33 C
Yogyakarta
Sabtu, Agustus 15, 2020

Pondasi Islam Berkemajuan

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

Peran Muhammadiyah dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Dalam ranah kemerdekaan, ada beberapa persoalan history (sejarah) yang perlu diangkat kembali. Tentang bagaimana proses berdirinya Negara Kesatuan...

Menjadi Super Tendik di Kala Pandemi

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Memasuki era New Normal, Sabtu (15/8), Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY mengadakan kegiatan Pelatihan...

Lazismu Medan Gelar Aksi Kemanusiaan Erupsi Sinabung

KARO, Suara Muhammadiyah - Erupsi Sinabung terus berlanjut dalam pekan ini. Kerugian akibat hancurnya lahan pertanian diperkirakan mencapai Rp 41 miliar lebih....

UMSU Gelar Parade Qori dan Qoriah Terbaik Lintas Generasi

MEDAN, Suara Muhammadiyah – Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara menyambut  Hari Ulang Tahun ke 75 Kemerdekaan RI dan  Tahun Baru Islam, Muharram 1442 Hijriah...

Mengembangkan Sekolah Muhammadiyah Harus Pada Niat

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Mengembangkan sekolah Muhammadiyah harus memiliki niat. Kepala Sekolah Muhammadiyah harus memiliki visi misi dan tujuan harus jelas.
- Advertisement -

Istilah ‘Islam Berkemajuan’ telah identik dengan Muhammadiyah. Seperti halnya kawan seperjuangan Nahdlatul Ulama, yang menggagas ‘Islam Nusantara’. “Akan tetapi pada hakekatnya, Islam adalah agama yang satu,” hal ini ditegaskan oleh Prof. Dr. Yunahar Ilyas, dalam ceramahnya di acara Kajian Malam Sabtu (Kamastu). Di Muhammadiyah, ada istilah berkemajuan, berarti mensyaratkan pemahaman agama yang senantiasa aktual. Mengingat perkembangan zaman yang terus berjalan. “Oleh karena itu, menghadirkan Islam sebagai solusi atas permasalahan yang terjadi, adalah misi utama yang dimiliki Muhammadiyah,” katanya.

Menurut pria yang juga sering disebut buya ini, ada beberapa pondasi yang dimiliki Muhammadiyah, dalam merumuskan Islam Berkemajuan. Diantaranya adalah tauhid, memegang teguh al-Qur’an dan Hadits, tajdid, serta sikap moderat. Untuk urusan tauhid, tentu menjadi faktor utama dalam gerakan Muhammadiyah. Sedangkan terkait aspek memegang teguh al-Qur’an dan Hadits, beliau menyatakan bahwa Muhammadiyah bersifat independen. Artinya tidak terikat pada salah satu imam madzhab dalam fiqih. Meski juga bukan berarti anti madzhab. “Seperti yang kita alami, orang-orang Muhammadiyah itu lebih sering menanyakan dalil dalam qur’an ataupun sunnah ketika menyikapi suatu masalah, bukan pendapat imam” terangnya.

Sementara penjelasan tentang tajdid, banyak peserta kajian yang sudah memahami “dua sayap tajdid Muhammadiyah” yaitu purifikasi dan dinamisasi. Untuk purifikasi, berlaku pada ranah ibadah, sedangkan dinamisasi merambah aspek muamalah. Soal pembahasan sikap moderat, menjadi materi kajian yang menarik bagi hadirin. Hal ini disebabkan pertanyaan tentang makna moderat yang kadangkala menimbulkan pemahaman berbeda-beda. Menjawab pertanyaan ini, Ketua PP Muhammadiyah tersebut menjelaskan “kalau moderat itu nggak ekstrim ‘kanan’ ataupun ‘kiri’, tetapi berimbang.” Yang dimaksud ‘kanan’ adalah pemahaman agama secara tekstual, sedangkan ‘kiri’ berarti kontekstual. “Bukan berarti moderat itu nggak punya jatidiri, tetapi bisa menempatkan diri, kapan harus menggunakan pemahaman yang kontekstual maupun tekstual,” tambahnya. Maka dari itu, menjadi moderat merupakan pilihan sikap Muhammadiyah. “Karena lawan dari kata moderat sendiri yaitu radikal,” katanya. (GR)     

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
- Advertisement -

More articles