25 C
Yogyakarta
Kamis, September 24, 2020

Syafii Maarif: Bukan Palu Arit, Tapi Ketidakadilan yang Perlu Dilawan

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

Baitul Arqam UMTS Digelar Daring, Perpanjang Penerimaan Mahasiswa

PADANGSIDEMPUAN,  Suara Muhammadiyah – Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan (UMTS) menggelar kegiatan Baitul Arqam.  Kegiatan pengkaderan yang diikuti 637 mahasiswa itu berlangsung 22-24...

Unismuh Persiapkan Pendirian Program S3 Ilmu Pendidikan

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah – Satu lagi langkah inovasi yang dilakukan Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar dalam upaya mencapai kampus terkemuka dan unggul. Penghujung...

Tiga Ilmu Menjadi Pribadi Terbaik Menurut Rektor UMP

PURWOKERTO, Suara Muhammadiyah - Masa orientasi studi dan Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Banyumas Jawa Tengah dikemas...

Haedar Nashir: Bermuhammadiyah, Ikuti Koridor Organisasi

Muhammadiyah itu organisasi besar yang berdiri tegak di atas sistem, dengan amal usaha dan jaringan yang luas. Kekuatan Muhammadiyah berada dalam sistem,...

MIM Kenteng Gunakan Media Pembelajaran Berbasis Dakwah Budaya

KULON PROGO, Suara Muhammadiyah – Menciptakan madrasah berbudaya sesuai dengan visi MI Muhammadiyah Kenteng. Dimuai dari para pendidiknya sebagai dasar penguatan madrasah...
- Advertisement -

JAKARTA. suaramuhammadiyah.com– Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ahmad Syafi’i Maarif, mengingatkan bahwa tindakan aparat TNI dan Polri merazia atribut dan buku yang dianggap mengandung unsur komunisme atau Partai Komunis Indonesia (PKI) adalah langkah berlebihan. Seharusnya, pemerintah harus lebih fokus dalam hal yang lebih penting, yaitu penegakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, yang menjadi amanah Pancasila.

Guru Besar Ilmu sejarah itu menyatakan bahwa perhatian yang terlalu besar pada isu PKI justru menyebabkan waktu dan energi bangsa Indonesia terbuang percuma pada hal yang tidak penting. Bagi Buya, seharusnya yang perlu ditakuti dan diberantas adalah tindakan ketidakadilan yang telah merampas kesejahteraan rakyat Negara kepulauan ini. “Bukan palu arit, tapi ketidakadilan yang perlu dilawan,” ungkap Buya.

Menurutnya, ketakutan berlebihan terhadap kebangkitan PKI merupakan tindakan semacam ‘kegenitan’ yang tak berdasar. “(kekhawatiran) komunisme atau PKI bangkit lagi, itu politik agak kegenitan. Enggak lagilah,” kata Syafii dalam program televisi Indonesia Lawyers Club dengan tema “Benarkah PKI Bangkit Lagi?” yang ditayangkan oleh salah satu stasiun TV swasta pada Selasa malam, 17 Mei 2016.

Bagi Buya, hukum yang melarang penyebarluasan ajaran komunisme di Indonesia memang ada, yakni Ketetapan MPRS Nomor 25 Tahun 1966 tentang Pembubaran PKI dan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 1996 tentang Perubahan Pasal 107 KUHP. Dia tak menyoal jika konteksnya adalah penegakan hukum. Tetapi tak relevan lagi kalau muncul kekhawatiran kebangkitan komunisme.

Syafi’i menilai bahwa paham komunisme sudah usang, hampir tidak ada lagi orang yang menganut paham itu. Tidak hanya di Indonesia, melainkan juga di dunia. Kekhawatiran terhadap komunisme seperti situasi pada 25 tahun atau 30 tahun lalu, yang sudah tidak berguna di zaman sekarang.

“Riwayat komunisme sudah tamat. Hanya Korut (Korea Utara) yang ada, ini memang agak aneh. Itu yang sampai sekarang masih mengaku menjalankan Marxisme (ajaran utama/dasar komunisme),” ungkapnya

Di masa lalu, menurut Buya Syafi’i, komunisme memang menjanjikan karena banyak menawarkan perubahan, terutama bagi negara-negara jajahan seperti Indonesia. Para pendiri bangsa, seperti Sukarno, Muhamad Hatta, Sutan Sjahrir, Tan Malaka, dan lain-lain, membaca Marxisme dan memahami komunisme. Tetapi, paham atau ajaran itu bertentangan dalam praktik, terutama di negara yang dianggap kiblat komunisme dunia itu sendiri, yakni Uni Soviet. “Apa yang dipraktikkan di Uni Soviet, demokrasi diabaikan, hak asasi tak dihargai. Jutaan orang dibantai. Itulah yang membuat komunisme tamat,” ujar Buya. (Ribas)

- Advertisement -

23 KOMENTAR

  1. Rupanya buya lupa betapa pentingnya Ghirah , termasuk terhadap PKI yang telah berhianat pada negeri ini dan mendzalimi bangsa ini terutama umat Islam .
    Silakan perhatikan aksi-aksi mereka saat ini seperti halnya karnaval 17an agustus 2015 di madura , seakan mereka hendak show of power dan upaya2 lain di banyak daerah yang sifatnya provokatif , pemutar balikan fakta sejarah yang kesemuanya mengisyaratkan Komunisme (PKI) bangkit.

    Jika alasan penegakan keadilan , kenapa tak satu orangpun termasuk buya safii ma’arif
    menyuarakan tentang keadilan bagi umat Islam , TNI dan masyarakat lainnya yang telah banyak jatuh korban dibantai orang-komunis . kenapa semua diam ?

    Para anak turun PKI dan simpatisannya saat ini terus dan terus berupaya membuat buat atau menggubah dongeng seolah-olah sejarah yang menempatkan / memposisikan
    bahwa PKI adalah korban seraya mengubur kebenaran sejarah dari t9ahun-tahun sebelumnya seperti kejadian tahun 1948.

    setiap orang berhak berbicara dan menyampaikan pendapat , tapi ingat ; jangan dustakan kebenaran dan jangan ciderai sejarah dengan kebohongan .
    sadarlah buya …. makin tua harus makin jujur dan istiqomah , mau cari apalagi ???

    • buya betul. ketidakadilan menyebabkan penderitaan ekonomi. korupsi harus diberantas dan ketidakadilan dilawan supaya rakyat sejahtera. kalau rakyar sejahtra, komunis mana laku.

    • Akhi Muiz benar bahwa PKI pernah menjadi lawan politik Islam.
      Tapi sayang sekali, kita semua lupa tawazun, seimbang dalam melihat semua masalah.
      Yang pertama, akhi hanya melihat korban hanya di pihak Islam (terutama NU) dan TNI (AD). Tapi akhi seakan menutup mata terhadap ribuan bahkan ratusan ribu orang yg dibunuh tanpa pengadilan setelah peristiwa G30S PKI, bahkan sebagian besar mereka juga muslim yg cuma ikut2xan jadi simpatisan PKI (yg waktu itu merupakan partai yg diakui pemerintah). Belum lagi nasib anak2x mereka yg seakan menanggung dosa turunan (Islam tdk mengenal dosa turunan).
      Kedua, akhi menasehati Buya Maarif untuk jujur??? Astaghfirullah… Mari kita bercermin… Sehebat apa ilmu dan ibadah akhi dibanding Buya??

  2. Keadilan yang mana dan bagaimana ?
    PKI bantai ummat Islam , TNI dan masyarakat lain tak ada yang angkat bicara tak ada yang bicara keadilan dalam hsl ini.
    Jika buya sejarawan sejati buka tuh kebiadaban PKI.

    • ratusan ribu manusia sebagai warga negara dibunuh, pns dipecat, anak turunannya tak dapat berkarir. ini bukan soal komunis, tapi soal manusia. gitu pak

    • keadilan bagi para korban,ketika bicara soal korban sebenarnya jika anda mau belajar sejarah lebih dalam sedikit maka akan paham bukan hanya pki saja yg jadi korban tapi juga beberapa orang NU sebelum tahun 1965. Alngkah baiknya memandang sesuatu dari dua sisi. Tidak memojokkan satu pihak. Saran saya sebelum bicara banyak soal apa yg anda maksud ‘kebiadaban’ orang PKI, maka baca dulu dan pelajari dulu sejarahnya. Mulai dari munculnya hingga pasca 65

  3. Saya juga kuran sependapat dengan buya dalam Hal ini,kita boleh saja memandang idiologi komonis sudah basi dan tidak populer di kalangan masyarakat dunia dan juga Indonesia,tetapi komonis sebagai suatu idiologi memang harus kita waspadai.apa lagi memang ada bukti tentang mulai munculnya pendukung2 PKI.Kadang kala sebagian masyarakat kita ini ada yang aneh2 cepat kagum setiap ada yang baru dia kenalgampang dia terima contoh nabi palsu ada saja yang ngikut, dan Komonis sebagai sebua idiologi yang biasanya memberikan mimpi2 manis” sama rata sama rasa” kepada masyarakat miskin,tentu saja menarik baginya.
    Kita semua memang sangat memngigikan ke adilan pak,tapi dengan tidak mengurangi kewaspadaan kita terhadap idiologi yang tidak sesuai dengan pancasila sebagai idiologi bangsa kita pak.
    sekian mementar sejarawan kecil untu sejarawan besar dari kampuang ambo sumpur kudus.

  4. sebetulnya sama-sama penting, cuma harus ada yang menjadi skala prioritas. Penghiatan PKI menjadi sejarah hitam bangsa ini, dan itu tidak bisa dimaafkan. Di sisi lain juga ada sesuau yang tidak kalah pentingnya yaitu keberlangsungan kehidupan bangsa ini dengan memberikan kesejahteraan terhadap seluruh tanah air bangsa ini.

  5. Solusi yang mungkin bisa dilakukan pemerintah adalah, jika urusannya dengan PKI atau palu arit, ada pihak yang berwenang, karena memang ada pihak-pihak tertentu mungkin yang menginginkan keadaan negara ini tetap kacau, akan tetapi jangan berlebihan karena akan menimbulkan kesan yang kurang baik. Kemudian Masalah kesejahteraan bangsa, adalah kerjasama tim pemerintahan ini bagaimana membuat formula ampuh, bagaimana negara ini bisa memberikan yang terbaik bagi raknyatnya.

    • anak-anak cucu kita yang memikul kebiadapan penguasa dahulu, ketimbang kita memperbaiki citra yang buruk itu dengan fakta kebenaran sejarah, generasi bertanya tentang kebenaran sejarah bukan politik kepentingan penguasa yang rakus atas kekuasaan semata yang melakukan segala macam cara dan tindakan yang harus dibuat untuk mendapatkan kekuasaan yang tidak halal demi kepentingan pribadi dan keluarganya sendiri.

  6. Benar sekali beliau Buya (kredibilitas beliau tak perlu kita ragukan), yg sangat perlu kita prihatinkan dan waspadai bersama adalah bidang keadilan, terutama keadilan hukum…Korupsi bagai virus yg sdh menjalar disemua sektor, eksekutif, legislatif dan yudikatif..dari hulu sampai hilir dari daerah sampai pusat dari sektor swasta pengusaha sampai pegawai & aparat pejabat negara..rasanya tdk ada secuilpun yg tersisa di bagian negeri ini yg tidak terkontaminasi virus korupsi…Janganlah perhatian kita terpecah dan terbelah oleh sekedar munculnya “simbol “pki”” yg memang harusnya kita menyadari itu sengaja “dimulculkan” sebagai pengalih isu di media….ayo sadarlah…

  7. Pendapat Buya ini aneh. Out of the context. Jika kita membicarakan, komunis patut diwaspadai, bantahannya harus ttg paham komunis, bukan isu lain seperti kesejahteraan masyarakat dll. contoh sederhananya, seperti jika dikatakan mencuri itu salah..lalu dibantah..bukan yg mencuri yg harus diwaspadai, tapi pemerkosaan. DuAAA -dua nya harus diwaspadai, dua2 nya salah.. Karna satu hal lebih jelek (secara subjektif) dibanding hal lainnya, bukan berarti yg kurang jelek itu diabaikan. paham Komunis salah, ketidaadilan dan kurg aejahtera jg salah..semua yg salah hrus diberantas. #AntiPKI

  8. Dia ini bukan seorang buya, tapi seorang politikus yang mengikuti kemauan orang yg dudukungnya. Walaupun salah sekalipun.

  9. Orang tua ini aib bagi Muhammadiyah. Pemikirannya benar-benar telah terjangkit Sepilis akut.
    Hati-hati.. kesesatan lebih banyak disebabkan oleh bisikan lembut, bukan oleh teriakan lantang.
    Jangan dengarkan orang ini. Akidah dan iman jadi taruhan. Selamatkan dirimu dari kata-kata beracun kaum sepilis yang berkilau memukau.

  10. Mari kita bijak dalam berkomentar, jangan menyalahkan sebelum memahami. Gagasan Buya harus kita cerna dan kita analisa dengan cerdas, jujur dan otentik. Jika motivasinya adalah dunia dan materi, itu salah besar. Lihat betapa sederhana dan bersahajanya Buya dalam keseharian. Semoga Allah menuntun kita, tanpa harus menghakimi…

  11. duh Buya,, didepan mata anda banyak ketidak adilan,,di Jakarta,,,di Luar Batang dllnya,,,masih aja mbulet kayak entut dalam sarung Buya,,,sejak Pilpres ketidak adilan itu meraja lela,,investro bawa cangkul dan sak tukang cangkulnya,,,dah buya mumpung deket dgn pak Owi katakan itu langsung,,,,,

  12. salam takzim teruntuk buya, sahabat.. mari sejenak kita merenung dan berpikir bahwa isu kebangkitan PKI adalah “barang dagangan”, siapa yang berdagang dan siapa pembelinya? jika kita lebih mawas dan “melek” kondisi saat ini, membaca arah angin politik yang sedang diembuskan oleh Jokowi, sepertinya mengarah pada poros rusia dan cina maka isu PKI dan komunisme bisalah kita duga siapa pedangangnya dan siap pembeli yang disasarnya. Semoga kita adalah pembeli yang cerdas yang tidak membeli kucing dalam karung. Komunisme sebagai paham haruslah bijaksana dipisahkan dari PKI yang adalah partai politik. Dan sejarah kelam Indonesia memanglah kenyataan yang semoga kita bisa mengambil pelajaran dan hikmah dari kejadian itu.

  13. Perlu kita ketahui bersama , bahwa kebangkitan PKI saat ini bukan sekedar isu dan isapan jempol semata melainkan kebangkitan yang nyata dengan aksi-aksinya dari mulai tampilan saat karnaval 17an di madura sampai hal-hal yang bersifat agresif opinion dengan cara pemutar balikan fakta sejarah dengan momposisikan aktifis PKI beserta simpatisannya sebagai korban.
    Sesungguhnya apa yang diperoleh oleh para aktifis PKI dan simpatisannya selama ini adalah merupakan buah dari ulah dan perbuatan mereka sendiri.
    dengan demikian jangan ada yang anggap enteng isu kebangkitan PKI ini disamping juga masalah keadilan dan kesejahteraan di tingkatkan.
    tak kalah dari itu penegakan hukum juga harus benar-benar di tegakkan , kita prihatin karena saat ini pelecehan terhadap hukum itu justru diawali dari menteri kumham nya sendiri .
    untuk buya yang istiqomah saja dan sadarlah bahwa kondisi apapun tak dapat dijadikan kata “pemaaf dan pembenar” akan hadirnya PKI di bumi Indonesia ini .

  14. lucu juga komentar2nya. seperti yg sudah khatam sejarah bangsa. baru baca satu dua buku saja sudah menghina pak syafii maarif. dicermati maksud buya itu kemana, bukan membolehkan pki hidup di indonesia sebab sudah jelas dilarang. tapi, jangan sampai pki jadi isu pengalih isu melesunya pertumbuhan ekonomi, penghusuran yg kurang manusiawi, kemiskinan, gap kaya miskin yg lebar. pak syafii maarif juga muslim loh, tidak patut dihina2 begitu. sudah semacam khawariz saja menghina-hina begitu. komumis sudah hancur bersama uni soviet dan memang hancur karena tidak cocok. lah wong rusia saja sudah tidak komunis. mikir o bos.

  15. Asss..

    Mohon maaf sebelumnya, saya koq terus terang hati kecil saya sangat bersebrangan dengan statement2 buya beberapa tahun terakhir ini.

    2 statement buya terakhir adalah soal PKI dan AHOK.
    Soal AHOK perlu diklarifikasi lagi oleh Buya, dg banyaknya beredar di medsos adanya dukungan Buya thd Ahok, kalo benar dukungan tsb sepantasnya Buya menjelaskan apa alasan seorang Buya tokoh Muhammadiyah yang memberi dukungan kpd Ahok, karena sampai hari ini saya belum mendengar bantahan buya soal dukungan yg beredar langsung dari Buya, artinya kalo tdk dibantah ya berarti dukungan itu benar…sementara kondisi terakhir mayoritas umat islam di jakarta menolak keras kepemimpinan ahok yg jauh dari islami, amin rais saja menolak.

    Dan yang terakhir soal PKI,,, saya koq bingung dg pernyataan Buya soal lambang serta atribut2 PKI tdk perlu disweaping bahkan menurut Buya berlebihan..SAYA BANGGA MENJADI WARGA MUHAMMADIYAH, SAYA BANGGA DENGAN DAKWAH2 MUHAMMADIYAH YG AMAR MAKRUF NAHI MUNGKAR, Artinya dimanapun saya memandang ada logo, lambang, atribut Muhammadiyah dihati sya muncul semangat dakwah meskipun hanya 1 ayat, pasti ada rasa kebanggan dan tumbuh rasa semangat ingin membesarkan Muhammadiyah…Saya rasa semua warga Muhammadiyah dimanapun punya perasaan seperti ini.

    Begitu pula dengan Atribut2 PKI,,, Kalau atribut2 itu dibiarkan muncul dan beredar berkedok seni dll, sangat bisa dipastikan semangat komunis anak2 cucu mantan PKI itu bangkit..Indikasi bangkitnya PKi sdh terlihat dan terasa sekali dengan diberinya ruang oleh rezim JKWJK,,,rakyat kita sdh cerdas membaca keadaan negara..
    Kalau ini terus dibiarkan bahkan semakin diberi ruang dg dalih saling menghormatilah, HAM lah, Seni lah, Ekspresi lah,, saya yakin PKI dg Kominisnya akan tumbuh dan semakin besar di NKRI ini, entah besok, lusa, bulan depan, tahun depan atau sampai mungkin anak cucu kita nanti yang merasakan bahkan bertempur melawan adanya kebesaran PKI di Indonesia akibat kita generasi sekarang yg dengan mudah membiarkan hidup.

    Jadi mohon ustad Buya yang saya hormati untuk bisa ikut merasakan kekhawatiran serta keresahan warga indonesia..

    Semoga Buya bisa bisa mengklarifikasi 2 masalah ini, agar kami warga Muhammadiyah tidak terjebak bahkan terpecah belah pula akibat dengan maraknya informasi yang beredar khususnya di media sosial beberapa tahun terakhir ini.

    Saya berharap perjuangan Muhammadiyah bersama Amar Makruf Nahi Mungkarnya tetap berjalan lurus sesuai track dakwah Muhammadiyah yakni Alqur’an dan Hadist.

    Wassalamu Alaikum WrWb

    Fuad

  16. Menurut saya komentar kawan-kawan disini, semua benar. Karena kawan2 suami berkomentar dari sudut pandang atas dasar sejarah, ideologi dll. Tapi sekali kali kawan juga melihat dari sudut pandang politik. Ya, justru dengan sudut pandang politiklah kawa -kawan akan menemukan, apa maksud komentar buya.

    Secara kacamata politik yg dimaksud buya adalah Isu palu arit ini merupakan salah satu pengalihan publik untuk tidak mengawasi jalannya roda pemerintahan ini. Strategi dan energi kita habis dan terbuang sia-sia, sementara ada hal lain yang menjadi skala prioritas, salah satunya kesenjangan sosial. Penggusuran, perusahaan asing, dan kebijakan pemerintah yang katanya ‘Revolusi mental’ malah yg kita lihat hanya sekedar ‘Revolusi Mentel’.

    Mereka (pemerintah) berteduh diabawah isu palu arit, dengan tujuan agar publik lupa atau tak sempat mengontrol sistem tatanan pemerintah yg mereka jalankan hari ini. Karena publik dialihkam fokus dengan palu arit.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

More articles