24.4 C
Yogyakarta
Rabu, September 23, 2020

Suasana Brexit Ingatkan Suasana Padang Mahsyar

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

Unismuh Persiapkan Pendirian Program S3 Ilmu Pendidikan

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah – Satu lagi langkah inovasi yang dilakukan Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar dalam upaya mencapai kampus terkemuka dan unggul. Penghujung...

Tiga Ilmu Menjadi Pribadi Terbaik Menurut Rektor UMP

PURWOKERTO, Suara Muhammadiyah - Masa orientasi studi dan Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Banyumas Jawa Tengah dikemas...

Haedar Nashir: Bermuhammadiyah, Ikuti Koridor Organisasi

Muhammadiyah itu organisasi besar yang berdiri tegak di atas sistem, dengan amal usaha dan jaringan yang luas. Kekuatan Muhammadiyah berada dalam sistem,...

MIM Kenteng Gunakan Media Pembelajaran Berbasis Dakwah Budaya

KULON PROGO, Suara Muhammadiyah – Menciptakan madrasah berbudaya sesuai dengan visi MI Muhammadiyah Kenteng. Dimuai dari para pendidiknya sebagai dasar penguatan madrasah...

Haji Muharram: Tokoh Muhammadiyah – Bupati Berau Meninggal Dunia

BERAU, Suara Muhammadiyah -  Innalillahi wa innailaihi rajiun, kabar duka dari keluarga besar Muhammadiyah Berau, Kalimantan Timur, Bupati Berau yang juga tokoh...
- Advertisement -

Oleh: Lutfi Effendi

Hari  ‘Idul Fitri 1437 H  tahun ini trending topiknya adalah Brexit/Brebes Exit. Dimana kemacetan yang terjadi luar biasa yang memicu kelelahan para pemudik. Pemudik di Brexit ini menjadi korban karena kesiapan jalan tol baru yang belum memadai.

Pom Bensin belum ada, sehingga dalam kemacetan yang luar biasa ini banyak yang kehabisan bensin. Dan ini tentu menambah macetnya jalan. Mereka pun harus merogoh saku yang berlipat-lipat untuk membeli bensin  dari penjual bensin eceran.

Belum ditambah korban kelelahan akibat jalan yang macet total tersebut. Belasan orang meninggal dunia akibat kelelahan yang amat-amat sangat.

Kondisi ini memicu orang untuk saling menyalahkan.  Pejabat yang berwenang menyalahkan pemudik, Begitu pula pemudik menyalahkan pejabat yang berwenang,

Salah satu keluhan pemudik yang merasa disalahkan adalah sebagai berikut: “Saya cukup kesal dengan orang-orang / pejabat-pejabat yang malah menyalahkan pemudik dalam kasus macet nya tol Palimanan Brebes. Ia kemudian menuliskan beberapapoin untuk menjawab tuduhan tersebut:

  1. Untuk orang yang menyalahkan pemudik karena berangkat bersamaan/mepet lebaran,harusnya berangkat 1 minggu sebelum lebaran saya jawab : libur yang diberikan mulai 2 juli artinya cuma 4 hari sebelum lebaran,artinya jawab sendiri ya.
  2. Untuk Menteri Perhubungan yang mengatakan bahwa 12 jam tidak mungkin dehidrasi,karena puasa pun 12 jam, jadi kalau sehat gak mungkin ada masalah, saya jawab : kondisi orang puasa, dia bisa mengkondisikan suasana, badan lelah bisa masuk kamar untuk tidur, bosen bisa jalan-jalan kesana kemari, panas bisa berteduh, tapi kalau orang yang terjebak macet kondisinya jauh berbeda, tidak bisa bebas bergerak karena posisi duduk, mau keluar mobil panas terik karena di tol, asap kenalpot yang tidak bsa dihindari, yang akhirnya berdampak pada psikologis,kelelahan dsb, artinya..jawab sendiri
  3. Untuk Kapolri yang menyalahkan pemudik menggunakan bahu jalan sehingga polisi dan ambulan sulit masuk ke tol, saya jawab : arah Brebes menuju Cirebon sangat kosong, saya rasa polisi dan ambulan bisa memanfaatkan jalur itu untuk memberikan bantuan,karena polisi punya kewenanagan untuk melakukan rekayasa lalulintas ketika keadaan yang memang diperlukan, contoh : moge aja boleh masuk jalan tol (padahal motor ga bisa masuk tol)
  4. Terakhir kepada yang terhormat Presiden RI, yang menyatakan bahwa macet ini dikarenakan keterlambatan pembangunan selama 8 tahun yang lalu, saya jawab : maaf pa, macet parah ini baru terjadi tahun ini, yaitu tahun bapak jadi presiden, karena sebelumnya tidak, jadi mohon maaf saya sebagai rakyat bapak, memohon ke bapak untuk stop menyalahkan masa lalu, tapi fokus memperbaiki
  5. Terakhir kepada masyarakat yang bilang, salah sendiri ngapain mudik segala, saya jawab : libur ini kesempatan kami berkumpul dengan keluarga besar setelah 1 tahun berpisah, dan kami pun hanya bertemu 1 tahun sekali, kami orang pribumi,masih menghargai persaudaraan.

Kondisi Brexit  ini dapat dipakai sebagai pelajaran bagi pemudik dan pengemban kebijakan di kemudian hari. Tetapi bagi umat beragama. kondisi ini dapat mengingatkan pada Kemacetan di Padang Mahsyar.

Kemacetan di Pejagan mencapai 30 km dan Brebes 6 km, cukup melelahkan dan sampai menelan korban jiwa. Tidak terbayang betapa lelahnya berada di tengah kemacetan berjam-jam, maju tidak bisa mundur tidak bisa, sulit memperoleh supply air dan makanan, minimnya oksigen untuk bernafas. Kondisi Brexit ini memberi ilham keakhiratan :

Begitu takut jika mengalami kemacetan di Padang Mahsyar…!!

Coba hadirkan suasana Yaumil Mahsyar kelak, saat Allah Subhanahu wa Ta’ala menghimpun ratusan bahkan ber juta-juta trilyun manusia dalam satu lokasi. Saat kaki tidak bisa bergerak kesana kemari kecuali hanya bisa menunggu dan menunggu giliran, saat amalnya dihisab.

Saat itulah gambaran macet total milyaran manusia tak berpakaian tak beralas kaki sangat mungkin terjadi. Bahkan mungkin saling salah menyalahkan diantara mereka bisa terjadi. “Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: ‘Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia’.” (Al Furqaan: 27-29)
Tentang kemacetan di Padang Mahsyar ini Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

“Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan kemana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya”. (HR Tirmidzi dan ad Darimi)

Saat hari mengerikan itu tiba : peradilan yang adil tanpa suap dan gratifikasi, hari dimana seluruh wajah tertunduk, berhadapan hanya sang hamba dengan Rabb-nya saja. Mereka semua hanya menanggung kesalahannya sendiri dan membawa amal-amalnya sendiri untuk dinilai oleh Maliki Yaumiddin dalam penantian di Padang Mahsyar.

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

More articles