30.6 C
Yogyakarta
Kamis, Oktober 1, 2020

Jamaah Anti Korupsi Jangan Seperti Jamaah Shalat Subuh

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

Menguji Kualitas Pilkada dengan Protokol Kesehatan, Apakah Cukup?

JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Semenjak kasus pertama Covid-19 diumumkan oleh Presiden Joko Widodo pada awal bulan Maret 2020, banyak hal yang sebenarnya...

Berhasil Lampaui Target, LLHPB ‘Aisyiyah Persiapkan Keberlanjutan Program

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Menjelang pengakhiran program “Membangun Kelentingan Keluarga dan Komunitas dalam Menghadapi Masa Pandemi Covid-19”, LLHPB PP Aisyiyah mempersiapkan Exit...

Farmasi UMP Juara Nasional Karya Tulis Ilmiah

PURWOKERTO, Suara Muhammadiyah - Tim Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) berhasil meraih juarai Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional (LKTI) BRM FMIPA...

Upaya UMMAT Gelar Wisuda di Masa Pandemi

MATARAM, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT) menggelar wisuda luring (langsung), untuk angkatan 48 dan 49, Diploma dan Strata-1 (S-1). Wisudah...

Ormas Kegamaan Punya Peran Signifikan Menanggulangi Covid-19

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah- Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Badan Diklat dan Litbang Kemenag RI bekerjasama dengan Al-Wasat...
- Advertisement -

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah—Gerakan Berjamaah Melawan Korupsi yang dipelopori PP Pemuda Muhammadiyah kini telah memiliki 14 kelas yang tersebar di seluruh Indonesia. Pemuda Muhammadiyah menginginkan gerakan ini tumbuh menjamur dan menjadi gerakan cultural yang kuat dan membawa  dampak perubahan bagi bangsa Indonesia.

“Gerakan kebudayaan tidak dilakukan sendiri. Harus berkolaborasi. Termasuk dengan ICW (Indonesia Corruption Watch). Gerakan anti korupsi jangan seperti jamaah shalat subuh,” kata Dahnil ketika menjadi pembicara dalam acara wisuda santri angkatan pertama Madrasah Anti Korupsi (MAK)kelas Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah (PW PM) Daerah Istimewa Yogyakarta, di Wisma Sargede UAD, Sabtu (8/10).

Jamaah shalat subuh, kata Dahnil, selalu memiliki jamaah yang sedikit. Padahal semua orang sadar dengan keutamaan salat subuh. Namun hanya orang-orang terpilih saja yang menjalankannya. “Begitu juga dengan sikap anti korupsi dan pentingnya membangun budaya anti korupsi. Semua umat beragama maupun yang mengaku beragama, sadar betul bahayanya praktek korupsi terhadap pembangunan dan peradaban kita, tetapi sedikit yang peduli dan mau bergerak membangun budaya anti korupsi dan melawan praktek korupsi,” tuturnya.

Wisuda angkatan pertama MAK PWPM DIY meluluskan 18 santri dari awalnya 25 peserta yang mengikuti. Meskipun sedikit, Dahnil menginginkan supaya para lulusan ini bisa menjadi motor yang menggandakan dan mereproduksi gerakan berjamaah melawan korupsi. “18 ini mengajak yang lain. Sehingga menjadi jamaah salat magrib atau bahkan jamaah salat idul fitri,” ujar Dahnil.

Para lulusan, harap Dahnil harus menjadi elit yang menggerakkan komunitas lain untuk bergabung dan melakukan gerakan cultural secara massif. Hal itu dimulai dari diri sendiri. Baru kemudian dilanjutkan dengan melakukan perubahan di sekitarnya. Sehingga memberi dampak yang kuat meskipun membutuhkan waktu. Kesadaran inilah yang dibangun Pemuda Muhammadiyah melalui gerakan ayah hebat dan gerakan anti menyontek.

Dalam kesempatan itu, anggota ICW Abdullah Dahlan mengingatkan bahwa melakukan gerakan anti korupsi harus dilakukan secara bersama oleh semua elemen bangsa. Bahkan dengan melibatkan masyarakat internasional. Hal itu dikarenakan persoalan korupsi merupakan persoalan dunia dan pemberantasan korupsi juga merupakan komitmen dunia internasional (Ribas).

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

More articles