KRH Hadjid Sang Pejuang (1)

M Muchlas Abror Dok SM

Oleh; M Muchlas Abror

KRH HADJID lahir di Kauman, Yogyakarta, tanggal 29 Agustus 1898. Ayahnya bernama RH Djaelani, salah seorang penandatangan akta pendirian organisasi Muhammadiyah pada tahun 1912. Bahkan, ia termasuk menjadi Anggota Pimpinan Muhammadiyah pada periode pertama yang diketuai oleh KH Ahmad Dahlan. Sedangkan ibunya bernama R Nganten Muhsinah. KRH Hadjid sesuai harapan dapat melanjutkan perjuangan ayahnya. Tentu menurut  kecakapan, bakat, dan bidang keahliannya. Ia dikaruniai umur panjang, 79 tahun, dan dapat mengisi serta memanfaatkannya secara baik untuk beramal, berdakwah, dan berjuang. Ia memiliki keberanian, ketangguhan, kegigihan, keuletan, kesabaran, dan ketulusan berjuang melalui Muhammadiyah sampai akhir hayat.

Anak bernama Hadjid ini mulai mengenyam pendidikan formal dari SR atau SD. Setelah itu, meski masih bocah, ia oleh ayahnya diajak ke Makkah berhaji disamping belajar agama. Kembali dari Tanah Suci, ia masuk Pondok Jamsaren, Surakarta, untuk mengikuti pendidikan di Madrasah Menengah Jamsaren (1910 – 1913). Dengan maksud untuk meningkatkan ilmu pengetahuan agamanya, ia melanjutkan belajar ke Pondok Tremas, Pacitan, Jawa Timur. Paling tidak ada tiga temannya dari Kauman, Yogyakarta, yang menuntut ilmu di Pondok Tremas. Mereka adalah Basyir (ayah Ahmad Azhar Basyir, MA), Wahid (ayah Ir Basit Wahid), dan Ahmad Badawi (ayah Mh Jaldan Badawi). Setelah tiga tahun (1913 – 1916) di Pondok Tremas yang jauh dari keramaian, berikutnya ia memburu ilmu di kota yang penuh keramaian, yakni Jakarta. Ia masuk Madrasah Al-Atas Jakarta selama dua tahun, 1916 – 1917. Teman dari Yogyakarta yang menuntut ilmu di Madrasah ini antara lain Wasool Dja’far, teman sekampung.

Setelah menimba ilmu dari satu kota ke kota lain, Hadjid kembali ke Yogyakarta. Apalagi ia telah mendengar dari ayahnya sendiri bahwa di Yogyakarta telah berdiri Muhammadiyah. Pendirinya ialah KH Ahmad Dahlan. Ayahnya pun telah memberitahukan kepadanya bahwa ia menjadi seorang pendukung utama cita-cita dan paham KH Ahmad Dahlan. Bahkan, ia menjadi Anggota Pimpinan Muhammadiyah yang diketuai oleh KH Ahmad Dahlan. Meski baru beberapa tahun, Muhammadiyah terus dan cepat berkembang. Tidak berlebihan bila ia berharap agar anaknya itu mengikuti jejaknya dan dapat meneruskan perjuangan Muhammadiyah.

Baca Juga:   Kelesuan Ghirah?

Pemuda Hadjid di kampung halamannya memanfaatkan dan mengisi waktu secara baik. Terus meningkatkan kualitas diri. Agar memiliki kemampuan dalam berdaya saing. Kuncinya, ia harus mendekat dan berguru kepada KH Ahmad Dahlan. Dari berguru yang ia tekuni dengan ketulusan, ia merasa dibangunkan dari kepulasan tidur. Ia dibangkitkan untuk bersadar diri pentingnya hidup bertauhid yang murni, jauh dari syirik. Menurut penilaiannya, KHA Dahlan sangat cerdas dan cermat menghubungkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan realita masyarakat di sekitar.Kita perlu mengaplikasikan ayat-ayat al-Qur’an dengan amal-amal nyata dan bermanfaat bagi masyarakat. Dengan berguru kepada KHA Dahlan, ia merasa menemukan sesuatu yang baru dan dalam, baik dalam penghayatan agama maupun praktik pengamalannya. Sungguh, ia beruntung bertemu dan berguru kepada KHA Dahlan.  Sebab, ia merasa hidupnya tercerahkan. Tidak hidup dalam gelap, tapi hidup dalam terang, hidup yang berkemajuan.

Menikah dengan sesama kader

RH Hadjid bin Djaelani membangun hidup berumahtangga pada usia 20 tahun. Gadis yang dipersunting untuk menjadi isterinya bernama Rr Siti Wasilah binti RH Ahyat. Pernikahan berlangsung tanggal 19 Januari 1918 secara khidmad dan sederhana. Sebenarnya, RH Hadjid dan Siti Wasilah masih ada hubungan saudara, yakni saudara sepupu. Sebab, RH Djaelani dan RH Ahyat adalah kakak-beradik. Selain kerabat famili, waktu pernikahan, juga hadir KH Ahmad Dahlan. Apalagi sepasang mempelai itu adalah sama-sama murid dan kader KH Ahmad Dahlan.
Siti Wasilah adalah murid perempuan pertama di Sekolah Qismul Arqa’ yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan.

ekolah itulah yang menjadi cikal bakal dan kemudian bernama Madrasah Mu’allimat Muhammadiyah. Menurut ibu Badilah Zuber, murid KHA Dahlan dan pernah menjadi Ketua PP ‘Aisyiyah, Siti Wasilah adalah murid perempuan yang memiliki catatan lengkap ajaran KH Ahmad Dahlan. Maka kita dapat memahami mengapa KH Ahmad Dahlan menunjuk Siti Wasilah menjadi Ketua Siswo Proyo yang pertama. Siswo Proyo ini kemudian menjadi Nasyiatul ‘Aisyiyah. Bersambung

Baca Juga:   Praktis Membaca Majalah dengan SM Digital