25 C
Yogyakarta
Kamis, September 24, 2020

“Aleppo: Kami Tidak Ingin Airmata”

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

Baitul Arqam UMTS Digelar Daring, Perpanjang Penerimaan Mahasiswa

PADANGSIDEMPUAN,  Suara Muhammadiyah – Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan (UMTS) menggelar kegiatan Baitul Arqam.  Kegiatan pengkaderan yang diikuti 637 mahasiswa itu berlangsung 22-24...

Unismuh Persiapkan Pendirian Program S3 Ilmu Pendidikan

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah – Satu lagi langkah inovasi yang dilakukan Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar dalam upaya mencapai kampus terkemuka dan unggul. Penghujung...

Tiga Ilmu Menjadi Pribadi Terbaik Menurut Rektor UMP

PURWOKERTO, Suara Muhammadiyah - Masa orientasi studi dan Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Banyumas Jawa Tengah dikemas...

Haedar Nashir: Bermuhammadiyah, Ikuti Koridor Organisasi

Muhammadiyah itu organisasi besar yang berdiri tegak di atas sistem, dengan amal usaha dan jaringan yang luas. Kekuatan Muhammadiyah berada dalam sistem,...

MIM Kenteng Gunakan Media Pembelajaran Berbasis Dakwah Budaya

KULON PROGO, Suara Muhammadiyah – Menciptakan madrasah berbudaya sesuai dengan visi MI Muhammadiyah Kenteng. Dimuai dari para pendidiknya sebagai dasar penguatan madrasah...
- Advertisement -

“Kami tidak ingin air mata, simpati, atau bahkan doa-doa…” itulah penggalan surat yang dikirimkan kepada Barack Obama, Presiden Amerika Serikat. Surat itu dikirim para dokter yang bertahan di Aleppo sebagai bentuk protes atas janji-janji yang diberikan Amerika bahkan dunia kepada Aleppo.

Bukan tanpa sebab para dokter di Aleppo mengirimkan surat protesnya. Perang antara rezim pemerintah Suriah dan pihak oposisi yang belakangan semakin memanas telah mengakibatkan warga sipil di Aleppo mengalami krisis. Selain kurangnya makanan,  banyaknya rumah sakit yang diserang bom mengakibatkan warga kekurangan obat-obatan.

Ditambah lagi pasokan listrik yang terputus serta pompa air yang rusak (10/8/16). Kerusakan pompa air setidaknya mengakibatkan 2 juta rakyat Aleppo terancam jiwanya. Kerusakan pompa tersebut diakibatkan oleh serangan udara koalisi Rusia dan Bashar Al Assad.

Bangunan yang hancur, darah bahkan kematian menjadi pemandangan yang sangat biasa di Aleppo.  Tidak hanya orang dewasa, anak-anak kecil pun tak luput menjadi korban. Anak-anak yang tidak mengerti apa-apa tersebut dipaksa ikut menjadi tumbal konflik kepentingan ini.

Perang Agung Aleppo yang dikumandangkan pihak oposisi telah mulai memanas sejak Minggu, 31 Agustus 2016. Jatuhnya distrik Remousheh—basis pasukan pemerintah terkuat—ke tangan kubu oposisi mengantarkan terbebasnya wilayah Aleppo Timur dari kepungan pemerintah. Namun, bukan berarti perang telah usai, adanya perebutan distrik terkuat ini justru mengakibatkan perang semakin membesar.

Syirian Observatory For Human Rights (SOHR) merilis, dalam 15 hari terakhir ada 327 warga sipil yang menjadi korban dalam pertempuran di Aleppo, Suriah. Baik dari pihak oposisi maupun pemerintah bertanggungjawab atas jatuhnya korban-korban tersebut.

Selama lima tahun, yakni sejak akhir tahun 2011, perang Suriah setidaknya telah menewaskan 470.000 jiwa, 4.700 jiwa diantaranya adalah warga sipil yang tewas akibat serangan jet tempur koalisi Amerika Serikat. Sebanyak 95% serangan dilakukan oleh jet tempur AS.

