24.4 C
Yogyakarta
Kamis, Agustus 13, 2020

Busyro Muqoddas: Korupsi Sama Bahayanya dengan Virus Flu Burung

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

Peduli di Masa Pandemi, KKN 062 UMY Bantu Kelompok Tani Kakao

GUNUNGKIDUL, Suara Muhammadiyah - Tim 062 Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) melakukan pengabdian masyarakat di Kelompok Tani Kakao Ngudi...

KKN 162 UMY, Gandeng UMKM Luwuk Banggai dengan Digital Marketing

LUWUK, Suara Muhammadiyah - Tim 162 Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) melakukan pengabdian masyarakat di Aulia Food. Sebuah Usaha...

UMY Songsong Kembali Perkuliahan secara Tatap Muka

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Pada Rabu, 12 Agustus 2020, Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) beserta jajarannya mulai dari dosen hangga tenaga kependidikan...

Kini Ada 80 Rumah Sakit Muhammadiyah Tangani Pasien Covid-19

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Penularan Covid-19 mengalami peningkatan yang begitu masif selama dua pekan ini di hampir seluruh tempat di Indonesia.

Selamat! Lima Proposal Mahasiswa UMTS Lolos PKM Tingkat Nasional

PADANGSIDIMPUAN, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan (UMTS) berhasil meraih 5 judul pada Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 5 (lima) bidang Tahun...
- Advertisement -

YOGYAKARTA, suaramuhammadiyah.id—Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang membidangi Kebijakan Publik Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) Busyro Muqoddas menyatakan bahwa keberadaan korupsi di Indonesia sudah sedemikian parah. Bahkan, kadar bahayanya tak kalah dibanding dengan virus mematikan flu burung.

“Korupsi di Indonesia persis flu burung. Flu burung itu satu kena, semua kena. Menular cepat sekali,” kata Busyro Muqoddas dalam acara Diskusi Berseri dan Kuliah Umum Madrasah Anti Korupsi (MAK) Kelas Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah (PW PM) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sabtu (10/9).

Menurut Busyro, pengalamannya selama empat tahun sebagai salah satu pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyiratkan bahwa korupsi telah menggerogoti negeri ini. Seperti virus, dampak dari korupsi sangat mematikan. Terlebih dilakukan secara sistemik, terstruktur dan massif. Busyro mengaku memiliki banyak data akurat tentang pernyataannya itu.

Selama di KPK pula, Busyro memetakan bahwa para aktor dan pelaku korupsi umumnya terdiri dari lima kelompok. Yaitu para komoditas bisnis, birokrat jahat, elit politik, penegak hukum serta calo atau broker yang menghubungkan empat aktor lainnya.

“Sistem kita di Indonesia sengaja dibikin menjadi dan mendukung sistem korupsi. Seperti UU partai politik, UU Pilpres, UU Pilkada, UU KPU, dan lain-lain,” kata Busyro. Kesemua Undang-Undang itu mendukung perilaku korup sejak awal. Busyro mencontohkan tentang revisi beberapa UU dilakukan dalam rangka memudahkan penyelewengan anggaran.

Bahkan, kata Busyro, para anggota DPR saat ini bisa melakukan korupsi dengan sistem silang. Ada anggota DPR yang melakukan korupsi di Dapil (daerah pemilihan) dan komisi yang bukan kewenangannya. Seperti Damayanti (politikus PDIP), kata Busyro, dapil Brebes, tapi melakukan korupsi proyek di Maluku. Demikian juga dengan komisi di DPR yang dia terlibat proyek berbeda dengan komisi yang menjadi wewenangnya.

Negara sebagai trias politika (eksekutif, lesgilatif, dan yudikatif), kata Busyro, lebih dimanfaatkan untuk distribution of power serta bagi-bagi kekuasaan dan proyek. Hal itu merusak independensi. “Penegak hukum harus independen. Jika tidak independen, jangan jadi penegak hukum,” kata mantan hakim MK itu.

Bosyro menyatakan bahwa hal yang patut diresahkan adalah fakta para anggota DPR yang dihuni oleh para pebisnis. “Hampir 70 persen DPR itu pebisnis. Otak pebisnis itu nyari untung,” katanya. Namun, Busyro tidak menyangkal bahwa segenap generasi bangsa Indonesia harus optimis dan bahu-membahu untuk menjadikan Indonesia ini terbebas dari virus korupsi. (Ribas)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
- Advertisement -

More articles