Merawat Dinamika Muhammadiyah

Oleh: David Efendi

SUARA MUHAMMADIYAH- Melintasi satu abad bukan perkara gampang bagi gerakan sosial keagamaan di dunia. Prestasi gemilang Muhammadiyah melayani ummat, berhidmat kepada negeri, mendedikasikan karya kerja nyata untuk memuliakan nilai-nilai kemanusiaan adalah bukti tak terbantahkan dari manifestasi “Teologi Al Maun” sebagai pembawa rahmat bagi seru sekalian alam. Di awal persebaran Muhammadiyah sebagai gerakan pembaharuan, telah dicatat sejarawan istilah populer 3K: Kauman, Kotagede, Karangkajen (Darban, 2000). 3K ini kemudian disebut sebagai 3K lama. Ketiga kampung ini telah menjadi basis inti Muhammadiyah di tanah mataram, asal kelahirannya. Walau demikian, Muhammadiyah justru melesat berkembang di Sumatra Barat lalu diikuti belahan bumi nusantara lainnya. Sampai memasuki abad kedua, organisasi Islam modern terbesar di Indonesia ini menunjukkan nuansa kerja yang sangat dinamis.

Jika kita tilik data Amal usaha (AUM) yang telah dikelola oleh Muhammadiyah sampai pada tahun 2010 saja menunjukkan jumlah yang luar biasa.  Dalam bidang perguruan tinggi terdapat 160 terdiri dari 41 Universitas, 119 sekolah tinggi dan akademi, sedangkan untuk pendidikan dasar dan menengah berjumlah 4391 dan 2.289 TK. Pesantren sebanyak 106 (2015). AUM ini dikelola oleh lima level kepengurusan yang berbeda yaitu dua kantor untuk pimpinan pusat Muhammadiyah, 33 pimpinan wilayah, 417 pimpinan daerah, 3.221 pimpinan cabang dan lebih dari 8.107 pimpinan ranting Muhammadiyah. Ini baru Muhammadiyah, belum 7 organisasi otonom yang juga mempunyai jajaran struktur yang sama. Masjid belum pernah disensus tetapi setidaknya yang terdaftar di PP Muhammadiyah sebanyak 6.118 masjid dan 5.080 mushola.  Dalam bidang kesehatan dan pelayanan sosial, Muhammadiyah mengelola 457 RS dan balai pangobatan serta 524 panti asuhan dan sosial (ditambah yang dikelola Asiyiyah sebanyak 194 panti).

Baca Juga:   Keselamatan dan Kesehatan adalah Prioritas

Gagasan pelayanan sosial, perbaikan SDM pribumi melalui lembaga pendidikan dan kesehatan dapat diterima secara baik oleh bangsa Indonesia. Apa rahasianya Muhammadiyah mampu melintasi abad pertamanya dengan capaian kuantitas dan kualitas di atas rata-rata gerakan sosial-keagamaan pada umumnya? Jika 3K lama memberikan penjelasan soal formasi awal Muhammadiyah, 3K baru (kampus, kampung dan kedai) juga dapat dijadikan penjelas atas langgengnya gerakan Muhammadiyah.

Kampus

Kampus atau sekolah menandakan lembaga pendidikan yang dibangun sejak awal oleh Muhammadiyah telah memberikan ‘identitas’ gerakan Muhammadiyah sekaligus sumbangsih besar bagi bangsa ini sehingga “ratusan juta manusia mengenal Muhammadiyah karena mengenal pendidikan ala Muhammadiyah”. Hal ini juga menjadikan negara ‘segan’ terhadap keberadaan Muhammadiyah yang telah secara riil membantu pembangunan manusia bahkan sebelum republik Indonesia hadir sebagai negara merdeka.

Pendidikan sebagai hak universal telah membimbing gerakan ini menjadi gerakan futuristik nan berkemajuan. Sebagaimana falsafah hidup KH Dahlan, “jadilah guru sekaligus murid. Menjadi guru yang mengajarkan ilmu dan menjadi murid yang selalu belajar ilmu.” Dalam lembaga pendidikan tinggi, investasi masa depan diukir, upaya melakukan pembaharuan sosial dan beragam kajian akademik pun dilakukan untuk mendorong kemajuan. Nilai strategis gerakan Muhammadiyah dalam bidang pendidikan kemudian tak bisa disepelekan. Di sini juga melakat nilai-nilai keterbukaan pikiran, inovasi, kebijakan, dan spirit pelayanan sesama. Inilah mengapa Syafii Ma’arif sering mengatakan Muhammadiyah telah menjadi gerakan pembantu untuk negara. Karena, menurutnya, “…bukanlah Muhammadiyah yang sebenarnya jika tak mampu memberikan solusi terhadap persoalan bangsa.”

