24.4 C
Yogyakarta
Senin, Oktober 26, 2020

Haedar Nashir: Sudahlah, Jangan Ratapi Lagi 7 Kata di Piagam Jakarta Itu

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

Guru SMP Aisyiyah Boarding School Pinrang Ikuti Pelatihan Figur

PINRANG- SMP Aisyiyah Boarding School (ABS) Pinrang mengutus 2 guru mengikuti Pelatihan pembuatan video Pembelajaran yang digelar oleh Figur (Forum Inspirasi Generasi...

UMSU Peduli Kemajuan Masyarakat Melayu

MEDAN, Suara Muhammadiyah – Universitas Muhammadiyah Sumater Utara (UMSU) peduli akan kemajuan masyarkat melyayu. Di usianya yang genap setahun, Pakat Melayu merasa...

Haedar Nashir: Dokter Pelopor Kemanusiaan dan Kenegarawan

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Menyambut Hari Dokter Indonesia 24 Oktober 2020, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Dr Haedar Nashir, MSi berharap...

AMM Jetis Bantul Droping Air Bersih Serentak di Gunungkidul

GUNUNGKIDUL, Suara Muhammadiyah - Angkatan Muda Muhammadiyah Jetis Bantul sukses menyelenggarakan Droping Air Bersih #02 di wilayah Gunungkidul Ahad, 18 Oktober 2020....

Universitas Muhammadiyah Papua untuk Kemajuan Pendidikan Bumi Cendrawasih

JAYAPURA, Suara Muhammadiyah – STIKOM Muhammadiyah Papua bertransformasi menjadi Universitas Muhammadiyah Papua. Berdirinya Universitas Muhammadiyah Papua adalah untuk kemajuan pendidikan Bumi Cendrawasih.
- Advertisement -

YOGYAKARTA-suaramuhammadiyah.com,- Dilema tentang hubungan Islam dan negara yang selama ini selalu abu-abu sudah seharusnya diakhiri. Umat Islam, khususnya warga Muhammaduyah, sudah waktunya untuk tidak lagi terus mempermasalahkan bentuk negara Indonesia ini.

Hal itu dikemukakan oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah, Dr H Haedar Nashir di forum Rakernas Majelis Tabligh PP Muhammadiyah. Menurutnya, Muktamar Muhammadiyah ke-47 lalu, Muhammadiyah sudah menghasilkan dokumen tentang negara Pancasila sebagai Darul Ahdi wa Assahadah.

Dokumen itu seharusnya bisa mengakhiri keabuan-abuan bentuk negara Indonesia. “Saat ini kita sudah punya dokumen tentang negara Pancasila sebagai Darul Ahdi wa Syahadah, dokumen yang tidak dipunyai organisasi lain,” tegas Haedar.

Menurut Haedar, konsep tentang negara Pancasila sebagai Darul Ahdi wa Assahadah ini merupakan elaborasi dari MKCH Muhammadiyah butir ke lima. Spirit dari dokumen itu juga bisa dilacak di khittah-khittah Muhammadiyah tentang politik.

Selain itu, Haedar juga menyatakan, daripada meratapi hilangnya 7 kata dalam piagam Jakarta itu, lebih lebih baik mengisi konsep negara Pancasila sebagai negara kesepakatan   ini  dengan nilai-nilai Islam.

” Ini penting, karena kita juga menghadapi kelompok yang ingin memasarkan sekularisme di Indonesia, yang ingin merebut tafsir Pancasila dengan tata nilai mereka, ini juga sekaligus membendung keinginan orang yang berpikiran a-la  ISIS Indonesia” tegas haedar.

Menurut Haedar, mengisi kerangka teologis terhadap negara Pancasila ini harus dimaknai sebagai upaya membangun fiqh siyasah baru di bumi Indonesia. (Isma)

- Advertisement -

3 KOMENTAR

  1. Saya sungguh berharap agar jihad konstitusi Muhammadiyah berhasil. Penerapan hukuman fisik yang memcerminkan keadilan menurut islam misalnya qishaas.

  2. Kalo kita Meratapi tujuh kata dalam Pancasila yg telah berubah seperti sekarang yg sebetulnya lebih tepat dan benar secara esensi. Bila kita meratapi terus berarti kita jalan ditempat, mandeg. Ibarat manusia tdk bergerak, sdh tdk berjiwa dan beraga.
    Kalo sudah mandeg, habis waktu kapan kita berpikir dan bergerak mempunyai AUM, memajukan dakwah di Indonesia menuju Muhammadiyah Global.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
- Advertisement -

More articles

- Advertisement -