24.5 C
Yogyakarta
Rabu, Agustus 12, 2020

Gerry Van Klinken: Kelas Menengah Indonesia Semakin Berpengaruh

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

UMY Songsong Kembali Perkuliahan secara Tatap Muka

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Pada Rabu, 12 Agustus 2020, Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) beserta jajarannya mulai dari dosen hangga tenaga kependidikan...

Kini Ada 80 Rumah Sakit Muhammadiyah Tangani Pasien Covid-19

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Penularan Covid-19 mengalami peningkatan yang begitu masif selama dua pekan ini di hampir seluruh tempat di Indonesia.

Selamat! Lima Proposal Mahasiswa UMTS Lolos PKM Tingkat Nasional

PADANGSIDIMPUAN, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan (UMTS) berhasil meraih 5 judul pada Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 5 (lima) bidang Tahun...

Eratkan Kebersamaan, Rektor Unismuh Silaturahim dengan Pejabat Struktural

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah - Hari ketiga setelah dilantik menjadi Rektor Unismuh Makassar Periode 2020 – 2024, Prof Dr H Ambo Asse, M.Ag...

Pakai Masker Langkah Sederhana Melindungi Nyawa

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Sejak awal Covid-19 masuk ke Indonesia, Muhammadiyah sebagai salah satu ormas Islam terbesar di Indonesia sudah mencanangkan partisipasinya...
- Advertisement -

Populasi kelas menengah Indonesia meningkat pesat dan pengaruh mereka pun bertambah besar. Mereka senang dengan politik dan memiliki kecenderungan beragama yang konservatif. Hal ini disampaikan Prof Gerry van Klinken, peneliti senior dari KITLV Leiden pada diskusi “Konservatisme dan Pengalaman Beragama Kelas Menengah Indonesia” dalam rangka milad ke-52 Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah di Jakarta (8/3).

Gerry menambahkan, kelas menengah ini tidak menempati kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya namun menempati kota-kota “menengah”di tingkat provinsi seperti Kupang, Pekalongan, dan cenderung mendekatkan diri dengan kalangan birokrat. Berbeda dengan keleas menegah di Amerika dan Inggris. “Kelas menengah Indonesia lebih mencitai negara, menolak pasar besar, mengutamakan putra daerah, dan menguasasi daerahnya melalui jalur informal”, jelasnya.

Gerry van Klinken CDCC-2

Sementara Sudarnoto Abdul Hakim dari PP Muhammadiyah pada forum yang sama mengatakan, terbentuknya kelas menengah merupakan keberhasilan dari pendidikan. Sama seperti Gerry, Sudarnoto setuju bahwa kelas menengah menjadi faktor dominan dalam perubahan sosial dan politik. Selain pendidikan, faktor ekonomi seperti perkembangan dunia perdagangan internasional turut membantu mobilisasi traditi, budaya, ide bahkan ilmu pengetahuan dan turut memperngaruhi faktor pendidikan. “Dalam suatu perubahan sosial, dimana masyarakat memegang peranan, maka kelas menengah lah yang paling berperan”, ujar Sudarnoto yang juga Ketua Dewan Pakar Koordinator Nasional FOKAL (Forum Komunikasi Alumni) IMM ini.

Pada diskusi itu, Jajang Jahroni dari PB Nahdlatul Ulama, salah satu pemateri, sependapat dengan yang lain, bahwa telah terjadi peningkatan jumlah kelas menengah di Indonesia yang signifikan. Menurutnya, Kelas menengah ini begitu sadar terhadap kemajuan teknologi dan terhadap pentingnya akses ekonomi setelah era reformasi. (Alpha-Ed.gsh)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
- Advertisement -

More articles