30.6 C
Yogyakarta
Rabu, September 23, 2020

Laut China Selatan Jadi Trending Topic Pasca Keputusan Denhag

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

Unismuh Persiapkan Pendirian Program S3 Ilmu Pendidikan

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah – Satu lagi langkah inovasi yang dilakukan Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar dalam upaya mencapai kampus terkemuka dan unggul. Penghujung...

Tiga Ilmu Menjadi Pribadi Terbaik Menurut Rektor UMP

PURWOKERTO, Suara Muhammadiyah - Masa orientasi studi dan Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Banyumas Jawa Tengah dikemas...

Haedar Nashir: Bermuhammadiyah, Ikuti Koridor Organisasi

Muhammadiyah itu organisasi besar yang berdiri tegak di atas sistem, dengan amal usaha dan jaringan yang luas. Kekuatan Muhammadiyah berada dalam sistem,...

MIM Kenteng Gunakan Media Pembelajaran Berbasis Dakwah Budaya

KULON PROGO, Suara Muhammadiyah – Menciptakan madrasah berbudaya sesuai dengan visi MI Muhammadiyah Kenteng. Dimuai dari para pendidiknya sebagai dasar penguatan madrasah...

Haji Muharram: Tokoh Muhammadiyah – Bupati Berau Meninggal Dunia

BERAU, Suara Muhammadiyah -  Innalillahi wa innailaihi rajiun, kabar duka dari keluarga besar Muhammadiyah Berau, Kalimantan Timur, Bupati Berau yang juga tokoh...
- Advertisement -

DENHAG, suaramuhammadiyah.id. Laut  China Selatan menjadi tranding topic setelah Peradilan Internasional di Denhag memenangkan Philipina atas klaim China selama ini, bahwa hampir seluruh kawasan Laut China Selatan menjadi milik kekuasaan China. Pengadilan Denhag mementahkan klaim China tersebut, bahwa secara kesejarahan China tak memiliki bukti melakukan kontrol eksklusif atas perairan atau sumber daya alam Laut China Selatan.

Atas hasil pengadilan ini, menurut Kantor Berita China Xinhua, China merasa disakiti dan mengatakan tidak terikat akan keputusan itu. China tetap mengklaim hampir semua Laut Cina Selatan, termasuk terumbu karang dan pulau-pulau yang juga diklaim oleh orang lain adalah milik mereka.

Pengadilan di Den Haag mengatakan, China telah melanggar hak-hak kedaulatan Filipina. Ia juga mengatakan China telah menyebabkan “kerusakan parah pada lingkungan terumbu karang” dengan membangun pulau-pulau buatan.

Keputusan itu datang dari pengadilan arbitrase di bawah Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS), yang kedua negara telah menandatangani. Putusan mengikat keduanya, tetapi tidak memiliki kekuatan penegakan.

Selain memutuskan sengketa antara China dan Philipina yang dimenangkan Philiphina, pengadilan juga membuat peta kekuasaan negara-negara di sekitar Laut China Selatan atas kawasan Laut China Selatan. Ternasuk di dalamnya kekuasaan Indonesia atas sebagian wilayah Laut China Selatan.

01-south-china-Sea-claims

garis merah: klaim kekuasaan china atas Laut China Selatan

garis biru: batas-batas kekuasaan negara-negara di sekitar Laut China Selatan atas kawasan Laut China Selatan.

Hal ini diperkirakan akan membuat ketegangan baru di Laut China Selatan. Sebab AS mengirim sebuah kapal induk dan jet tempur ke wilayah tersebut menjelang putusan. Ini mendorong sebuah editorial marah di Global Times, sebuah surat kabar yang dikelola negara sangat nasionalis, menyerukan AS untuk mempersiapkan “konfrontasi militer”  di Laut China Selatan (le).

- Advertisement -

3 KOMENTAR

  1. Syukur, walaupun namanya Laut China Selatan, China dikalahkan Philipina.
    Makanya China banyak bergerilya semua aspek di Indonesia, karena China sudah tidak bisa mbangun reklamasi di Laut China Selatan.

  2. Indonesia jangan lengah, karena banyak aset china yang ada di indonesia, dengan di permudahnya utang-utang luar negeri yang nantinya bisa di manfaatkan bangsa asing untuk mengeruk kekayaan alam yang ada di indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

More articles