Kampung

Kampung menunjukkan dinamika cabang dan ranting yang terus bergerak, semarak dalam dakwah dan pelayanan. Kekuatan ranting tak bisa dianggap enteng dalam melangsungkan amal usaha Muhammadiyah dalam segala lini kehidupan. Gerakan pengajian dan dakwah jama’ah hanya memungkinkan apabila ranting sehat. Kedai-kedai ini merepresentasikan spirit otonom orang orang Muhammadiyah awal (asabiqunal al awwalun) yang mana mereka mempunyai profesi sebagai pedagang. Eksistensi saudagar Muhammadiyah sampai hari ini masih terlihat walau kekuatannya semakin surut. Salah satu agenda besarnya adalah bagaimana pelembagaan urusan dagang ini juga akan menonjol sebagaimana prestasi dalam urusan ”trisula lama” ( pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial). Pengajian juga telah dijadikan “pilar utama” gerakan dakwaah Muhammadiyah dan keberadaanya adalah di ranting dan cabang.  “Ranting kuat, persyarikatan kuat”, kita kira inilah kekuatan dari kegiatan pemberdayaan ranting untuk membangun masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

Baca Juga:   Menjaga Keselamatan Kehamilan di Masa Pandemi Covid-19

Pentingnya ranting ini juga kemudian mengilhami dibentuknya LPCR (Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting) pasca perhelatan Muktamar Muhammadiyah ke-46 di Yogyakarta. Hal ini dianggap penting untuk menjawab tantangan zaman baru dimana mutlak diperlukan ranting yang berdaya baik secara ideologis, sosial, politik, dan ekonomi. Jika hal ini sudah dipenuhi tentu Muhamamdiyah akan kembali meneguhkan diri sebagai organisasi civil society yang mempunyai derajat otonomi terhadap negara dan juga pasar (market).

Kedai

Kedai adalah “simbol” kelas pedagang dalam Muhammadiyah. Di awal Muhammadiyah berdiri, setidaknya sampai kepemimpinan Sutan Mansur, jiwa ‘saudagar’ dalam diri penggerak Muhammadiyah sangat kuat. Di banyak penjuru Nusantara menunjukkan para elit lokal Muhammadiyah berasal dari ‘borjuasi pedagang santri’ yang sangat kuat modal kapitalnya untuk mendorong keberadaan dakwah dan peran sosial Muhammadiyah. Pada saat ini, spirit itu juga tetap penting sehingga beberapa tahun lalu lahir juga perkumpulan saudagar Muhammadiyah, himpunan pengusaha Muda Muhammadiyah, entrepreneur Muhammadiyah dan sebagaianya. Hal ini memperlihatkan spirit otonomi kelas menengah Muhammadiyah ‘lama’ masih terus menerus dihidupkan. Beberapa pimpinan wilayah atau daerah Muhammadiyah dapat dikatakan cukup berhasil untukmelembagakan ‘perdagangan’ menjadi bagian penting gerakan Muhammadiyah untuk membangun ketahanan ekonomi anggotanya.

Kebutuhan akan spirit ‘saudagar’ kembali menyeruak ketika  3 dekade terakhir menunjukkan kepemimpinan elit Muhammadiyah lebih didominasi kalangan ulama-cendekiawan dan akademisi sehingga spirit ‘mobilitas’ dan ‘otonomi’ ala borjuasi pedagang santri mengendur. Hal ini berdampak pula dalam merespon dinamika politik dan ekspansi pasar yang cenderung lebih dominan wacana ketimbang aksi nyata. Bisa jadi ini adalah kegelisahan banyak warga Muhammadiyah yang merindukan kekuatan besar Muhammadiyah ini dapat berdiri otonom berhadapan dengan beragam kebijakan negara yang tidak pro-rakyat. Tapi nalar berkamajuan Muhammadiyah kemudian mengajak terus menerus membangun bangsa sehingga juga menjadi kebutuhan untuk pro-aktif menjalin kemitraan tulus dengan pemerintah. Artinya, loyalitas Muhammadiyah terhadap NKRI tak dapat diragukan.

Baca Juga:   Kerinduan Keindahan Kaligua

Sebagai penutup, 3K tersebut di atas akan menjadi penopang strategis bagi dinamika Muhammadiyah untuk mengemban misi-misi barunya menyongsong trisula baru dalam abad kedua ini. Tanpa merawat 3K baru, akan sangat sulit gerakan ini merawat dinamika exsternal zaman yang kian menantang. 3K baru, selain akan mengingatkan spirit yang otentik berMuhammadiyah, juga adalah bagian dari legacy yang tak boleh ditinggalkan begitu saja. Mempertahankan hal baik dari lama dan terus bekerja keras melakukan pembaharuan sosial dan keagamaan demi memajukan bangsa serta tercapaainya Indonesia yang tercerahkan. Inilah cara Muhammadiyah merawat dinamikanya sampai melintasi abad-abad baru di masa yang akan datang.

David Effendi, adalah Dosen Jurusan Ilmu Pemerintahan, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Wakil Ketua LHKP Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY