31 C
Yogyakarta
Jumat, Agustus 14, 2020

Al-Zahrawi Bapak Ilmu Bedah Modern

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

Dakwah Kultural dengan Produksi Film Berbasis Masyarakat

MAGELANG, Suara Muhammadiyah - Ide menarik dilakukan oleh Budi Dwi Arifianto dan Zein Muffarih Muktaf, dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah...

Dosen UMY Lakukan Pendampingan Manajemen Infaq Masjid

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Program Pengabdian Masyarakat merupakan implemetasi catur dharma perguruan tinggi. Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah...

Uji Sertifikasi Kompetensi untuk Penyunting Naskah atau Editor

PURWOKERTO, Suara Muhammadiyah - Uji Sertifikasi Kompetensi Skema Penulisan buku non fiksi, Penyunting Naskah/Editor, Penyunting Substantif kerjasama Program Studi Magister Pendidikan IPS,...

Pengabdian Masyarakat, Dosen FEB UMY Suburkan KWT Amanah ‘Aisyiyah Bausasran

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Isthofaina Astuty bersama dengan Meika Kurnia Pudji RDA, dosen Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas...

Peran Penting Pemasaran Ritel Perspektif Akademisi Internasional dan Praktisi

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Guna menambah wawasan dan pengalaman praktis mahasiswa, International Program of Management and Business (IMaBs), prodi Manajemen Universitas Muhammadiyah...
- Advertisement -