Sayangnya, pihak pemerintah yang seharusnya mengamankan warga sipil ikut menyerang warga sipil yang berada di Aleppo. Penyerangan dilakukan pada daerah-daerah yang sebenarnya terdapat banyak warga sipil berdiam. Wilayah-wilayah publik seperti terminal bus dan tempat berkumpul penduduk menjadi sasaran serangan pasukan Bashar Al Assad ini.

Rusia yang menjadi koalisi pemerintahan rezim Bashar Al Assad juga diketahui menyerang rumah sakit, dimana banyak terdapat anak-anak dan warga sipil. Hancurnya rumah sakit akibat serangan Rusia ini juga berimbas pada kurangannya obat-obatan dan fasilitas kesehatan di Aleppo Timur.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)  mendesak adanya gencatan senjata, minimal 48 jam untuk mengirimkan bantuan bagi warga sipil. Gencatan senjata selama tiga jam yang dikeluarkan pihak militer Rusia tersebut disiarkan oleh BBC. Mulai kamis, 11 Agustus 2016, selama tiga jam setiap harinya serangan akan dihentikan sejenak dan bantuan akan dikirimkan, namun kantor berita Suriah—SANA—sama sekali tidak menyebutkan perihal jeda kemanusiaan ini.

Sebenarnya gencatan senjata yang diberikan oleh Rusia selama tiga jam sejak pkl.10.00-13.00 waktu setempat dirasa kurang memadai. Jika menghitung waktu keberangkatan truk pembawa makanan dan obat-obatan hingga sampai ke Aleppo, waktu tiga jam tentu sangat kurang. Terlebih, setelah tiga jam berlalu, warga yang telah mendapatkan bantuan makanan dan obat-obatan tersebut akan kembali dibombardir oleh tentaranya sendiri.

Gencatan senjata tiga jam itupun pada akhirnya hanya janji belaka. Pada Kamis lalu (11/8/16) baku tembak masih berlangsung. Seorang koresponden AFP mengatakan, pada kamis pagi truk pengangkut bantuan bahkan tidak dapat memasuki Aleppo karena adanya serangan bom. Hanya PMI yang berhasil masuk dengan membawa diesel sehingga aliran air bersih bisa masuk ke beberapa wilayah di Aleppo.

Wacana dan permainan politik seperti inilah yang akhirnya mendorong dokter di Suriah meminta agar Barack Obama ikut turun tangan dalam menghentikan pertempuran ini. Setiap harinya dokter-dokter tersebut harus melihat anak-anak Aleppo mati tidak hanya karena serangan bom, tetapi juga karena kekurangan obat.

Dalam suratnya ditulis, tawaran terbaru terkait evakuasi yang datang dari pemerintah dan pasukan Rusia lebih menyerupai ancaman tersamar terhadap penduduk. Bagi warga sipil, tawaran itu seperti mengatakan kepada penduduk jika tidak pergi sekarang maka hadapilah nasib kalian.

Para dokter itu juga menulis mereka tak perlu lagi menceritakan kepada Barack Obama bahwa pemerintah Suriah dan Rusia melakukan kejahatan perang secara sistematis dengan menjadikan rumah sakit sebagai sasaran tembak. Tak perlu menceritakan  bahwa pasukan pemerintah dan Rusia melakukan kejahatan di Aleppo. Yang dibutuhkan Aleppo bukan simpati dan rasa kasihan tetapi tindakan Anda (Barack Obama).

Perang Aleppo ini menjadi semakin membesar dengan adanya dukungan dari Negara lain. Amerika Serikat dan Turki tentu memiliki kepentingan tersendiri hingga ikut memasok senjata bagi oposisi. Sedangkan Rusia yang tidak mau Bashar Al Assad kalah, ikut menggempur Aleppo tanpa pandang bulu, apakah korban yang diserang benar-benar pasukan pemberontak ataukah warga sipil biasa.

