24 C
Yogyakarta
Selasa, Agustus 4, 2020

MPM Siap Dampingi Eks-Gafatar Jadi Petani

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

Haedar Nashir: Revitalisasi Pancasila Jangan Sampai Mengulang Tragedi Masa Lalu

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah-Ada dua peristiwa yang membuat kita kembali mempertanyakan Pancasila: (1) pro-kontra Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila,...

MDMC Luwu Kembali Salurkan Bantuan, Tim Relawan Banjir Bandang Tetap Siaga

LUWU UTARA, Suara Muhammadiyah - Muhammadiyah Disaster Manajemen Center) atau Satgas Bencana Muhammadiyah Kabupaten Luwu tiba di Masamba, Kabupaten Luwu Utara di...

Silaturahim dengan PDM, Menko PMK Tinjau Lokasi Banjir Luwu Utara

LUWU UTARA, Suara Muhammadiyah - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia Dan Kebudayaan Prof Dr Muhajir Effendi, MAP tiba di Luwu Raya melalui...

Sayembara Business Plan Sociopreneur Cabang & Ranting Muhammadiyah 2020

Suara Muhammadiyah – Sayembara dengan total hadiah puluhan juta rupiah sudah mulai dibuka oleh Lembaga Pengembangan Cabang Ranting (LPCR) PP Muhammadiyah. Agenda...

Program Kemaslahatan, Lazismu Gorontalo berbagi Daging Qurban di 4 Wilayah

GORONTALO, Suara Muhammadiyah - Tema besar qurban tahun ini adalah qurban untuk ketahanan pangan, yang bertujuan untuk diberikan kepada fakir miskin dan...
- Advertisement -

YOGYAKARTA — Bencana sosial seperti yang dialami oleh warga eks-gafatar seharusnya tidak perlu terjadi di negara yang menganut kebhinekaan dan sudah matang bertoleransi seperti di Indonesia ini.

Pernyataan ini dikemukakan oleh Sekretaris Majelis Pemberdayaan Masyarakat PP Muhamadiyah, Bachtiar Dwi Kurniawan kepada Suara Muhammadiyah saat mengomentari nasib ratusan warga eks-gafatar yang sekarang ditampung di barak-barak pengungsian sementara. 

Menurut Bachtiar Dwi Kurniawan, warga eks-gafatar itu tidak seharusnya terusir, terlunta-lunta, serta gamang dengan masa depan mereka yang seakan tidak jelas.

Terlepas gafatar itu sesat dan menyimpang atau tidak, Bachtiar Dwi Kurniawan menyatakan semua pihak seharusnya bisa menahan diri untuk tidak berbuat kekerasan. Dalam pandangan dosen UMY ini, kasus gafatar tidak hanya murni keagamaan, tetapi ada unsur kemanusiaan dan hak-hak dasar bagi setiap warga Indonesia.

“Kita sangat menyesalkan terjadi tindak kekerasan, pembakaran dan pengusiran penganut Gafatar di Kalbar tempo hari” tandasnya.

Oleh karena itu, Muhammadiyah sebagai bagian dari elemen bangsa mempunyai beban moral, sosial, dan juga keagamaan untuk bisa berbuat memberikan pertolongan dan bantuan bagi warga eks-gafatar tersebut.

Salah satu hal yang bisa dilakukan oleh Muhammadiyah terhadap mereka adalah dengan memberikan jaminan kelangsungan hidup. Bagi warga eks-gafatar yang bersikukuh ingin bertani, seharusnya mereka juga difasilitasi agar bisa menjadi petani yang baik.

Saat ini Majelis Pemberdayaan Masyarakat PP Muhammadiyah sedang mencari formula yang tepat untuk menemukan solusi masalah ini. Salah satu alternatif itu adalah dengan merangkul eks-gafatar tersebut dalam program pertaniaan terintegrasi, yang selama ini telah menjadi konsern MPM.

Sudah barang tentu, program itu juga disandingkan dengan proses pelurusan pemahaman yang dianggap menyimpang oleh masyarakat umum, sehingga mereka bisa kembali kejalan yang benar

“Kami siap untuk melakukan itu semua sebagai pintu masuk pada medan dakwah yang lebih luas” tegas Bachtiar. (k’ies)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

More articles