Oleh;  Fikry Fachrurrizal

Al-Zahrawi alias Abulcasis adalah ilmuwan Muslim di bidang kedokteran atau medis. Ia dikenal sebagai bapak ilmu bedah modern. Seorang dokter kerajaan pada masa Khalifah al-Hakam II dari Dinasti Umayyah. Ia juga terkenal karena al-Tashrif, karya monumentalnya yang berisi ensiklopedia kedokteran lengkap. Karya yang menjadi rujukan dunia kedokteran Arab-Islam dan Barat-Eropa selama lebih dari 500 tahun.
Nama lengkapnya Abu al-Qasim Khalaf Ibn al-Abbas al-Zahrawi, disianyalir masih keturunan kaum Anshar Madinah. Ilmuwan yang dikenal Barat dengan sebutan Abulcasis ini lahir dan tumbuh di al-Zahra, kota Cordoba, Andalusia (Spanyol). Ia lahir pada tahun 328 Hijriah atau 936 Masehi. Tahun-tahun ketika kekhalifahan Umayyah sedang berkuasa.
Pada masa itu, Dinasti Umayyah, terutama Andalusia (termasuk Cordoba), sangat maju perdabannya. Menurut Amin Elgohary, ketika itu penduduk Cordoba berjumlah sekitar 1 juta jiwa. Kemudian ditunjang oleh berdirinya sekitar 200.000 rumah, 600 masjid, 900 ruang atau fasilitas publik, 107 sekolah dan sekolah tinggi, dan 300 perpustakaan yang memuat 1 juta koleksi buku. Sampai-sampai, status sosial dan kekayaan seseorang saat itu diukur dari seberapa banyak ia membaca dan memiliki buku.
Pada saat yang sama, peradaban Barat sedang tidur lelap. Sebagai perbandingan, di Roma, populasi manusia tidak lebih dari 50.000 jiwa, penduduk London hanya sekitar 18.000 jiwa. Sementara perpustakaan terbesar di Eropa saat itu, perpustakaan biara St. Gallen di Swiss, hanya mengoleksi 35 buku saja. Maka, Cordoba menjadi mercusuar keilmuan ketika itu, termasuk dunia kedokterannya.
Sebagai contoh, rumah sakit di Cordoba saat itu sudah sangat maju. Fasilitasnya sangat menunjang untuk pelayanan kesehatan. Selain memiliki bangsal terpisah antara pasien laki-laki dan perempuan, ruangan perawatan pun dipisah berdasar penyakitnya. Dilengkapi pula dengan masjid untuk pasien dan pengunjung Muslim, serta kapel bagi yang Kristiani.
Rumah sakit juga memiliki ruang konferensi dan perpustakaan. Sehingga Rumah Sakit sekaligus menjadi lembaga pendidikan kedokteran dan ilmu kesehatan lainnya. Hanya dokter dan tenaga ahli berkualitas dan berlisensi yang diizinkan melakukan praktik. Rumah Sakit juga memiliki kebijakan yang sangat memihak masyarakat: semua pasien akan dirawat sampai benar-benar pulih, dan seluruh biaya pengobatan ditanggung pihak Rumah Sakit. Dalam kondisi yang demikian maju itulah al-Zahrawi berkarir.
Kondisi yang demikian maju, memberikan peluang besar kepada al-Zahrawi dalam mengembangkan ilmu kedokterannya, khususnya dalam hal operasi bedah. Menurut al-Zahrawi, sangat penting bagi dokter menguasai dasar-dasar anatomi dan fisiologi. Ini penting karena akan bermanfaat mengurangi risiko kegagalan operasi.
Selain pemikiran dasar tersebut, al-Zahrawi mempelopori dan menularkan cara menjahit luka dengan menggunakan dua jarum dan satu benang. Dialah yang kali pertama menggunakan benang buatan dari usus binatang untuk menjahit usus manusia. Ia jugalah yang menemukan cara terbaik dalam operasi saluran kencing. Ia menemukan teori mengeluarkan penumpukan zat kapur pada saluran kencing. Menurutnya, cara yang tepat untuk mengeluarkannya adalah dengan memecah tumpukan zat menggunakan kempa (apitan), lalu dikeluarkan sepotong-sepotong. Tidak cukup di situ, al-Zahrawi juga yang mempelopori bedah rongga pernafasan, alat pencernaan, kelahiran, tulang, gusi dan gigi, bahkan bidang farmasi.
Dedikasi yang sangat panjang terhadap ilmu kedokteran, terutama ilmu bedah, mengantarkan al-Zahrawi sebagai penemu beberapa alat bedah. Sepanjang karirnya, ia mempopulerkan 26 peralatan bedah yang tak pernah ditemukan dan digunakan para ahli sebelumnya, salah satunya adalah catgut. Alat tersebut hingga kini masih digunakan dalam operasi bedah di mana pun.
Adapun karyanya yang paling monumental, sekaligus penjelasan dari pemikiran dan karya-karyanya yang lain adalah al-Tashrif li man ‘Ajaz ‘an al-Ta’lif (Pertolongan bagi Yang Merasa Kesulitan Memahami Risalah Besar). Karya ensiklopedia kedokteran terlengkap yang mencakup semua cabang kedokteran. Sejumlah metode bedah dan alat-alatnya dijelaskan dalam buku yang rampung pada tahun 1000 Masehi ini. Buku ini menyajikan penemuan baru yang tidak pernah ada pada masanya, dan masa sebelumnya. Yakni membahas secara khusus mengenai anatomi, penyakit wanita dan kelahiran, cara mengajarkan bidan, operasi mata, operasi telinga, operasi kantong suara, operasi gigi, dan operasi tulang.
Pengaruhnya yang begitu kuat mengantarkan al-Zahrawi menjadi dokter pribadi Khalifah Abdurrahman III. Serta ditunjuk menjadi pengajar di Universitas Cordoba. Selama hidupnya, banyak orang berdatangan dari berbagai penjuru tempat untuk belajar kepada al-Zahrawi.
Al-Tashrif kemudian diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Kali pertama diterjemahkan ke dalam Bahasa Latin pada tahun 1150 oleh Gerard of Crimona, seorang penerjemah Italia. Penerjemahan tersebut menjadikan buku ini menjadi literatur paling penting dan menjadi referensi standar dalam ilmu bedah hingga akhir abad ke-18. Bahkan seorang ahli anatomi dan dokter asal Skotlandia, William Hunter (1718–1783), menggunakan manuskrip al-Zahrawi yang berbahasa Arab untuk mempelajari aneurisme di Universitas Glasgow. Guy de Chauliac (1300–1368), ahli bedah asal Prancis, pun memberikan pujian dan pengakuan lebih dari 100 kali dalam bukunya.
Temuan-temuan al-Zahrawi yang lain juga masih dinikmati orang sampai saat ini. Kosmetik seperti deodorant, handbody lotion, dan pewarna rambut, yang berkembang hingga kini adalah karya al-Zahrawi. Bahkan temuannya berupa lipstik masih bertahan hingga kini tanpa berubah bentuk.
Setelah berkarir selama lebih dari 50 tahun, dengan beragam prestasi, karya, dan pemikirannya, al-Zahrawi akhirnya tutup usia. Ia wafat tahun 1013 di Cordoba, pada usianya 77 tahun. Dunia kedokteran hingga hari ini masih menjadikan al-Zahrawi dan pemikirannya sebagai kiblat ilmu bedah. Terjemahan karya-karya al-Zahrawi ratusan tahun pasca wafatnya beserta temuan-temuannya masih digunakan hingga kini. Meski Cordoba kini tidak lagi menjadi kawasan Muslim, namun nama al-Zahrawi masih besar dan diabadikan menjadi nama jalan di sana, sebagai bentuk penghormatan, yakni calle albucasis. Di jalan tersebut ada bangunan dengan nomor 6, di situlah tempat tinggal al-Zahrawi. Kini, rumah itu menjadi cagar budaya yang dilindungi Dinas Pariwisata Spanyol.•
_________________________
Fikry Fachrurrizal, Alumnus Pesantren Amanah Muhammadiyah Tasikmalaya, kini tinggal di Yogyakarta.

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
- Advertisement -

More articles