, Muhammadiyah memandang bahwa Islam merupakan agama yang mengandung nilai-nilai kemajuan untuk mewujudkan kehidupan umat manusia yang tercerahkan. Kemajuan dalam pandangan Islam adalah kebaikan yang serba utama, yang melahirkan keunggulan hidup lahiriah dan ruhaniah.

Islam yang berkemajuan, menurut Muhammadiyah, memancarkan pencerahan bagi kehidupan. Islam yang berkemajuan menyemaikan benih-benih kebenaran, kebaikan, kedamaian, keadilan, kemaslahatan, kemakmuran, dan keutamaan hidup secara dinamis bagi seluruh umat manusia. Islam yang menjunjung tinggi kemuliaan manusia baik laki-laki maupun perempuan tanpa diksriminasi. Islam yang menggelorakan misi antiperang, antiterorisme, antikekerasan, antipenindasan, antiketerbelakangan, dan anti terhadap segala bentuk pengrusakan di muka bumi seperti korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, kejahatan kemanusiaan, eksploitasi alam, serta berbagai kemunkaran yang menghancurkan kehidupan. Islam yang secara positif melahirkan keutamaan yang memayungi kemajemukan suku bangsa, ras, golongan, dan kebudayaan umat manusia di muka bumi.

Baca Juga:   Mendirikan Bangunan di Atas Makam

Oleh karena itu, dalam pandangan ‘Aisyiyah, mengaktualisasikan Islam yang berkemajuan yang dikembangkan Muhammadiyah bagi masa depan umat dan bangsa sangat relevan dan prospektif, termasuk untuk kemajuan perempuan. Perempuan maju sangat positif bagi kemajuan umat Islam khususnya dan bangsa Indonesia umumnya. Sebaliknya kala perempuan tertinggal dan tidak maju maka kerugian bagi umat dan bangsa. Dengan itu kemajuan perempuan tidak akan merugikan siapapun, malahan akan positif, sehingga perempuan sama majunya dengan laki-laki selaku insan yang dimuliakan Allah SwT.

Dengan merujuk kepada pandangan Islam berkemajuan yang dikembangkan Muhammadiyah, ‘Aisyiyah dalam Muktamarnya ke-47 sebagai Muktamar Satu Abad mengusung tema “Gerakan Perempuan Islam untuk Pencerahan Bangsa”. Melalui tema itu ‘Aisyiyah ingin menegaskan komitmen dan kesadaran gerakannya tentang peranan dalam mewujudkan Islam yang berkemajuan untuk kemajuan perempuan menuju pencerahan kehidupan bangsa. Artinya ‘Aisyiyah ingin lebih dinamis menampilkan gerakan perempuan Islam yang berkemajuan, mendorong gerakan-gerakan perempuan Islam lainnya untuk maju dengan visi keislaman, dan membawa kemajuan untuk bangsa dan kemanusiaan universal.

Pemikiran ‘Aisyiyah mengenai kemajuan perempuan berlandaskan ajaran Islam sebagaimana paham Muhammadiyah tentang Islam yang berkemajuan. ‘Aisyiyah menghayati firman Allah yang menempatkan laki-laki dan perempuan sebagai insan yang sederajat dengan standar iman dan amal shalih, sebagaimana terkandung dalam ayat berikut:
1
Artinya: “Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (Qs. An-Nahl: 97).

Kepentingan Pencerahan
Bagi ‘Aisyiyah gerakan pencerahan yang didasarkan pada pandangan Islam berkemajuan harus diwujudkan dalam seluruh usaha Muhammadiyah beserta seluruh komponennya. Hal itu agar tidak hanya menjadi pemikiran yang bagus tetapi tanpa perwujudan dalam kehidupan nyata masyarakat dalam memecahkan masalah dan mengubah keadaannya. Pertama-tama gerakan pencerahan harus dimulai dari dalam lingkungan persyarikatan sendiri.