Pada dasarnya, keikutsertaan Rusia, Amerika, Turki, Arab Saudi dan Negara-negara lain dalam konflik Suriah ini adalah untuk menolong warga sipil yang terjebak perang dan mewujudkan perdamaian di Aleppo. Namun, sejak tahun lalu Rusia bahkan menjadi pembantu rezim Bashar Al Assad dalam menggempur pemberontak di Aleppo, termasuk juga warga sipil yang berdiam disana.

Sementara itu, menteri luar negeri Turki—Mevlut Cavusoglu—mengaku bahwa Rusia dan Turki memiliki kesamaan pandagan bahwa harus ada gencatan senjata di Suriah. Namun sebelumnya, kedua Negara ini diketahui memiliki perselisihan terkait konflik Suriah. Perselisihan tersebut selama ini ditahan karena akan mengganggu kerjasama energi kedua Negara. Selama ini, Rusia juga menuduh Turki terlibat dalam memasok senjata untuk pihak ekstremis Suriah.

Hubungan antara Turki dan Rusia memang merenggang sejak penembakan pesawat tempur Rusia pada bulan November 2015. Belakangan, hubungan antara dua Negara tersebut terlihat akan membaik. Sehingga, harapan bahwa Turki akan menjadi penengah konflik pun sepertinya mustahil.

Karena itulah, selain karena Amerika memiliki pengaruh besar di dunia Internasional, para dokter dan warga di Suriah berharap Amerika menjadi pihak yang mampu menghentikan perang. Meski Amerika tentu juga memiliki kepentingan tersendiri.

Salah seorang anggota kelompok oposisi menyatakan bahwa tidak bergabungnya Washington dalam operasi kemanusiaan Moskwa-Damaskus di Aleppo menunjukkan tujuan sebenarnya Amerika Serikat, yaitu mendukung oposisi. Namun, lebih lanjut, Tarek Ahmad mengatakan bahwa Negara-negara Barat seperti Amerika marah jika teroris sukses dilawan. Mereka membantu oposisi dan teroris untuk menciptakan kekacauan.

Inilah yang menjadikan konflik Aleppo menjadi fokus dunia. Hasil akhir dari konflik ini berpengaruh pada kepentingan pribadi beberapa Negara.

Meski perang di Aleppo begitu panas, mustahil bagi salah satu pihak untuk menguasai Aleppo secara keseluruhan melalui jalan militer. Kompromi dan perundingan semestinya menjadi jalan tengah dari konflik ini, terlebih jika melihat dampak yang ditimbulkan selama perang lima tahun terhadap warga sipil.

Namun sekali lagi, perang di Aleppo bukan sekedar kepentingan pihak oposisi atas statusnya maupun pihak pemerintah atas wilayahnya. Lebih dari itu, telah banyak negara-negara bahkan Amerika dan Rusia terlibat dalam konflik ini. Mereka tentu memiliki kepentingan masing-masing, bukan sekedar “membantu” salah satu pihak yang dibela apalagi mewujudkan perdamaian.

Sayangnya, ketika warga sipil Aleppo yang tak bisa lagi mengharapkan keamanan dari negaranya sendiri hanya bisa meminta bantuan pada Amerika. Entah mereka sadar atau sudah  terlalu letih dengan perang, seharusnya mereka tahu bahwa negara adidaya tersebut juga memiliki kepentingannya sendiri.

Rumit memang, dan kalimat itulah yang menjadikan tak banyak orang yang mau benar-benar bertindak atas nama Aleppo. Padahal dunia sendiri tahu, kondisi mereka (Aleppo) selain dipermainkan oleh perang, juga dipermainkan oleh politik dunia. (Bela Fataya Azmi)

- Advertisement -

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

More articles