Himpunan Ilmuwan Muhammadiyah Terbentuk

JAKARTA, Suara Muhammadiyah– Kongres Ilmuwan Muhammadiyah (KIM) pertama yang digelar Rabu (14/12) di Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (Uhamka) Jakarta telah melahirkan wadah silaturahim nasional ilmuwan Muhammadiyah di luar helatan rutin Muktamar. Wadah yang diketuai oleh Prof Tono Saksono itu diberi nama Himpunan Ilmuwan Muhammadiyah (HIM).

HIM yang berada di bawah naungan Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah memilih sembilan formatur HIM sesuai kelompok keilmuan. Meliputi Studi Islam; Astronomi, Astrofisika, dan Ilmu Ruang Angkasa; Ekonomi, Keuangan dan Kebijakan Publik; Energi dan Sumber Daya Alam; Ilmu Kehidupan dan Kesehatan; Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Strategi; Teknologi dan Rekayasa; Hukum, Sejarah dan Peradaban; Teknologi Informasi dan Komunikasi; Neurosains dan Jaringan Syaraf.

Menurut Tono Saksono, sudah saatnya Muhammadiyah menginventarisasi keahlian para pakar dan ilmuwan yang tersedia di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTM-PTA) di seluruh Indonesia. Sehingga konstribusinya bisa lebih nyata untuk kemajuan bangsa.

“Hanya melalui kerja sama semacam Himpunan Ilmuwan Muhammadiyah, organisasi Islam tertua ini bisa berperan penting dalam membangun Indonesia yang berkemajuan,” kata Tono yang juga Kepala Islamic Science Research Network (ISRN) Uhamka di Jakarta, Sabtu (17/12.

Guna membangun peradaban Islam melalui pengembangan ilmu pengetahuan, kata Tono, Muhammadiyah dan PTM tidak mungkin terlalu mengharapkan bantuan pemerintah, karena energi pemerintah terkonsentrasi dalam mendongkrak kualitas perguruan tinggi negeri. Oleh karena itu, Muhammadiyah dengan segala kemandiriannya harus berlari untuk meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan.

ISRN Uhamka pada awalnya dibentuk sebagai hasil dari rekomendasi Muktamar Muhammadiyah ke-47 di Makassar pada 2015 yang menugaskan agar PP Muhammadiyah segera mengupayakan Kalender Islam Global (KIG).

“Dari sana ada pemikiran untuk membangun sebuah pusat riset yang lebih berkelanjutan. Lembaga penelitian yang terbentuk kemudian bernama ISRN. Ide awal tentang KIG tetap masuk di dalam tugas ISRN, dengan menambahkan kelompok keilmuan lainnya,” ujarnya.

Melalui forum itu, Tono mengingatkan bahwa inti integrasi antara al-Quran dan sains sesungguhnya terletak pada kemandirian ilmuwan Muslim untuk melakukan inovasi teknologi moderen yang mandiri, bukan hanya sebagai pengekor sains dan teknologi modern dari ilmuwan sekuler dan mendikotomikan antara sains dan agama.

“Integrasi antara al-Quran dengan sains selalu didambakan oleh ilmuwan Muslim akibat adanya pembangunan sains yang cenderung terpisah daripada pesan-pesan spiritual Al-Quran. Kami ingin adanya integrasi seperti yang telah dicapai oleh umat Islam pada abad pertengahan,” katanya.

Melihat potensi yang dimiliki Muhammadiyah, Tono optimis para ilmuwan Muhammadiyah yang terhimpun dalam HIM akan mampu memberikan konstribusi lebih baik lagi kedepannya. Saat ini, jumlah total mahasiswa di 177 Perguruan Tinggi Muhamadiyah-Aisyiyah di seluruh Indonesia mencapai 450 ribu, hanya sedikit di bawah California State University, Amerika Serikat, yang memiliki jumlah mahasiswa 460 ribu (Ribas).

Baca Juga:   Muhammadiyah Kurang Tegas?