31 C
Yogyakarta
Senin, November 30, 2020

Imam Al-Darimi: Ulama Hadits yang Tawadhu’

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

Harapan Para Tokoh dalam Resepsi Virtual Milad Mu’allimaat ke-102

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Madrasah Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta mengadakan resepsi milad ke-102 dan Milad Muhammadiyah ke-108 pada Senin (30/11).

Gotong Royong 1,2 Milyar untuk Rumah Qur’an Muhammadiyah Kebakkramat

KARANGANYAR, Suara Muhammadiyah – Gotong royong masyarakat 1,2 Milyar untuk Rumah Quran Muhammadiyah Kebakkramat, Karanganyar, Jawa Tengah. Seluas 350 meter persegi Tanah...

Inovasi UAD Kembangkan Ngoro-Oro Menuju Desa Wisata Sehat

GUNUNGKIDUL, Suara Muhammadiyah - Keberadaan desa wisata dengan keindahan alam dan udara segarnya saat ini menjadi daya tarik para wisatawan baik wisatawan...

PC IMM Pinrang Miliki Nahkoda Baru

PINRANG, Suara Muhammadiyah - Ilham Saddiq terplih menjadi nahkoda Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Kabupaten Pinrang periode 2020-2021 pada Musyawarah...

Konsisten Majukan Pendidikan, Rektor UMSU Terima Penghargaan SPS

MEDAN, Suara Muhammadiyah – Rektor Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) Dr Agussani, MAP menerima Penghargaan Sahabat Pers. Apresiasi diberikan Serikat Perusahaan Pers Surat Kabar (SPS) Cabang...
- Advertisement -

Salah satu ulama Hadits yang sangat terkenal, bahkan karyanya banyak dipuji kalangan ulama semasanya adalah ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman al-Darimi. Orien­talis seperti Dr Arent Jan (A.J.) Wensinck pun banyak mendasarkan referensinya pada Sunan al-Darimi ketika menulis al-Mu’jam al-Mufahras li Alfaz al-Hadits al-Nabawi. Tidak salah jika sebagian ulama saat itu memasukan Sunan al-Darimi dalam kelompok al-Kutub as-Sittah. Sunan al-Darimi dianggap sebagai kitab hadits yang hanya terdapat sedikit para perawi yang dikategorikan dha’if. Jarang terdapat Hadits yang berstatus munkar dan syadd, meskipun di dalamnya terdapat Hadits-Hadits yang berstatus mursal dan mauquf. Sayangnya, dalam perjalanan sejarah dan perkembangan kitab Hadits, Sunan al-Darimi kurang dikenal di kalangan umat Islam.

Siapa sebenarnya Imam al-Darimi? Ia memiliki nama lengkap Abdullah bin Abdurrahman bin al-Fadhl bin  Bahram bin Abdu al-Shamad. Ada pun julukan/kuniyahnya adalah Abu Muhammad atau Imam al-Darimi. Ia lahir pada tahun 181 H di Kota Samarkand, daerah yang terletak di seberang sungai di wilayah Irak. Di kota ini ia lahir dan bertempat tinggal.
 

Al-Darimi dikaruniai kecerdasan, pikiran yang tajam, dan daya hafalan sangat kuat, khususnya dalam menghafal hadits. Ia mudah memahami dan menghafalkan setiap apa yang ia dengar. Ia berjumpa dengan para ulama hadits dan memperolah ilmu dari mereka. Ia adalah sosok yang tawadhu’ dalam hal pengambilan ilmu. Ia mendengar hadits dari kibarul ulama dan shigharul ulama. Bahkan dia pun mendengar dari sekelompok ahli hadits dari kalangan teman sejawatnya. Meskipun begitu, ia tetap sangat selektif dan berhati-hati. Ia selalu mendengar hadits dari orang-orang yang terpercaya dan tsiqah.

Al-Darimi diuntungkan dengan tumbuh-besarnya di Samarkand. Ketika itu, Samarkand adalah daerah yang tak pernah sepi perkembangan ilmunya. Di kota ini pula bermunculan para ulama. Namun demikian, ia belum merasa cukup dengan ilmu yang diperolehnya di Samarkand. Sebagaimana ulama hadits yang lain, Imam al-Darimi merantau ke beberapa negara untuk menuntut ilmu. Ia pergi ke Khurasan, Iraq, Baghdad, Kuffah, Wasith, Basrah, Syam, Damaskus, dan Shur. Ia menimba ilmu dari sejumlah guru dan para ulama terkenal yang ditemui selama hidupnya. Imam al-Darimi belajar kepada al-Nadhr bin Syamil, Abu an-Nadhr Hasyim bin Qasim, Marwan bin Muhammad ath-Thathari, Yazid bin Harun, Asyhal bin Hatim, Habban bin Hilal, Aswad bin ‘Amir, dan Ja’far bin ‘Aun.

Pengembaraan tersebut membentuk al-Darimi sebagai ulama yang ahli di beberapa bidang ilmu. Ia bukan hanya terkenal sebagai ulama hadits. Ia juga dikenal sebagai ulama fiqh dan tafsir.  Dalam bidang hadits, ia merupakan hafidz dan kritikus Hadits yang menguasai ‘ilal al-hadits dan ikhtilaf al-ruwwat. Dalam kajian fiqh, ia menguasai fiqh berbagai madzhab. Ia mampu memilah ajaran fiqh yang berdasar pada nash yang ma’surah. Di bidang tafsir, al-Darimi ahli ma’ani Al-Qur’an. Seorang ulama memberi julukan kepadanya sebagai mufassir yang sempurna.

Sebagai tokoh Hadits yang banyak meriwayatkan Hadits dan menjadi rujukan banyak orang, Imam al-Darimi juga sempat menulis karya dalam bidang Hadits dan lainnya. Meskipun tidak tergolong banyak, tetapi hasil karyanya sampai saat ini masih digunakan sebagai referensi. Di antara karyanya adalah Sunan al-Darimi, Tsulutsiyat (kitab hadits), al-Jami’, dan Tafsir.

Al-Darimi adalah ulama yang sangat dihormati bukan hanya oleh muridnya, tetapi oleh para gurunya. Tawadhu’-nya menjadikan setiap pendapatnya sebagai pertimbangan oleh ulama-ulama lain. Ketawadhu’annya itulah yang dikenang oleh para ulama saat itu  ketika ia meninggal. Al-Darimi meninggal pada hari Kamis bertepatan dengan hari Tarwiyyah, 8 Dzulhidjah 255 H, dalam usia 75 tahun. Ia dikuburkan keesokan harinya, Jumat (pada hari Arafah).• [ba; dari berbagai sumber].

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
- Advertisement -

More articles

- Advertisement -